Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Prita Kemal Gani, Founder and CEO LSPR Jakarta, menyebutkan Lima Tantangan Komunikasi Perusahaan di Era Digital di sela HUT ke-16 Majalah MIX Marcomm yang diadakan di Auditorium London School Public Relations (LSPR) Jakarta, Rabu (26/2).

Prita Kemal Gani, Founder and CEO LSPR Jakarta, menyebutkan Lima Tantangan Komunikasi Perusahaan di Era Digital di sela HUT ke-16 Majalah MIX Marcomm yang diadakan di Auditorium London School Public Relations (LSPR) Jakarta, Rabu (26/2).

Lima Tantangan Komunikasi Perusahaan di Era Digital

Indah Handayani, Kamis, 27 Februari 2020 | 15:07 WIB

JAKARTA, investor.id — Era digital menciptakan peta media di Tanah Air semakin clutter. Hal ini dipicu oleh hadirnya beragam channel di luar media mainstream yang kerap mempengaruhi strategi komunikasi para pemilik brand.

Dalam situasi seperti ini, peran jurnalis sebagai earned media menjadi sangat penting untuk menyebarkan pesan dan informasi kepada khalayak, sekaligus memberi value dalam kampanye brand dan korporat.

Untuk mencapai tujuan itu, tentu saja penting bagi pengelola brand memahami tuntutan dan kebutuhan dari para jurnalis dalam menjalankan profesinya.

Prita Kemal Gani, Founder and CEO LSPR Jakarta, menyampaikan tantangan dan peluang bagi para praktisi komunikasi perusahaan di era digital.

Menurut dia, terdapat lima tantangan sekaligus peluang tersebut, yaitu pertama, konvergensi media tradisional dan digital; kedua, bentuk komunikasi interaktif; ketiga, informasi sekarang mengalir dengan cepat dan gratis; keempat, segala sesuatu didukung oleh teknologi; dan kelima, kecepatan perubahan dan kecepatan respon.

President ASEAN PR Network (APRN) ini menekankan bahwa aktivitas PR yang proaktif sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah brand. Terlebih di era digital yang semakin heterogen dengan tampilnya new audience, new relations, new tool, serta new standard.

“Jelas, itu menjadi tantangan bagi pengelola brand maupun praktisi komunikasi,” ujarnya di sela HUT ke-16 Majalah MIX Marcomm yang diadakan di Auditorium London School Public Relations (LSPR) Jakarta, Rabu (26/2).

Menurut dia, ada tiga strategi PR di era digital (3 PR insight on digital age) saat ini, yakni pentingnya menjalin hubungan yang baik (build important relationship); melakukan endorse melalui orang-orang yang kompeten dan memiliki kredibilitas yang baik (endorse frienship) ; serta berupaya menciptakan image brand maupun kroporat yang juga baik (build good image).

Prita juga memaparkan kompetensi yang harus dimiliki seorang PR di era digital saat ini hingga lima tahun ke depan. Kompetensi tersebut antara lain relationship skill; resources skill; management skill; leadership skill; multimedia development skill; research skill & analysis; written & verbal communications skill; multicultural & adaptable; entrepreneurial skill; serta finance & budgeting skill.

Sejumlah fakta tentang convergence media tradisional dan digital, penyampaian pesan brand dan customer yang semakin cepat, interaktif, dan semua orang bisa berkomentar di sosial media, dinilai Prita, adalah tantangan dan juga peluang.

“Yang paling penting adalah bagaiman pemilik brand dapat merancang strategi PR dengan jitu melalui orang-orang di bagian PR yang memiliki skill dan kompetensi yang andal,” imbuh Prita.

Lis Hendriani, Pemimpin Redaksi Majalah MIX, menambahkan peta media yang sekarang semakin clutter dengan kehadiran beragam channel di luar media mainstream menjadi tantangan baru bagi para praktisi komunikasi brand maupun korporat.

Jurnalis sebagai pelaku earned media, seharusnya semakin meningkatkan kompetensinya dalam membuat berita yang berimbang untuk membedakannya dengan para selebgram, endorser, atau Key Opinion Leader (KOL) yang selama ini banyak yang diperlakukan sebagai paid media oleh brand/korporat.

"Sementara pihak korporat, seharusnya lebih menghargai berita yang ditulis para jurnalis yang lebih berimbang karena value-nya lebih besar sebagai earned media," tutup dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN