Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Masyarakat sudah terbiasa dengan adaptasi kebiasaan baru. Foto ilustrasi: IST

Masyarakat sudah terbiasa dengan adaptasi kebiasaan baru. Foto ilustrasi: IST

Masyarakat Sudah Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Minggu, 29 November 2020 | 11:11 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Setelah lebih dari 8 bulan menghadapi pandemi Covid- 19, masyarakat Indonesia nampaknya telah bisa beradaptasi dengan gaya hidup normal (new normal). Hal itu ditunjukkan dengan mulai menunjukkan tandatanda survive.

Survei bertajuk ‘Dampak Pandemi Terhadap Kondisi Kesehatan Mental’ dilakukan Teman Bumil dan Populix pada pertengahan Oktober 2020 diikuti 1.230 responden, namun hanya 1.192 yang masuk kriteria untuk dianalisis.

Mayoritas adalah ibu rumah tangga yang sudah menikah dengan 1-2 anak (54%), diikuti sudah menikah namun belum punya anak (43%). Hasilnya menunjukkan, 9 dari 10 (91%) ibu rumah tangga yang mengikuti survei mengaku terdampak Covid-19. Sebanyak 643 orang (60%) mengalami masalah terbesar di sektor keuangan, 37% di sektor kesehatan terkait kecemasan terhadap Covid-19, dan hanya 3% ibu rumah tangga yang bermasalah dengan pendidikan jarak jauh untuk anak-anaknya.

Masalah keuangan yang morat marit rupanya membuat masyarakat mengalami stres. Sebanyak 56% responden mengaku stres dengan kondisi ini, bahkan sebagian (25%) memengaruhi hubungannya dengan pasangan. Gejala stres yang dialami antara lain cemas (29%), sulit tidur (18%), mudah marah (17%) dan kehilangan minat untuk mengerjakan apapun.

Namun, di balik itu ada sebagian kecil mulai membuka usaha kecil-kecilan (27%) untuk keluar dari kesulitan keuangan.

Psikolog keluarga Anna Surti Ariani mengatakan, pelan-pelan masyarakat menjadi terbiasa dengan kondisi sulit akibat pandemi, dan mulai menunjukkan tanda-tanda survive. Hal ini terlihat dari banyaknya komunitas-komunitas yang saling membeli dari usaha temannya. Model kehidupan seperti ini membantu menyelamatkan mereka dari krisis dan ini harus dipertahankan.

Secara psikologis, adaptasi terhadap kebiasaan baru ini adalah tanda menuju ke tahapan rekonstruksi emosi.

“Hal itu mengingat ada fasefase emosional dalam kebencanaan,” ungkap psikolog yang akrab disapa Nina ini dalam keterangan pers.

Di awal pandemi, lanjut Nina, emosi akan mudah terstimulasi sehingga muncul rasa cemas dan panik. Bersamaan dengan emosi yang tersulut, muncul rasa heroik, di mana banyak relawan yang saling memberikan bantuan. Ketika semua sudah dilakukan dan pandemic tak juga berakhir, emosi kembali jatuh ke titik terdalam.

Sebagian orang mengalaminya ketika korban Covid-19 semakin banyak. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai bisa menerima.

“Saat ini masyarakat tengah menuju emosi rekonstruksi. Artinya masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan barunya. Kita menyebutnya masa densitisasi emosi yakni tidak lagi mudah merasa cemas,” jelas Nina.

Meskipun begitu, Nina menegaskan rasa cemas tetap diperlukan. Tidak merasa cemas justru berbahaya karena menjadi abai. Sebaliknya cemas terlalu tinggi juga tidak baik karena beranggapan bahwa apapun yang dilakukan akan sia-sia.

Dengan mengguakan masker setiap ke luar rumah sebenarnya menunjukkan bahwa kita memiliki kecemasan (akan tertular) namun bisa beradaptasi dengan baik.

“Bagi yang tidak menggunakannya, artinya belum beradaptasi,” ujar Nina.

Nina mengingatkan nanti di bulan Januari-Maret 2021 akan ada potensi terjadi lagi penurunan emosi terkait anniversary reaction. Banyak orang yang berharap setahun setelah pandemi, kondisi akan membaik.

Jika kondisi tidak seperti yang diharapkan atau pandemi masih terus berlangsuung, sangat mungkin emosi masyarakat kembali jatuh.

“Yang harus dipertahankan adalah menghindari stres berkepanjangan. Ketika stres biasanya komunikasi dengan suami dan anak menjadi masalah, dan pada akhirnya saling menyakiti,” tutur Nina.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN