Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Konsumsi Minuman Herbal, Pakar Telematika Sembuh dari Covid-19

Minggu, 9 Agustus 2020 | 22:44 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kabar mengejutkan datang dari aktivis antihoaks, Abimanyu Wachjoewidajat atau akrab disapa Abwach. Ia divonis positif Covid-19 setelah menjalani rapid test. Saat pertama divonis terinfeksi Covid-19 membuat Abwach kesal, marah, meradang sekaligus sedih.

"Kali ini membahas topik menyedihkan yang justru menimpa diri saya. Tapi saya perlu keberanian mengutarakannya kepada masyarakat karena sekarang sudah lega dan sudah sembuh. Sudah lepas dari bayang-bayang terinfeksi Korona. Dengan begitu masyarakat ikut tercerahkan dan teredukasi dari pengalaman dan cobaan saya ini,"ujar Abwach pada tayangan berjudul "Testimoni Kunci Kesembuhan Abwach Dari Mulai Dinyatakan Reaktif Saat Rapid Test" pada channel YouTubenya yang dinamakan Abimanyu Wachjoewidajat.

Pekan lalu, pakar telematika ini mengikuti rapid test,  hasilnya positif. Setelah mengetahui hasil test tersebut apakah Abwach hanya santai saja atau malah bingung. Pastinya tentu bingung, bimbang, bengong mikirin kenapa dirinya bisa terinfeksi Covid-19.

Menurut Abwach, kalau mengalami kejadian  yang tak pernah diduga seperti itu, lalu apa pilihannya. Abwach berkata, ada tiga hal yang akan dirasakan korban.

Pertama pasti marah-marah, kesal, ngamuk, padahal sudah sakit, bisa saja nularin kemana-mana karena meludah ke sana kemari. Kedua, sedih, merenung, blank. Dan ketiga, menghindar untuk kemudian sembuh.

"Lalu saya yang mana di posisi itu? saya tiga-tiganya. Beneran nih. Pertama, marah dan kesel. Marahnya karena apa, saya sudah bekerja banyak. Saya sudah do something. Saya malah sudah bikin situs info hoax, menggabungkan 12 lebih portal yang ada mengenai info hoaks. Bulan April, saya bikin juga situs new normal, biar kita bisa maju dan tercerahkan bersama, biar kita tidak putus asa, menginformasikan agenda-agenda penting sebagai panduan publik menghadapi new normal. Saya juga sharing info bisnis  yang mungkin bisa bermanfaat untuk para wiraswasta karena belasan perusahaan ikut terimbas bangkrut. Termasuk juga sharing obat-obat penangkal Covid. Segitunya sudah saya lakukan. Kemudian kenapa saya yang justru kena ya," tutur Abwach.

Bagi orang yang mengenal dirinya, pasti langsung paham. Abwach dikenal sebagai "si sumbu pendek". Artinya, pemarah.

"Kalau ditanya apakah saya sedih, iya sedih. Bisnis yang saya bangun bisa tidak berjalan. Siapa yang akan meneruskan ini, apa yang terjadi kepada keluarga saya. Walau saya tidak memikirkan keluarga saya karena anak-anak sudah mandiri, istri saya banyak yang dukung, tapi mereka tetap bagian dari keluarga saya," katanya.

Belum lagi, lanjut Abwach, dirinya memikirkan kelanjutan proyek yang sedang berjalan maupun proyek baru yang akan segera dia garap bersama timnya.

"Akhirnya saya putuskan mundur, kembali ke belakang. Dengan rasa marah saya putuskan back off. Benar-benar melakukan isolasi mandiri. Baju saya dibedakan, makanan beda, ruangan berbeda, kamar mandi beda. Saya senang diperlakukan seperti itu, sangat prudent. Itu karena saya takut keluarga tertular," tuturnya.

Akhirnya dirinya berpikir lagi, jika isolasi mandiri di rumah, Abwach tetap bertemu keluarga di titik-titik tertentu. Seperti di gerbang rumah, sofa maupun ruang keluarga. Sampai akhirnya dia putuskan keluar saja dari rumah.

Lantas bagaimana Abwach bisa recovery. Ada yang menyarankan Abwach untuk melakukan pemeriksaan lagi di rumah sakit rujukan, siapa tahu bukan karena terinfeksi Covid-19. Namun, setelah dipikir, apakah di rumah sakit sudah ada obatnya. Sebab, Covid-19 bukannya belum ada obatnya. Itu bukan hanya di Indonesia bahkan di belahan bumi pun juga belum ditemukan antivaksinnya.

Selanjutnya, kata Abwach, bila dirinya ikut test lagi belum tentu hasilnya positif,  kalau negatif lagi bagaimana? Itu artinya keluar uang Rp2 Juta tanpa kejelasan untuk biaya rapid test. 

"Sampai kawan-kawan saya menyarankan beli obat berbasis botol, obat berbasis tetes, obat berbasis kapsul. Justru semua referensi itu membuat kita semakin bingung. Saya juga diperkenalkan oleh Pak Jonatha Sofjan Hidajat atas temuan kapsul JSH Herbal-nya. Saya semakin bingung. Dalam hati berkata, kalau obat itu menyembuhkan...ok fine. Tapi kalau tidak, sudah minum tiga empat kali ternyata nggak sembuh juga. Imun sistem bukan semakin kuat, malah berbalik menyerang tubuh kita," tuturnya. 

Ia menambahkan, "kalaupun imun tubuh  menang, berhasil mengalahkan si virus, tubuh dapat membuat imun baru, kemudian terbentuklah antibody.

"Masalahnya, usia saya sudah 56 tahun agak sulit terbentuk antibody. Makanya saya harus selektif memilih obat yang akan saya minum. Kalau ternyata di minum bisa komplikasi terhadap tubuh, maka akan menyebabkan penyakit kronis," katanya.

Abwach menambahkan dari sekian banyak obat, ia harus memilih satu yang menurutnya diyakini sudah tepat. Dia pun membuat dasar yang menjadi ukuran, yakni 9 P yakni Previous back ground, Prescription, Process, Paper, Prove, Place, Prodution, Price, Practical.

"Dalam waktu empat hari setelah saya minum, saya sudah kembali sembuh dan normal seperti sedia kala. Alhamdulillah," ucapnya.

Sebagai aktivis pengolah info hoaks, ia mencari tahu apa sebenarnya itu JSH Herbal, apa kandungan di dalamnya, benarkah khasiat yang diutarakan penemunya : J Sofjan Hidajat, makanya dinamai JSH. Kemudian berapa kadar air alkali yang baik bagi tubuh. 

"Apakah setelah mengetahui semua itu langsung minum. Belum, masih harus dicari lagi informasi terkait, izin edar dari BPOM, apakah sudah memiliki nomor registrasi, yang ternyata sudah ada izin dan nomor registrasinya. Saya juga membaca artikel tentang seorang dokter bernama Dr Otto Warburg yang menuliskan tentang alkali," ucapnya.

Temuan peraih nobel tahun 1931, Dr Otto Warburg menegaskan tidak ada penyakit termasuk cancer yang dapat bertahan dalam lingkungan alkali. Kapsul JSH bukan karbon aktif murni namun telah diproses lebih lanjut sehingga larut dalam air. 

Di Riset and Development (R&D) SidoMuncul kabarnya bahkan berhasil melakukan proses dari bahan charcoal menjadi produk alkali atau PH-nya tinggi. Herbal JSH bukan karbon aktif murni sehingga kapsul JSH larut di air.

"Saya dengar dari pengakuan Pak Sofjan dan berita media dari 45 pasien, sebanyak 40 orang sudah melakukan swab positive menjadi swab negative dan telah dinyatakan sembuh setelah mengkonsumsi JSH dalam waktu 7-9 hari. Mereka kini telah dikembalikan kepada keluarga dan lingkungan serta diterima dengan baik seperti keadaan normal sebelum terinfeksi Covid-19," ungkap Abwach menirukan penuturan Sofjan Hidajat.

 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN