Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi belanja online dari rumah

Ilustrasi belanja online dari rumah

 Dampak Pandemi Covid-19

Social Distancing Munculkan Dua Perilaku Baru

Happy Amanda Amalia, Selasa, 14 April 2020 | 14:21 WIB

JAKARTA, investor.id – Imbauan untuk melakukan social distancing atau menjaga jarak aman, yang diumumkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada pertengahan Maret guna pencegahan penyebaran virus corona Covid-19, telah membuat aktivitas warga berkurang.

“Covid-19 telah mengubah kehidupan kita. Dalam situasi seperti ini, kita lebih memilih untuk berdiam di rumah dibandingkan bepergian. Social distancing juga membuat kita banyak menghabiskan waktu di ruang digital, baik untuk bekerja, berkomunikasi, berbelanja, atau bahkan sekadar mencari hiburan,” ujar Managing Director Analytic Data Advertising (ADA) Indonesia, Kirill Mankovski dalam keterangan pers, Senin (13/4).

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), ADA melakukan analisis data terhadap perubahan konsumen di beberapa negara termasuk Indonesia. Situasi pandemi rupanya memunculkan perilaku konsumen baru, yang berbeda-beda di setiap negara Asia Tenggara.

Di Indonesia, situasi pandemi dan social distancing memunculkan dua perilaku baru, yakni adaptive shopper dan working-from-home professional. Perubahan ini dilihat dari penggunaan aplikasi belanja dan produktivitas sepanjang Maret. Data ADA menunjukan, kedua jenis aplikasi ini paling banyak digunakan masyarakat Indonesia, terutama di kalangan menengah dan atas.

Sejak social distancing diumumkan, penggunaan aplikasi belanja mengalami kenaikan hingga 300%. Aplikasi yang banyak digunakan adalah aplikasi belanja yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, juga aplikasi khusus jual-beli barang bekas. Penggunaan aplikasi jenis ini mengalami puncaknya pada 21-22 Maret, hingga lebih dari 400%.

“Masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah dan atas, telah beradaptasi dengan dunia baru ini. Mereka beralih ke cara-cara baru untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya,” tambah Kirill.

Sedangkan bagi sebagian besar pekerja di Indonesia, working-from-home atau kerja dari rumah sama seperti bekerja pada situasi normal. Mereka tetap melakukan pekerjaan, kolaborasi, komunikasi, dan meeting seperti biasa. Hanya saja, semua pekerjaan dilakukan di rumah dengan bantuan aplikasi produktivitas.

Data ADA mencatat adanya peningkatan penggunaan aplikasi produktivitas selama Maret, terutama setelah imbauan social distancing diumumkan. Penggunaan aplikasi produktivitas naik hingga lebih dari 400% pada pertengahan Maret lalu. Aplikasi yang paling banyak digunakan adalah aplikasi screen recorder dan anti-virus.

“Setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda-beda terhadap situasi krisis, seperti pandemi. Ini yang menyebabkan perbedaan crisis persona di Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya. Kami melihat, masyarakat Indonesia cepat beradaptasi untuk memenuhi kebutuhannya, dan berusaha untuk tetap produktif,” kata Kirill.

Jumlah orang yang beraktivitas di area Central Business District Jakarta pun telah berkurang sebanyak 53% hingga pekan ke tiga bulan Maret.

Selain itu, tidak hanya aktivitas di area bisnis saja yang berkurang. Jumlah individu yang melakukan perjalanan ke luar kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Bali pun berkurang hingga pekan ke-3 Maret. Kunjungan ke Bali, misalnya, berkurang sebanyak 33% jika dibandingkan Februari. Sementara itu, kunjungan ke Bandung dan Yogyakarta berkurang 35%.

Kunjungan ke pusat perbelanjaan atau mal juga berkurang. Menurut catatan ADA, terdapat penurunan kunjungan ke mal besar di Jakarta sejak 15 Maret dengan rata-rata penurunan kunjungan di beberapa mal tersebut berkisar lebih dari 50% dibandingkan dengan awal 2020.

Pandemi Covid-19 juga menyebabkan kepanikan di pasar keuangan. Banyak industri yang merasakan dampak dari situasi ini, misalnya travel, hospitality, FnB, otomotif, dan hiburan.

Dalam situasi seperti ini, banyak perusahaan dan brand menahan aktivitas pemasarannya untuk sementara waktu. Beberapa bahkan menahan aktivitas tersebut hingga situasi mulai normal dan terkendali. Hal ini menyebabkan berkurangnya aktivitas pemasaran secara umum.

“Sebetulnya, brand dapat memanfaatkan situasi ini untuk membentuk kebiasaan baru, serta mengubah channel komunikasi dan penjualannya ke ruang digital. Kebiasan baru yang terbentuk ini akan tetap bertahan meskipun situasi kembali normal,” ujar Kirill.

Sumber : PR

BAGIKAN