Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Caroline Riady dalam webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk New Normal Means New Danger?, Sabtu (11/7).

Caroline Riady dalam webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk New Normal Means New Danger?, Sabtu (11/7).

Siapkah Kita Jalani New Normal?

Sabtu, 11 Juli 2020 | 15:18 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pandemi Covid-19 di Indonesia telah memasuki era new normal. Semua aktivitas pun akan kembali berjalan meski harus hidup berdampingan dengan Covid-19. Sayangnya, di era ini malah menunjukkan pertumbuhan angka kasus baru penderita positif Covid-19 yang terus meningkat. Bahkan telah kembali menembus rekor tertinggi harian, yaitu mencapai 2.657 kasus hanya dalam satu hari.

Hal ini tentu saja menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat saat akan menjalani new normal. Lalu, pertanyaanya apakah kita siap menjalani new normal?

Vice President Director Siloam Hospitlas Group Caroline Riady mengatakan sudah sejak dahulu berbagai penyakit virus dan bakteri, diantara tubercolosisi, malaria, dan demam berdarah, telah ada dan hidup berdampingan dengan manusia di lingkungan.

Namun, dahulu seringnya masyarakat tidak menyadari hal itu dan sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, masyrakat baru menyadari kehadiran virus dan bahayanya. Alhasil, masyarakat baru sadar untuk menerapkan pola hidup bersih. Hal ini menunjukan bahwa respon masyarakat akan kehati-hatian dan takut kehadiran virus. 

Sayangnya, tambah dia, setelah kebijakan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) yang dijalankan dan kemudian di longgarkan, hingga akhirnya diterapkan new normal. Tapi, dirasakan tidak berkelanjutan dan ada kekhawatiran semua akan terkena.

“Terlebih masyarakat harus kembali beraktivitas dan tentu kekhawatiran masih sangat tinggi. Menjadi pertanyaan apakah masyarakat masih perlu takut dan berbasiskah ketakutan tersebut?,” ungkapnya di sela zoom webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk 'New Normal Means New Danger?', Sabtu (11/7).

Menurut Caroline, di masa saat ini ada dua tendensi atau bahaya yang harus dilawan. Pertama adalah tendensi ketidaktahuan atauketidak pedulian akan perilaku yang benar akan pencegahan Covid-19. Sikap yang dicerminkan adalah dengan pasrah atau tidak berdaya, bahkan tidak mau mencari tahu.

Hal ini tentu saha akan membayakan diri sendiri atau orang yang ada di sekeliling kita. Kedua, tahu sehingga menjadi sangat khawatir dan ketakutan yang tidak berbasis. Sehingga malah menjadi pembahambat masyarakat dalam melakukan aktivitas yang justru perlu dilakukan. 

“Berbagai hal ini obatnya hanyalah pengertian yang tepat dan benar mengenai Covid-19, penyebaran, dan perilaku untuk memutus penyebaran rantai virus ini,” tegasnya.

Dokter spesialis penyakit dalam SHTB dr Jimmy Tandradynata SpPD  dalam webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk New Normal Means New Danger?, Sabtu (11/7).
Dokter spesialis penyakit dalam SHTB dr Jimmy Tandradynata SpPD dalam webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk New Normal Means New Danger?, Sabtu (11/7).

Dokter spesialis penyakit dalam SHTB dr Jimmy Tandradynata SpPD menambahkan, situasi yang dihadapi Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Australia, Selandia Baru, dan Malaysia. Mereka menerapkan lockdown. Dari segi dunia kesehatan, jalan terbaik untuk memutus rantai penyebarah adalah lockdown, namun ada konsekuensi tersendiri mulai dari sosial dan ekonomi.

Akhirnya, pemerintah Indonesia menetapkan semi lockdown yang disebut dengan PSBB. Tapi tidak ada sanksi yang tegas bagi mereka yang melanggar, akibatnya kesadaran masyarakatnya kebanyakan tidak dilaksanakan. 

“Contohnya hingga saat ini masih banyak orang yang berkumpul, bahkan berwisata yang tentunya malah akan meningkatkan risiko penularan,” ucap dr Jimmy.

Alhasil, lanjut dia, menjawab pertanyaan apakah Indonesia siap menjalani new normal, tentu saja harus siap dipaksa untuk masuk ke new normal dengan beberapa hal yang harus diperbaiki. Mulai dari pemerintah yang harus meningkatkan kapasitas testing di Indonesia, ditambah masih belum meratanya di berbagai daerah.

Segi pengawasan, adanya sanksi tegas apabila masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan, seperti sosial distancing dan pemakaian masker. Ditambah lagi, meningkatkan kesadaran masyarakat.

dokter Spesialis anak SHTB dr Yogi Prawira SpA(K) dalam webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk New Normal Means New Danger?, Sabtu (11/7).
dokter Spesialis anak SHTB dr Yogi Prawira SpA(K) dalam webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk New Normal Means New Danger?, Sabtu (11/7).

Sementara itu, dokter Spesialis anak SHTB dr Yogi Prawira SpA(K) berpendapat peningkatan jumlah kasus positif Covid di Indonesia harus dilihat dari meningkatnya kapasitas testing di Indonsia. Ia pun mengapresiasi pada daerah yang meningat jumlah kasusnya, karena di balik itu berarti kapasitas tesnya meningkat. Sehingga jangan terbalik pola fikir masyarakat dan malah tidak mau melakukan pemeriksaan.

Kedua, harus dipertimbangkan adalah jumlah yang terkena positif yang akan menunjukan apakah penularan di daerah tersebut sudah terkontrol kurang dari 5%. Jika angka itu masih diatas 5%, menunjukan masih tingginya angka penularan. 

Selain itu, dr Yogi menegaskan penerapan protokol kesehatan untuk diri sendiri juga sangat penting di era new normal ini. "Pada era new normal ini, pemeriksaan dan protokol kesehatan ini harus wajib dilakukan. Ini bukan hanya tentang kita. Tapi untuk melindungi semua, baik diri sendiri, keluarga, sahabat, dan kolega,” tutupnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN