Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao

TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Tetap Terapkan Physical Distancing Saat New Normal

Indah Handayani, Senin, 1 Juni 2020 | 18:37 WIB

JAKARTA, investor.id – Meski pemerintah akan melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menerapkan ‘New Normal’ atau tatanan kehidupan baru, pandemi Covid-19 masih berlangsung dan kita harus tetap waspada. Karena itu, menjalankan protokol kesehatan pencegahan penularan virus ini menjadi keharusan.

Menjalankan protokol kesehatan di antaranya menjaga jarak, rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menggunakan masker double, membilas tangan dengan hand sanitizer saat di luar rumah, segera mandi usai berpergian, dan membersihkan peralatan yang kita bawa dan kendaraan yang kita gunakan.

Section Head of Claim Sequis dr. Yosef Fransiscus mengatakan, sangat penting untuk mematuhi protokol ini jika serius ingin memutuskan rantai penularan virus di sekitar dan di Indonesia. Hal itu mengingat siapapun dapat menjadi pembawa virus atau tertular virus.

Demi kebaikan bersama, masyarakat wajib responsif dan tertib karena virus ini mampu menular dengan cepat. Virus covid-19 menyerang saluran pernafasan dan melemahkan sistem imun. Untuk itu, harus memastikan imunitas tetap terjaga.

“Apalagi, imunitas setiap orang berbeda kemampuannya, tergantung pada usia, riwayat hidup, dan gaya hidup. Adapun imun dihasilkan oleh kelenjar thymus sebagai daya tahan tubuh alami yang bertugas melawan penyakit,” ungkap dr. Yosef Fransiscus dalam keterangan pers.

Pada respons awal, dr Yosef menjelaskan, jika tubuh kuat akan memungkinkan untuk mengendalikan infeksi dengan cepat. Pada kondisi ini, terjadi pelepasan protein interferon untuk mengganggu kemampuan virus agar tidak bereplikasi dalam sel-sel tubuh. Interferon juga akan merekrut sel-sel kekebalan lain untuk menyerang virus agar tidak menyebar. Misalnya, sel darah putih. Saat tubuh terserang oleh gas beracun atau radikal bebas maka akan ditangkap oleh kolestrol yang berperan sebagai pelindung sel.

Meskipun demikian, virus juga memiliki pertahanannya sendiri untuk menumpulkan atau melepaskan diri dari efek interferon.

TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao
TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Menurut dr Yosef, respons imun bawaan saat terinfeksi virus bisa terlihat dari gejala klinis yang dialami ketika sakit. Misalnya demam, batuk kering, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, malaise atau rasa pegal dan tidak nyaman, sakit kepala, nyeri otot, atau diare. Gejala-gejala tersebut merupakan manifestasi dari sistem imun bawaan sedang berupaya menyingkirkan virus.

Sedangkan bagi penderita usia lanjut dan yang memiliki gangguan kekebalan tubuh (immunocompromised) terkadang gejala dan tandanya tidak khas.

Bagi mereka yang memiliki riwayat sakit, misalnya pada penderita Diabetes Melitus, imun akan tergantung pada tingkat sakit sehingga pasien harus selalu mengontrol gula darah dan mengikuti petunjuk dokter.

“Perokok, juga menjadi orang yang masuk dalam kategori rentan, imun mereka cenderung rendah karena keracunan radikal bebas terus menerus,” paparnya.

Jika paparan virus sudah menginfeksi maka kekebalan tubuh akan fokus menangani virus dan kehabisan pasukan bila ada serangan ke-2 misalnya pneumonia. Itu sebabnya, kematian akibat corona kebanyakan akibat serangan ke-2 karena tubuh sudah kekurangan pasukan imun yang masih berperang melawan corona.

“Bisa kita katakan corona adalah pasukan pendobrak pertahanan untuk membuka kesempatan bagi virus dan kuman lainnya untuk melumpuhkan tubuh kita. Hal ini yang menyebabkan setelah infeksi pneumonia penderita akan merasa kesulitan bernapas,” imbuh dr.Yosef.

Dokter Yosef menegaskan, sifat imun tidak stabil atau bisa naik atau turun sehingga perlu menjaganya dengan menggiatkan gaya hidup bersih dan sehat serta menambah asupan vitamin C, D, dan E dan dibarengi dengan vitamin K2 yang takarannya sesuai kebutuhan tubuh dan anjuran dokter karena asupan vitaminnya untuk menjaga sistem pertahanan tubuh.

Setiap hari tubuh harus melawan miliaran virus dan kuman yang masuk lewat udara, makanan, atau infeksi. Itu sebabnya, para ahli kesehatan  dan gizi selalu menyarankan pola hidup bersih dan sehat pada pasiennya. Bahkan sebaiknya dilakukan bukan saat masa pemulihan saja, tetapi saat tubuh sehat dan sejak usia masih produktif. Caranya, konsumsi makanan bergizi, berpikir positif, cukup beristirahat, rajin berolahraga, dan berjemur matahari pagi minimal selama 15 menit, tidak merokok dan mengonsumsi alkohol serta biasakan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

Tren Karantina dan Isolasi Diri

TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao
TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Di tengah pandemi, lanjut dr Yosef, istilah karantina dan isolasi diri juga sering didengar. Keduanya dapat dilakukan sekitar 14 hari bahkan sebelum timbul gejala. Dalam kurun waktu tersebut sistem kekebalan tubuh mampu membentuk vaksin sehingga dapat menekan sebaran virus dalam tubuh penderita dan ke sekitarnya.

Isolasi adalah perawatan medis bagi yang sudah positif terinfeksi virus Covid-19 dengan cara dipisahkan dari orang sehat dan yang sakit tetapi tidak terinfeksi virus ini. Sedangkan karantina diri berarti tinggal di rumah dan tidak berpergian untuk menurunkanrisiko terinfeksi atau menjadi pembawa virus.

Lebih lanjut dr Yosef menjelaskan, karantina diri juga harus dilakukan oleh mereka yang berisiko terpapar Covid-19, seperti sedang demam, batuk, pilek, dan sakit lainnya, memiliki riwayat demam atau ISPA, ada kecurigaan melakukan kontak atau ada riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi virus ini, bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien yang sudah positif Covid-19.

Sederhananya, imun tubuh sedang berjuang agar tubuh dapat kembali sehat sehingga jika diharuskan isolasi diri atau karantina maka lakukan dengan serius. Saat kondisi ini, harus cukup beristirahat, tidak stres, tetap berolahraga ringan, mendapatkan sinar matahari pagi, dan dibantu dengan asupan makanan bergizi dan vitamin.

“Jika selama menjalankan isolasi dalam 3 hari berturutturut, suhu badan tetap tinggi, di atas 38 derajat Celcius, batuk dan sesak napas maka harus segera mencari pertolongan medis. Juga bagi pasien pneumonia dan yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh (immunocompromised) haruslah waspada karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas,” tegasnya.

Pentingnya Asuransi

TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao
TNI Polri dikerahkan untuk persiapan New Normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Walaupun biaya pengobatan bagi orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) digratiskan oleh pemerintah, tetapi memiliki asuransi jiwa, penyakit kritis, dan kesehatan dengan kombinasi penyakit kritis adalah cara bijaksana di tengah pandemi virus ini karena sakit bisa datang kapan saja.

Head of Life Operation Sequis Eko Sumurat mengatakan, saat sakit pasti ada biaya yang harus dikeluarkan. Jika memiliki asuransi kesehatan maka biaya perawatan akan ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Demikian juga jika terjadi risiko meninggal dunia apalagi virus ini cukup banyak memakan korban maka Uang Pertanggungan yang ada pada polis asuransi akan sangat bermanfaat bagi ahli waris agar tetap dapat melanjutkan hidup.

“Selama masa pandemi, Anda tidak perlu khawatir mencari informasi asuransi karena produk asuransi Sequis bermanfaat untuk memberikan perlindungan saat harus mendapatkan perawatan medis karena didiagnosa gejala klinis akibat tertular virus corona. Nantinya, nasabah dapat melakukan klaim secara reimbursement sesuai ketentuan yang tercantum pada polis,” jelas Eko.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN