Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anak-anak asrama SOS Children

Anak-anak asrama SOS Children

Sikap Ikhlas Orang Tua Bantu Anak Hadapi Masa Pandemi

Selasa, 2 Maret 2021 | 13:55 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id –Masa pandemi yang tak usai setahun ini bisa membuat stres anak-anak. Namun sikap ikhlas orang tua atau pengasuh menjalani masa sulit ini akan membantu anak menghadapinya dengan tenang.

Satu tahun sudah masyarakat Indonesia hidup di masa pandemi Covid-19. Psikolog pendidikan Dinar Wukirsari, S.Psi., M.Psi, mengungkapkan, banyak anak yang terpengaruh orang tua bagimana menyikapi

pandemi ini.

“Kalau orang tua yang tak bisa menerima, ini akan berdampak pada anak-anak. Apalagi anak-anak yang hilang pengasuhan sehingga berdampak pada sisi sosial mereka. Yang paling kelihatan pada anak adalah sekolah. Sekolah tidak hanya mencari nilai, tapi membangun karakter anak. Saat daring, ini menjadi tugas berat orang dewasa yang ada di rumah,” ujar Dinar dalam diskusi Tantangan Anak dan Remaja yang kehilangan Pengasuhan Orang Tua di Tengah Pandemi Covid-19 yang digelar SOS Children’s Vilages dan HSBC baru-baru ini.

Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebanyak 60 juta siswa tidak dapat belajar di sekolah. Kondisi ini sejujurnya berat bagi anak. “Ketika tidak belajar di sekolah, anak tidak punya teman. Apalagi untuk anak yang baru masuk SD atau SMP, tidak punya teman karena gak pernah bertemu teman. Motivasi belajar anak jadi rendah, karena gak punya teman. Apalagi anak-anak yang masih suka bermain. Karena kan sekolah bukan hanya belajar tapi juga bermain dengan teman. Anak akan merasa sendiri. Di masa depan, anak akan berdampak sisi psikologis, anak menjadi tak berdaya,” lanjut Dinar.

Di sinilah peran pengasuhan orang tua pada anak di rumah berperan besar. “Jadi PR (pekerjaan rumah) nya adalah apakah orang tua atau orang dewasa di sekitar anak-anak bisa menerima pandemi ini, bagaimana emosi orang dewasa sekitarnya. Karena harapannya dari accept (penerimaan) ini, orang tua bisa memberikan efek positif pada anak,” ujar Dinar.

Orang tua, lanjut Dinar, bisa memberikan pengertian kepada anak bahaya virus dengan cara fun activity supaya anak paham jauh lebih mudah. “Selain itu, aspek emosi anak harus di-maintenance. Caranya, orang tua menjadi pendengar yang baik, karena saat anak cerita gak butuh advice, cuma butuh didengerkan saja. Kontrol emosi untuk bisa memberikan kegiatan yang menarik dan disenangi anak,” saran Dinar.

Pengasuhan dan teman

Sayangnya, tak semua anak memiliki orang tua. Berdasarkan data BPS tahun 2018, terdapat sekitar 4,1 juta anak kehilangan pengasuhan orang tua kandung dan harus tinggal bersama keluarga lain atau bahkan ditelantarkan. Anak dan remaja yang tidak mendapatkan pengasuhan orang tua cenderung terdampak lebih parah ketika terjadi bencana, termasuk pandemi Covid-19. Tidak ada yang dapat membantu penuhi kebutuhan mereka sebagai seorang anak dan remaja. Oleh karena itu, mereka membutuhkan perhatian lebih saat ini.

Gregor Hadi Nitihardjo, national director SOS Children’s Village Indonesia sekaligus praktisi pengasuhan anak di SOS Indonesia mengungkap tantangan yang dihadapi SOS Indonesia sebagai lembaga pengasuhan anak.

“Kami menyediakan keluarga pengganti bagi anak-anak yang tinggal di SOS Children Village. Ada ibu asuh yang mendampingi anak-anak yang kehilangan pengasuhan.

Proses pendampingan ibu sangat penting. Apalagi banyak cerita bahwa di masa pandemi ibu-ibu menjadi baper karena harus mengubah kebiasaan bekerja. Ibu harus jadi guru semua pelajaran untuk segala kelas. Sedangkan ibu harus sehat secara fisik dan mental,” kata Gregor.

Sementara itu, menurut Psikolog Dinar, bagi anak-anak yang tinggal di asrama, justru ada untungnya. “Karena di sini banyak anak-anak sehingga aspek sosial masih didapat anak-anak meskipun pandemi,” ujarnya.

Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan, Rohika Kurniadi Sari, S.H. M.S menegaskan betapa penting aspek pengasuhan orang tua pada anak dan remaja khususnya pada masa pandemi Covid-19.

“Pengasuhan adalah bagaimana membangun kelekatan, keselamatan anak berkelanjutan, itu menjadi penting. Pasal 26 Konvensi Anak menyebut kewajiban orantu mengasuh, mendidik, memelihara, mengembangkan bakat minat,dan membangun budi pekerti anak,” papar Rohika

“Pengasuhan menjadi penting, karena di masa pandemi ini ada orang tua yang belum punya kapasitas mengasuh anak,” ungkap dia.

Nuni Sutyoko, SPV head of corporate sustainability PT.Bank HSBC Indonesia menegaskan, dengan semangat membantu anak-anak dan remaja bangkit dari dampak pandemi, HSBC Indonesia turut berkontribusi bagi generasi bangsa dengan mendukung pendampingan anak-anak SOS Children’s Villages.

‘Pendampingan dilakukan melalui beberapa kanal, yaitu program kesehatan, dukungan infrastruktur pembelajaran, dan pelatihan keahlian bagi remaja. Program ini akan berjalan selama satu tahun di 2021 dan diharapkan mampu memberikan pembekalan dan penguatan bagi anak dan remaja untuk menghadapi tantangan dan kebutuhan di masa pandemi, demi masa depan yang baik bagi mereka dan bangsa.” tandas Nuni.

Editor : Mardiana Makmun (nana_makmun@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN