×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fogging atau pembasmian nyamuk akan efektif jika dilanjutkan dengan Gerakan 3M. Foto ilustrasi: Portal ID/Gora Kunjana

Fogging atau pembasmian nyamuk akan efektif jika dilanjutkan dengan Gerakan 3M. Foto ilustrasi: Portal ID/Gora Kunjana

Standardisasikan Fogging

(gor/ant), Kamis, 21 Februari 2019 | 09:22 WIB

Kasus demam berdarah (DBD) mulai berkurang. Dari yang dipublikasikan di media massa, kasus ini sempat merebak. Bahkan, hingga Kamis 31 Januari 2019 telah tercata 15.132 kasus, di mana 145 dilaporkan meninggal dunia.

Kasus DBD ini juga menyebar di banyak wilayah Indonesia. Namun, kasus tertinggi di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Sulawesi Utara, dan Lampung. Jika dirinci lebih ke wilayah yang lebih kecil, hingga saat ini ada 390 kabupaten/kota dari 33 provinsi yang mengalami kasus DBD. Bahkan, sebanyak 269 kabupaten/kota di antaranya melaporkan adanya peningkatan kasus.

Meski kasus pada 2019 ini tidak setinggi pada 2016, tetap perlu kesigapan dan keseriusan dan penanganannya. Syukurlah, kasusnya mulai tertangani. Hal itu juga ditopang kerja sama yang apik antara pemerintah dan sejumlah elemen masyarakat dalam menangani dan mencegah meluasnya kasus.

Salah satu yang banyak dilakukan sejumlah elemen masyarakat secara swadaya maupun bersama pemerintah daerah adalah pengasapan (fogging). Kepedulian sejumlah elemen masyarakat dalam penanggulangan demam berdarah itu patut diapresiasi. Namun, bukankah fogging tidak boleh dilakukan secara sembarangan?

Menteri Kesehatan bahkan sudah melarang fogging sembarangan. Apalagi sekarang nuansa pemilu, ada baiknya dinas terkait dan pemangku kepentinganpemilu saling berkomunikasi dan koordinasi terkait pelaksaan fogging di masyarakat. Jika perlu Dinas Kesehatan di masing-masing daerah menyosialisasikan standar pengasapan yang benar agar menjadi perhatian di kalangan para caleg, parpol maupun lembaga lain saat melakukan fogging.

Hal itu perlu dilakukan menyusul adanya larangan fogging sembarangan karena bisa mengakibatkan gangguan kesehatan di kalangan masyarakat.

Elemen masyarakat, termasuk caleg, partai politik maupun lembaga lain untuk tidak melakukan fogging secara sembarangan di sejumlah perkampungan karena bisa membahayakan kesehatan. Banyak kasus, fogging dilakukan di permukiman padahal tidak ada kasus dan hasil penyelidikan epidemiologi DBD adalah negatif.

Maka, kami berharap pemerintah perlu memberikan edukasi ke masyarakat agar mengetahui prosedur melakukan pengasapan, menyusul saat ini banyak caleg yang membuat kegiatan sosial berupa fogging.

Apalagi, masih ada alternatif lain dalam pembasmian sarang nyamuk (PSN) melalui juru pemantau jentik (jumantik) maupun ibu pemantau jentik (bumantik) yang sudah ada di tiap-tiap Rukun Tetangga (RT). Fogging bukan satu-satunya jalan.

Apalagi saat ini sudah ada obat pembunuh jentik nyamuk berupa Abate. Terakhir, kami juga berharap aparat dinas kesehatan melakukan gerak cepat jika di suatu wilayah ada warga yang positif terkena DBD dan melakukan langkah penanganan lanjutan, termasuk melakukan fogging.

Budi A

 

 

Depok

 

BAGIKAN

Terkini

Jokowi: 4,5 Tahun Saya Diam, Sekarang Lawan

Senin, 25 Maret 2019 | 08:16 WIB

Trans Snow World Bekasi Hadirkan Permainan Salju

Senin, 25 Maret 2019 | 08:05 WIB

Jokowi Janji Terbitkan Tiga Kartu untuk Masyarakat

Minggu, 24 Maret 2019 | 23:35 WIB