Menu
Sign in
@ Contact
Search
Orang lanjut tua (lansia) di Indonesia. Foto ilustrasi: IST

Orang lanjut tua (lansia) di Indonesia. Foto ilustrasi: IST

Penyebab Lansia Kerap Kehilangan Selera makan

Senin, 15 Agustus 2022 | 04:30 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

YOGYAKARTA, investor.id – Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh para lanjut usia (lansia) adalah kehilangan selera makan. Padahal, selera makan membantu dalam pemenuhan asupan gizi yang baik, yang berujung pada perbaikan kondisi fisik dan kualitas hidup lansia. Lalu apa penyebab lansia kerap kehilangan selera makan?

Kepala Dinas Sosial DIY Endang Patmintarsih SH MSi menjelaskan, Seiring penambahan usia, lansia memiliki kemunduran, terutama dari sisi kesehatannya. Namun berapapun usia seseorang, gizi yang baik diperlukan untuk tumbuh sehat. “Orang yang lanjut usia cenderung mengalami penurunan pada kepekaan indra perasa, sehingga kerap kehilangan selera makan,” ungkapnya dalam keterangan pers, Minggu (15/8/2022).  

Buruknya, lanjut dia, karena kurangnya kepekaan indra perasa, sering kali garam cenderung ditambahkan pada makanan. Padahal garam adalah komponen yang perlu dibatasi terutama untuk mereka yang berusia lanjut. “Selain pola makan yang tidak sehat, kurang serat, dan tinggi lemak, garam menjadi salah satu pemicu hipertensi,” tambahnya.

Baca juga: Penelitian: Asam Amino Glutamat Bantu Lansia Tingkatkan Kualitas Hidup

Seperti yang dicatat dalam Riskesdas 2018, risiko menderita penyakit degeneratif (kanker, stroke, penyakit ginjal, diabetes mellitus, jantung, dan hipertensi) di tahun 2018 menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun 2013. Salah satu faktor penyebab hipertensi yang tak bisa dikendalikan adalah bertambahnya usia. Faktor usia memang bisa jadi penyebab hipertensi pada lansia.

Namun, bukan berarti masalah kesehatan ini tidak bisa dicegah. Mengganti dan memperbaiki asupan makanan dengan makanan yang bergizi seimbang menjadi salah satu caranya. Turunnya nafsu makan pada lansia menjadi tantangan tersendiri, karena seiring bertambahnya usia lansia mengalami penurunan nafsu makan (pengurangan jumlah asupan makan dan jenis makanan tertentu). Selain itu, konsumsi makanan yang tidak sehat  dengan mengonsumsi gula, natrium, lemak berlebih menjadi masalah gizi lainnya dari lansia.

webinar Peran Gizi dan Umami dalam Pencegahan Hipertensi dan Peningkatan Kualitas Hidup Lanjut Usia. Acara yang merupakan hasil kerjasama tim peneliti dari Universitas Gajah Mada dan PT Ajinomoto Indonesia didukung oleh Dinas Sosial DIY dan PPNI DIY ini berlangsung hangat dan diikuti secara virtual oleh lebih dari 200 peserta. 
Sumber: Istimewa
webinar Peran Gizi dan Umami dalam Pencegahan Hipertensi dan Peningkatan Kualitas Hidup Lanjut Usia. Acara yang merupakan hasil kerjasama tim peneliti dari Universitas Gajah Mada dan PT Ajinomoto Indonesia didukung oleh Dinas Sosial DIY dan PPNI DIY ini berlangsung hangat dan diikuti secara virtual oleh lebih dari 200 peserta. Sumber: Istimewa

Untuk itu, Ajinomoto dan tim peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) yang dikepalai oleh Dr Toto Sudargo MKes melakukan penelitian ‘Elderly Project’ pada Oktober 2021 – Januari 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa menu rendah garam dalam program pemberian makan terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada lansia, yaitu SBP (Systolic Blood Pressure) dan DPB (Dyastolic Blood Pressure). Project ini merupakan salah satu cara Ajinomoto untuk memperkenalkan kampanye Bijak Garam kepada masyarakat khususnya para lansia.

Baca juga: Jangan Lalai, Lindungi Lansia dari Covid-19

Sebelumnya, petugas dapur pada BPSTW Unit Abiyoso dan Budi Luhur telah diberikan edukasi tentang pentingnya diet rendah garam terutama pada menu makanan lansia. Mengurangi penggunaan garam dan menambahkan bumbu umami dari produk Ajinomoto dapat membantu menurunkan asupan natrium lansia. Dengan menerapkan cara ini di BPSTW Unit Abiyoso dan Budi Luhur nafsu makan para lansia tidak menurun karena rasa makanan yang diberikan kepada para penghuni panti terbukti tetap enak walaupun kadar garamnya menurun dibandingkan sebelumnya.

Dr Toto yang juga merupakan dosen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gajah Mada Yogyakarta menjelaskan Study Elderly Project yang dilakukan bersama Ajinomoto ini menunjukkan bahwa setelah diberikan program pemberian makan pada lansia dan Pendidikan gizi, terjadi penurunan yang signifikan pada kadar gula darah. Hal itu ditunjukkan dari persentase pria lansia yang memiliki nilai HbA1C pada kelompok diabetik, yakni sebesar 52.9% turun menjadi 23.5% serta peningkatan pada kelompok normal dengan persentase yaitu 14.7% naik menjadi 47.1%.

“Pendidikan gizi tentang pentingnya menjaga pola makan seperti mengurangi makanan manis mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan. Signifikansi kenaikan asupan protein terjadi pada kedua kelompok lansia pria dan Wanita,” tutup Dr Toto.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com