Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Ajinomoto Indonesia jalankan pilot projek SLP di dua pesantren, hasilnya mampu menurunkan hingga 20,9% kejadian anemia 
Sumber: Istimewa

PT Ajinomoto Indonesia jalankan pilot projek SLP di dua pesantren, hasilnya mampu menurunkan hingga 20,9% kejadian anemia Sumber: Istimewa

School Lunch Program Turunkan Angka Kejadian Anemia di Kalangan Santri Pesantren

Sabtu, 25 Juni 2022 | 05:24 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Ajinomoto Indonesia memperkenalkan School Lunch Program (SLP) untuk kalangan santri di pesantren. Program tersebut menargetkan untuk menurunkan prevalensi status anemia santri di pondok pesantren melalui pemberian makanan bergizi seimbang dan pendidikan gizi. Dua pesantren di Jawa Barat telah mengikuti pilot projek tersebut. Hasilnya, mampu menurunkan hingga 20,9% kejadiaan anemia.

Head of Public Relations Dept PT Ajinomoto Indonesia Grant Senjaya menjelaskan, dalam pilot project ketika itu, pihaknya menetapkan target untuk menurunkan prevalensi status anemia santri di pondok pesantren melalui pemberian makanan bergizi seimbang dan pendidikan gizi. Setelah pihaknya menyediakan menu yang tinggi kandungan zat besi (seperti rendang hati ayam,) dan menu sayur yang dimasak dengan mudah serta nikmat menggunakan produk kami, santri mulai makan lebih banyak.

Advertisement

Baca juga: Ajinomoto Indonesia Dalam Sirkular Ekonomi

“Hasilnya, kami mampu mengurangi 8% kejadian anemia di kalangan santri Pondok Pesantren Pertanian Darul Falah Bogor dan 20,9% di Pondok Pesantren Darussalam Bogor. Berangkat dari kisah sukses ini, kami ingin terus kontribusi untuk mengatasi masalah gizi anak di Indonesia,” ujar Grant dalam keterangan pers, Jumat (24/6/2022).

Grant menambahkan, pihaknya ingin lebih banyak lagi pesantren yang melaksanakan program ini. Nantinya, bersama Tim SLP dari Institut Pertanian Bogor (IPB) akan melakukan observasi dan seleksi untuk memilih 12 pondok pesantren yang sekiranya memenuhi semua persyaratan untuk mengimplementasikan SLP di pondok pesantren masing-masing.

Dosen di Departemen Gizi Masyarakat IPB sekaligus ketua project SLP Dr Rimbawan mengatakan, buku panduan SLP yang sudah dibuat tidak hanya bermanfaat bagi siswa/i di pesantren, namun bermanfaat juga bagi tenaga pengajar di pondok pesantren yang menerapkan. Untuk itu, bersama Ajinomoto dan Kementerian Agama RI, pihaknya menyusun panduan SLP menjadi tiga buku. Buku pertama berisikan modul edukasi gizi di pesantren yang bermanfaat untuk membekali tenaga pengajar pengetahuan dasar tentang gizi dan kesehatan untuk anak dan remaja.

Baca juga: Ajinomoto Berencana Kembangkan Kemasan Lebih Ramah Lingkungan

“Buku kedua berisikan modul penyediaan makan bergizi seimbang di pesantren, buku kedua ini bermanfaat bagi pengelola dan tim penyedia makan pesantren. Buku ketiga berisikan kumpulan resep dan pilihan aplikasi menu lezat bergizi seimbang,” ujar Dr. Rimbawan.

Product Marketing Manager Horeka Dept PT Ajinomoto Indonesia Darma Suhandi menambahkan, sejalan dengan kampanye Kementerian Kesehatan RI, mengenai pentingnya diet garam, gula, dan lemak. Melalui kampanye Bijak Garam ini, pihaknya ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diet rendah garam dan mengajak keluarga Indonesia untuk hidup lebih sehat dengan mengurangi asupan atau penggunaan garam dalam mengolah makanan. Salah satunya dengan MSG mengandung lebih sedikit kadar natrium daripada garam dapur pada umum nya.

Menurutnya, hanya dengan menambahkan 1 sendok teh garam plus ½ sendok teh MSG AJI-NO-MOTO® dapat mengurangi kadar natrium sebesar 30% namun rasa umami dan kelezatan masakan tetap terjaga. Nah, dengan salah satu produk dari Horeka Dept yaitu AJI-NO-MOTO® PLUS, untuk penggunaan memasak skala besar akan sangat ekonomis. Karena dapat menambahkan level umami pada masakan dan tentu lebih kuat dari MSG biasa. “Dengan level rasa umami yang lebih tinggi, penggunaannya lebih sedikit (¼) dari MSG biasa sehingga lebih hemat biaya produksi,” tutupnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN