Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi strategi scalping

Foto ilustrasi strategi scalping

Fenomena Scalping dan Roller Coaster Harga Saham

Minggu, 29 Agustus 2021 | 09:53 WIB
S.R Listyorini

Investor.id – Pasar saham bergerak sangat dinamis, terlebih lagi dengan maraknya investor milenial masuk dengan strategi dan gaya trading yang berbeda dengan investor pendahulunya. Fenomena scalping kini hype di kalangan milenial sehingga harga saham sangat aktif dan fluktuatif, bak roller coaster.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini terdapat 3,88 juta investor. Dari jumlah itu, sebanyak 54,8% adalah investor milenial, di bawah 30 tahun. Jumlah tersebut terus meningkat seiring booming platform digital yang menawarkan fasilitas trading saham.

Kondisi ini membuat banyak pertanyaan, mengapa harga saham sekarang sangat fluktuatif, bahkan lebih mirip kasino ketimbang sarana investasi? Saham-saham yang fundamentalnya bagus malah ditinggalkan, sebaliknya emiten yang merugi seringkali harganya terbang ke awan-awan?

Benarkah sudah putus hubungan antara fundamental dengan harga saham? Value investing versus growing investing terus menjadi perdebatan di kalangan pelaku pasar. Dengan gaya apa pun yang dipakai, investasi di pasar saham ujung-ujungnya untuk memperoleh cuan, sepanjang bisa menghasilkan cuan maka strategi itu dianggap benar.

Pada umumnya, investor terbagi dalam tiga kelompok, yakni investor jangka panjang yang mendasarkan pembelian saham dengan melihat fundamentalnya, swing trader yang membeli dan menjual saham dengan melihat dari sisi teknikal, dan kini muncul gaya baru yaitu scalping, trader gercep (gerak cepat).

Scalping adalah gaya trading yang dilakukan dalam waktu sangat pendek, biasanya dalam hitungan detik atau menit. Gaya trading ini sangat aktif, tetapi hanya berusaha mendapatkan profit kecil, dan biasanya dilakukan dalam frekuensi tinggi (jumlah transaksi banyak).

Gaya scalping banyak digemari oleh kalangan millenial, karena cocok dengan karakteristik dan kelincahan jari-jemari mereka memainkan tuts di HP atau komputer. Bahkan, salah satu sekuritas, yakni Mirae Asset Sekuritas membuat kompetisi trading saham, layaknya E-Sport.

Banyak sekali scalper yang membuat konten di youtube dan ditonton ribuan, bahkan jutaan orang. Salah satu scalper yang sukses dan kini menjadi panutan adalah Bekti Sutikna, salah satu juara kompetisi Mirae.

Strategi Scalping

Menurut Bekti Sutikna, scalping dilakukan trader yang ingin cepat mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat. "Cari saham yang bergerak liar. Jadi, gerakannya fluktuatif, jelas berbeda dengan cara swing trade," kata dia dalam wawancara yang diupload di youtube.

Ia mengatakan, dalam trading dengan menggunakan gaya scalping harus diluruskan dulu pola pikir alias mindset. "Harus punya mindset yang berbeda, saham bukan dilihat dari sisi profit yang dihasilkan perusahaan tersebut,"ujarnya dalam diskusi Scalping x Bektomology.

Bekti mengingatkan bahwa strategi ini butuh proses waktu, tidak bisa instan, karena pergerakan saham sering kali repetisi sehingga pola dan geraknya harus dikuasai.

Bekti Sutikna, salah satu investor saham yang menggunakan strategi scalping
Bekti Sutikna, salah satu investor saham yang menggunakan strategi scalping

Sejumlah tips dan hal-hal yang perlu diperhatikan bagi anak-anak muda yang masih pemula dalam hal scalping, sebagai berikut:

1. Untuk di awal, pakai dana yang kecil dahulu. Scalping bisa dengan modal kecil.
2. Ketahui profil risiko, temukan gaya investasi/trading saham yang sesuai.
3. Pilih dan pelajari cara analisa saham seperti analisa teknikal, analisa fundamental, analisa volume atau bandarmologi.
4. Lakukan investasi/trading saham secara konsisten. Ingat, konsisten!.
5. Ketika kamu hendak memilih trading, pelajari risiko dan cara membatasi kerugian (cut loss). Jika sekiranya pendapatanmu mendapatkan profit (keuntungan) dari trading, amankan ke akun terpisah untuk dana 'safety fund' masa depan.
6. Selanjutnya, jika kamu terus konsisten dalam berinvestasi dalam jangka panjang, kamu akan mendapatkan berbagai macam manfaat dan keuntungan.
7. Sebaiknya kamu terus belajar cara berinvestasi. Investasi terbaik adalah untuk pengembangan dirimu. Kamu harus bisa mengatur keuanganmu sebaik mungkin.

Gaya trading yang dilakukan Bekti Sutikna jelas berbeda, bahkan bertentangan dengan ajakan nabung saham yang bertujuan untuk jangka panjang. Pilihan investor untuk menggunakan strategi mana yang akan dipakai tentunya harus disesuaikan dengan karakteristik dan tujuan investasi.

Pasar memang bergerak sangat dinamis, semua investor adalah murid, gurunya adalah pasar itu sendiri. Siap-siap dengan roller coaster saham, karena pandemi Covid-19 memunculkan banyak ketidakpastian yang membuat harga saham bergerak sangat fluktuatif dan liar seiring maraknya para scalper.


 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN