Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Acara Plastic Reborn #BeraniMengubah membahas secara mendalam ekonomi sirkular dengan konsep kolaborasi melalui PRO (Packaging Recovery Organization) pada Kamis (5/12) di Jakarta.

Acara Plastic Reborn #BeraniMengubah membahas secara mendalam ekonomi sirkular dengan konsep kolaborasi melalui PRO (Packaging Recovery Organization) pada Kamis (5/12) di Jakarta.

Peluang dan Tantangan PRO di Indonesia

Kamis, 5 Desember 2019 | 19:29 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Indonesia saat ini tengah mendorong penerapan ekonomi sirkular sebagai salah satu wujud pendekatan pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Salah satu upaya dalam melakukan percepatan tersebut, pihak swasta pun dapat turun tangan dengan membentuk Packaging Recovery Organization (PRO). Hal itulah yang tengah diupayakan oleh Coca-Cola bersama dengan Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE).

Public Affairs and Communications Director PT. Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo mengatakan perusahaanya menyadari permasalahan sampah kemasan membutuhkan kerjasama dan dukungan dari semua pihak.

Berbagai program sudah dilakukan oleh pihajnya untuk bisa memahami permasalahan manajemen sampah, pada 2017 Coca-Cola mengumumkan visi dan misi “World Without Waste” sebagai komitmen dalam penyelesaikan permasalahan kemasan paska konsumi.

Di Indonesia, lanjut Triyono, pihaknya melakukan kolaborasi serta kajian untuk mendukung program pemerintah dalam menangani sampah kemasan diantaranya dengan melalui program Plastik Reborn 1.0 dan 2.0.

Dalam menjalankan visi World Without Waste, pihaknya memiliki komitmen berkelanjutan terhadap bisnis yang dijalankan secara positif dan bertanggung jawab.

"Kami melihat kemasan paska konsumsi merupakan sumber daya bernilai tinggi yang memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan bagi Indonesia pada tahun 2030.”," ungkapny di Jakarta, Kamis (5/12).

Acara Plastic Reborn #BeraniMengubah membahas secara mendalam ekonomi sirkular dengan konsep kolaborasi melalui PRO (Packaging Recovery Organization) pada Kamis (5/12) di Jakarta.
Acara Plastic Reborn #BeraniMengubah membahas secara mendalam ekonomi sirkular dengan konsep kolaborasi melalui PRO (Packaging Recovery Organization) pada Kamis (5/12) di Jakarta.

Menurut Triyono, upaya mempercepat ekonomi sirkular diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik konsumen, masyarakat, pemerintah dan industri. Coca-Cola Indonesia, sebagai anggota PRAISE, menginisiasi PRO untuk kolaborasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan terutama sebagai salah satu solusi penanganan kemasan paska konsumsi di Indonesia. Konsep PRO adalah sebuah pendekatan yang telah berhasil dilakukan di beberapa negara, baik negara berkembang ataupun negara maju.

"Sebu di Meksiko, Afrika Selatan, dan Eropa. PRO telah mampu menghubungkan rantai value chain dalam ekonomi sirkular dengan lebih efektif, sehingga dapat meningkatkan tingkat pengumpulan dan pendaur ulangan kemasan paska konsumsi," paaprnya.

Triyono menyebutkan misalnya industri manufaktur akan memikirkan desain ulang kemasan agar lebih mudah untuk di daur ulang serta penerapan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, penerapan insentif pada titik-titik dalam mata rantai pengumpulan kemasan paska konsumsi untuk meningkatkan pengumpulan, mendorong penguatan iklim investasi industri daur ulang serta regulasi pemilahan dan pengelolan sampah, bahkan bukan hanya itu, konsumen juga bertanggung jawab untuk mengembalikan kemasan paska konsumsi di tempat-tempat pemungutan sampah yang telah tersedia.

Lebih lanjut Triyono menjelaskan dalam model ekonomi sirkular, plastik kemasan paska konsumsi di lihat sebagai material yang dapat digunakan berulang kali, baik melalui closed loop seperti dari botol menjadi botol kembali (RPET bottles) ataupun open loop dari botol menjadi berbagai bentuk lain seperti pakaian, sepatu, tas dan lain-lain.

"Kami targetkan PRO akan terbentuk paling lambat pada awal 2020. Pada tahap awal, kami akan mebentuk di dua daerah. Tahun pertama, kami baru akn melihat kondisi. Tahun depanya baru akan ekspansi," jelas dia.

Kasubdit Industri Plastik dan Karet Hilir, Kementerian Perindustrian Rizky Aditya Wijaya, menjelaskan pemerintah mendukung inisiatif PRO sebagai model penanganan kemasan plastik paska konsumsi, kami melihat peluang pengembangan industri daur ulang plastik di Indonesia dinilai masih besar.

"Mengingat daur ulang sampah rumah tangga masih berada di level 15,22%," jelas dia.

Apabila kemasan plastik paska konsumsi dapat dikelola dengan baik dan dioptimalkan maka produksi daur ulang plastik bisa mencapai 2 juta ton per tahun dari kapasitas saat ini yaitu 1,3 juta ton. Dengan daya serap 3,36 juta pekerja dari sektor informal seperti pemulung dan pengepul, industri daur ulang memiliki nilai tambah sebesar Rp 10,575 triliun per tahun dan dinilai mampu menggerakkan perekonomian negara sebagai salah satu jalan menuju ekonomi sirkular.

Di Indonesia, tantangan pengolahan kemasan paska konsumsi dimulai dari pengumpulan serta pemilahan/segregrasi di sampah rumah tangga. Berdasarkan indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 yang menyebut 72% orang Indonesia tidak peduli akan sampah. Sementara pertumbuhan infrastruktur dan industri daur ulang tidak sepadan dengan pertumbuhan konsumsi dan pembangunan ekonomi.

Sehingga diperlukan kerjasama dari semua pemangku kepentingan, baik masyarakat, industri dan pemerintah untuk berkolaborasi dalam pengolahan kemasan plastik paska konsumsi (ESR – Extended Stakeholders Responsibility).

Model PRO memberikan peluang ekonomi sirkular yang lebih baik dengan membangun dan mengoptimalkan sistem daur ulang saat ini yang artinya inklusif dari sektor informal, meningkatkan kualitas daur ulang dan mendukung partisipasi yang lebih besar.

“Sebagai industri, harapan kami pemerintah melalui regulasi dapat mendorong partisipasi aktif para pelaku persampahan di setiap daerah untuk memulai langkah kecil mewujudkan PRO dalam konteks Indonesia agar dapat mendukung pencapaian agenda nasional terkait pengurangan dan penanganan sampah,” tutup Triyono.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN