Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anak sekolah berisiko tinggi tertular Covid-19 bila protokol kesehatan di sekolah tidak dilaksanakan dengan ketat

Anak sekolah berisiko tinggi tertular Covid-19 bila protokol kesehatan di sekolah tidak dilaksanakan dengan ketat

Sekolah di Masa Pandemi Berisiko Tinggi Tertular Covid-19

Mardiana Makmun, Jumat, 5 Juni 2020 | 18:11 WIB

JAKARTA, Investor.id – Tahun ajaran baru 2020 akan segera dimulai pada 13 Juli mendatang. Tak lama lagi. Tinggal menghitung hari. Namun, pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Sejak awal Maret 2020 hingga 5 Juni 2020, total 28.818 orang Indonesia terinfeksi virus Corona 19 dan 1.721 orang meninggal. Sejumlah daerah pun masih memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga akhir Juni sebagai masa transisi memasuki tatanan hidup baru (new normal) di masa pandemi.

 

Kondisi pandemi membuat para orang tua dan pihak sekolah khawatir sekaligus bertanya-tanya, siapkah sekolah kembali dibuka setelah tiga bulan ini proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh? “Orang tua punya hak khawatir anaknya berisiko tertular Covid ketika masuk sekolah,” kata Seto Mulyadi, ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dalam talkshow bertema‘Siapkah Sekolah Dibuka’ yang dipandu Direktur Pemberitaan Beritasatu TV Primus Dorimulu di Beritasatu TV secara live streaming, Jumat (5/6/2020).

 

Apalagi siswa Paud dan SD. Mereka berisiko tinggi tertular Covid-19. “Anak Paud itu kan dalam sehari butuh tiga jam untuk bergerak, lari, jalan. Ketika sekolah dibuka, mereka di kelas akan lari-lari, pegang-pegang tangan gurunya,ini berisiko sekali tertular,” lanjut psikolog yang akrab disapa Kak Seto.

 

Evy Mulyani, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengungkapkan dibuka atau tidaknya sekolah tergantung pada apakah sekolah tersebut berada di zona merah atau tidak. “Tetapi walaupun sekolah berada di zona hijau, tidak serta merta sekolah dapat dibuka. Harus ada syarat protokol kesehatan dan panduan pembelajaran jarak jauh yang siap dilaksanakan,” tegas Evy.

 

Soal protokol kesehatan juga menjadi kekhawatiran orang tua. Apakah sudah ada protokolnya dan apakah sekolah sudah siap menjalankan protokol kesehatan? dr.Erna Mulati, Direktur Kesehatan keluarga Kementerian Kesehatan mengungkapkan pemerintah masih terus membahas dan membuat protokol kesehatan untuk diterapkan di sekolah.

 

“Senin masih akan dibahas bagaimana protokol kesehatan di sekolah. Yang jelas, nanti akan mengaitkan fasilitas di sekolah, termasuk kantin tidak boleh dibuka dan anak harus membawa bekal dari rumah. Lalu kalau ada anak dari zona merah (tinggal di zona merah) tetapi bersekolah di zona hijau, sebaiknya belajar di rumah saja dulu secara daring,” ungkap dr.Erna.

 

Unifah Rosyidi, ketua Umum PGRI juga menegaskan bahwa protokol kesehatan harus ada dan sekolahpun harus siap melaksanakannya. “Protokol kesehatan harus ada, tetapi dananya juga harus ada. Kalau gak ada dana, lalu siapa yang menyediakan perlatan kesehatan seperti disinfektan dan hand sanitizer? Apalagi di Indonesia ada 50 ribu lebih sekolah Paud dan umumnya ini berasal dari masyarakat golongan bawah. Jangan sampai anak-anak ini tertular Covid-19 dan lalu terlempar semakin ke bawah hingga di masa depan melahirkan generasi dengan SDM yang lemah,” miris Unifah.

 

Soal dana untuk protokol kesehatan, Evy membuka wacana bahwa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) memiliki fleksibilitas bisa digunakan untuk itu. “Dana BOS saya kira bisa dipakai pihak sekolah untuk pembelian disinfektan dan juga membeli pulsa atau paket data untuk siswa,” kata Evy.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN