Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Smelter Nikel. Foto ilustrasi: Investor Daily/ DEFRIZAL

Smelter Nikel. Foto ilustrasi: Investor Daily/ DEFRIZAL

Fenomena Supercycle Komoditas, Saham Nikel Makin Atraktif

Sabtu, 11 September 2021 | 10:29 WIB
S.R Listyorini

Investor.id – Harga komoditas nikel terus meroket dan telah breakout menembus level US$ 20.000/ton. Fenomena Supercycle harga komoditas menjadikan saham-saham sektor tersebut makin atraktif.

Pada perdagangan Jumat (10/9/2021), harga saham ANTM, INCO, TINS, dan sejumlah harga komoditas lain menguat signifikan. Bahkan ANTM naik 6,15% ke level Rp 2.590. Sementara itu, INCO naik 0,98% ke level Rp 5.150, dan TINS naik 2,33% ke level Rp 1.535.

Saham ANTM, khususnya, pada akhir pekan menjadi perhatian pasar hingga transaksinya mencapai Rp 1.08 triliun, top active transaction.

Kampanye green energy menjadi momentum bagi komoditas nikel naik. Harga nikel tembus level US$ 20.472 per ton, kemarin. Permintaan tinggi dari Tiongkok untuk kebutuhan produksi baterai dan pembuatan stainless steel menjadi pendorong harga nikel, di tengah cadangan yang menipis.

Perkembangan harga nikel/Sumber: Investing.com
Perkembangan harga nikel/Sumber: Investing.com

Menurut founder Emtrade, Ellenmay, kebutuhan stainless steel Tiongkok pada Juli mencatat kenaikan impor feronikel sebanyak 17% secara year on year (YOY). Tiongkok melakukan impor feronikel dan pig iron dari Indonesia dan sudah naik 22%.

Selain stainless steel, Tiongkok juga impor nikel sulfat untuk kebutuhan baterai. Impor nikel sulfat naik menjadi 23.500 ton pada Januari Juli 2021, dibanding 20210 sebesar 2.700 ton.

"Dengan dua kebutuhan tersebut, ada potensi pasokan nikel menipis bahkan defisit," kata Ellenmay dalam akun instagramnya. Goldman Sach merevisi prediksi nikel 2021 dari surplus 48.000 ton menjadi defisit 72.000 ton karena ekspektasi permintaan naik.

Siklus Komoditas

Siklus komoditas (commodity super-cycle) adalah sebuah periode ketika harga komoditas naik secara signifikan melebihi kenaikan reratanya yang disebabkan oleh melonjaknya permintaan tanpa diimbangi oleh penawaran dan dapat berlangsung selama beberapa tahun.

Secara historis, siklus ini pernah terjadi beberapa kali, yakni sekitar tahun 1900, 1930, 1950, dan 2000. Commodity super-cycle terakhir yang terjadi sejak tahun 2002 hingga sekitar tahun 2011 diakibatkan adanya proses industrialisasi di Tiongkok, yang mengakibatkan permintaan bahan baku dan komoditas naik secara signifikan.

Belakangan ini, terdengar kembali pendapat yang menyatakan bahwa akan terjadi commodity supercycle , didorong oleh peningkatan harga komoditas, pelemahan dolar AS, tingkat suku bunga 0% di AS dan di beberapa negara maju lainnya, serta kembalinya permintaan setelah melewati pandemi.

Meski demikian, terdapat beberapa pendapat lain yang menyatakan bahwa peningkatan harga komoditas dalam beberapa waktu terakhir belum tentu berujung pada supercycle yang baru. Namun ada fenomena pergeseran penggunaan energi fosil menuju energi baru terbarukan yang positif terhadap permintaan komoditas tembaga sebagai penopang greenenergy.

Menurut Ellenmay, untuk mengantisipasi siklus tersebut, ANTM bakal menaikkan produksi nikel hingga 8 juta ton. Pada Januari-Juli, produksi bijih nikel ANTM sebesar 5,34 juta ton.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN