Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tarsius, primata terkecil di dunia adalah satwa langka yang bisa ditemui di Belitung. Foto: IST

Tarsius, primata terkecil di dunia adalah satwa langka yang bisa ditemui di Belitung. Foto: IST

Tarsius, Satwa Langka Belitung

Listyorini, Minggu, 17 November 2019 | 13:25 WIB

BELITUNG, investor.id - Salah satu daya tarik Bukit Peramun di Belitung adalah hidupnya satwa langka, yakni tarsius yang juga disebut monyet hantu karena matanya besar seperti burung hantu.

Perimata mungil yang memesona itu hidup di areal hutan Bukit Peramun dan sering keluar pada saat senja hingga malam hari.

Menurut Ketua Komunitas Arsel sekaligus penanggung jawab Desa Binaan Bukit Peramun Adie Darmawan, terdapat sekitar 80 tarsius di area hutan Bukit Peramun. Bukit Peramun merupakan desa binaan PT Bank Centra Asia (BCA) Tbk.

“Kami membuat empat zona pengaman untuk hewan tarsius karena mereka sulit berkembang biak, “ katanya kepada wartawan belum lama ini. Dalam acara Kafe BCA on The Road, wartawan diajak “berburu” untuk melihat tarsius.

Hewan mungil itu sangat menggemaskan. Badannya sebesar tikus, tetapi bentuknya seperti monyet, dan matanya seperti burung hantu. Anehnya lagi, lehernya bisa berputar 270 derajat, seperti tidak ada tulangnya. Matanya tidak berkelopak sehingga tidak boleh dilihat lebih dari 10 menit karena jika terlalu lama matanya bisa berair.

Untuk itu, jika ingin mengabadikan tarsius melalui foto, tidak diperbolehkan menggunakan lampu kilat (blitz) karena akan mengagetkan hewan tersebut. Tidak mudah menemukan hewan langka di areal hutan seluas 115 hektare. Namun, penduduk setempat mempunyai cara-cara khusus untuk memanggil tarsius. Menunggu dari senja, baru sekitar pukul 7 malam petugas menemukan hewan tersebut. Itu pun hanya satu ekor, sehingga pengunjung harus sangat hati-hati mendekatinya.

“Tidak boleh berisik karena akan mengagetkan,” kata petugas.

Pengunjung pun mengendap- endap untuk melihat tarsius yang bertengger di pohon.

“Tarsius adalah hewan monogami. Mereka hanya punya satu pendamping, tak bisa kawin lagi apabila pasangannya mati sehingga perkembangbiakannya sangat sulit,” ujar petugas.

Tarsius Belitung berbeda dengan yang menghuni hutan Sulawesi. Ia tidak tinggal di lubang-lubang pohon, tetapi di bawah kanopi dedaunan. Istimewanya lagi, ia memiliki telinga yang mampu mengolah gelombang ultrasonik. Karena itu, jarang sekali terdengar suaranya, paling hanya menggeram.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA