Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga Tionghoa melakukan sembahyang pada perayaan Tahun Baru Imlek 2571, di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakancana, Kota Bogor, Sabtu (25/1/2020). Foto: beritasatu.com / Vento Saudale

Warga Tionghoa melakukan sembahyang pada perayaan Tahun Baru Imlek 2571, di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakancana, Kota Bogor, Sabtu (25/1/2020). Foto: beritasatu.com / Vento Saudale

Masyarakat Tionghoa Syukuri Berkah Hujan di Bogor

Vento Saudale, Sabtu, 25 Januari 2020 | 19:27 WIB

BOGOR, investor.id – Sepanjang hari Sabtu (25/1/2020) atau bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, kawasan pecinan di Suryakancana, Kota Bogor, diguyur hujan. Namun demikian, warga Tionghoa tetap datang bersembahyang memanjatkan doa. Mereka yakin hujan di hari Imlek akan membawa keberkahan.

Pengurus Vihara Dhanagun, Kusumah atau Ayung mengatakan, warga datang ke kelenteng untuk mengucapkan syukur dan memanjatkan doa serta harapan di tahun yang baru ini.

"Ini tradisi menyambut hari raya musim semi. Mereka bersembahyang dan mengucapkan syukur kepada Tuhan," ujar Ayung ditemui Beritasatu.com.

Menurut dia, Imlek merupakan hari raya yang berawal dari rasa syukur masyarakat Tionghoa atas datangnya musim semi. Sebab musim semi dianggap membawa keberuntungan dan keberkahan berkat melimpahnya hasil panen dan juga suasananya yang indah.

“Setelah itu, muncul kepercayaan dan keyakinan bahwa hujan merupakan pertanda adanya keberuntungan. Pun pada Januari-Februari memang bertepatan musim penghujan,” jelas Ayung.

Masyarakat Tionghoa pada umumnya meyakini turunnya hujan berarti Dewi Kwan Im sedang menyiram bunga Mei Hua yang juga bisa berarti turunnya keberkahan dari langit.

Secara ritual, Imlek mulai dirayakan di hari pertama bulan pertama kalender Tionghoa, dan berakhir dengan cap go meh di tanggal ke limabelas.

Namun, sebelumnya masyarakat Tionghoa membersihkan rumah, mendekor ulang rumah, serta melunasi atau mengurangi utang. Membersihkan rumah, misalnya, mengandung makna rumah akan bersih dari keburukan dan siap menerima keberuntungan di tahun baru.

Ayung bercerita, tradisi pada hari pertama Sin Nien atau tahun baru, masyarakat Tionghoa melakukan sembahyang pada leluhur, dan tak lupa menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar.

“Yang tak punya altar di rumah pergi ke kelenteng terdekat untuk sembahyang, mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun,” paparnya.

Setelah itu mereka memberikan hormat kepada orangtua, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat.

Banyak pantangan yang tak boleh dilakukan pada hari tersebut. Menyapu dan membuang sampah konon akan mengusir rezeki ke luar dari rumah.

Mereka juga tak boleh memecahkan piring. Jika tak sengaja memecahkannya, mereka harus cepat-cepat mengucapkan sue sue phing an, yang artinya setiap tahun tetap selamat.

Hari kedua, adalah saat hue niang cia atau pulang ke rumah ibu. Perempuan yang sudah menikah membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpao (kantong merah kecil yang berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi, angpao atau hung pau juga diberikan kepada anak-anak dan orangtua.

“Pada hari ketiga, mereka lebih banyak tinggal di rumah, tanpa melakukan banyak perjalanan dan aktivitas hingga puncak perayaan cap go meh di hari ke limabelas,” tutup Ayung.

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN