Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Mengenal Fenomena Window Dressing di Akhir Tahun

Selasa, 23 November 2021 | 16:58 WIB
Mashud

JAKARTA, investor.id - Dahulu, saham identik dengan investasi rumit yang hanya dilakukan segelintir orang. Kini persepsi itu mulai berubah karena generasi milenial dan Z mulai menguasai literasi finansial secara lebih baik. Media digital berperan besar dalam mempercepat literasi finansial tadi.

Terkait itu, minat terhadap investasi saham terus mengalami peningkatan, tercermin dari data jumlah investor yang naik signifikan pada tahun 2021. Hingga periode akhir September 2021, Indonesia tercatat memiliki lebih dari 6,29 juta Single Investor Identification (SID). Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga berhasil mencapai jumlah transaksi saham tertinggi sejak swastanisasi bursa efek tahun 1992.

Tidak sekadar ikut-ikut, kemudahan akses mempelajari pasar saham membuat makin banyak pemodal teredukasi. Berbagai istilah investasi saham seperti bullish, bearish, window dressing, portofolio, dividen, buy back, dan istilah lainnya semakin akrab di telinga para investor muda tadi.

Nah diantara istilah tadi, saat jelang akhir tahun begini, istilah window dressing paling sering disebut. Window dressing kerap menjadi momentum bagi pemodal untuk meraih cuan di pasar saham.

Mengacu pada Investorpedia, window dressing disebut sebagai strategi yang digunakan manajer investasi atau investor institusi lainnya untuk memperbaiki portofolio sebelum diperlihatkan kepada pemegang saham atau klien.

Selain itu, window dressing juga dapat didefinisikan sebagai upaya perusahaan untuk memoles laporan keuangannya. Pada umumnya, kondisi anomali ini terjadi setiap akhir tahun sehingga para investor dapat memanfaatkannya untuk memperoleh keuntungan besar. Momen window dressing ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penguatan nilai saham mayoritas emiten.

Setiap perusahaan harus menyajikan laporan keuangan di akhir tahun untuk menunjukkan rugi labanya. Aksi perusahaan ini dilakukan untuk menstimulasi para investor di bursa saham supaya tertarik membeli saham dalam jumlah banyak dan menyebabkan kenaikan harga saham tersebut.

Beberapa trik akuntansi yang dilakukan perusahaan dalam praktek window dressing adalah sebagai berikut:

  • Menunda pembagian keuntungan bagi investor sehingga nilai saldo akhir tampak lebih besar daripada seharusnya.
  • Menampilkan jumlah utang tak tertagih dengan nominal rendah agar angka piutang terkesan lebih besar.
  • Melakukan obral aset tetap yang mengalami penyusutan nilai besar-besaran (misalnya mesin produksi dan kendaraan operasional) agar nilai bersih aset yang tersisa menunjukkan seolah-olah ada kluster aset baru.
  • Menawarkan diskon awal kepada konsumen untuk memperoleh pendapatan lebih awal dari biasanya.
  • Menunda pembayaran tagihan nasabah supaya pengeluaran tersebut dimasukkan ke periode berikutnya.
  • Menukar penyusutan dipercepat dengan penyusutan garis lurus demi mengurangi jumlah penyusutan yang dibebankan pada pengeluaran tahun ini.
  • Mengupayakan konversi tengah bulan untuk menunda pengeluaran.

Bertindak Bijak

Window dressing kerap membuat para investor tertarik membeli saham dalam jumlah banyak, terutama kalangan investor pemula. Ketertarikan tersebut terjadi karena para investor berharap nilai saham yang dibeli akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Padahal, nilai saham pasti mengalami pasang surut, terutama pasca window dressing. Oleh sebab itu, jangan sampai kamu justru mengalami kerugian akibat tergesa-gesa mempercayai rekomendasi saham akhir tahun ketika windows dressing berlangsung.

Beberapa hal yang patut kamu lakukan saat hendak membeli saham pada momen window dressing, antara lain:

  • Melakukan analisis teknikal dan fundamental saham terlebih dahulu. Saham-saham dari emiten terpercaya (saham bluechip) biasanya memiliki performa yang lebih stabil dan harganya tidak mudah meroket berlebihan karena valuasinya sangat besar.
  • Membaca laporan keuangan emiten dengan teliti karena laporan tersebut menunjukkan kredibilitas emiten dalam berbisnis.
  • Mengalokasikan dana investasi sesuai kemampuan. Kamu harus konsisten menggunakan uang dingin untuk investasi saham agar tidak menimbulkan gangguan finansial pribadi di kemudian hari. Kemudian, bagilah jumlah uang yang akan diinvestasikan untuk membeli saham dari satu atau beberapa emiten secara bertahap.
  • Menjual saham yang sudah menghasilkan keuntungan secara cepat sebelum momen window dressing usai. Mendapatkan sedikit keuntungan tentu jauh lebih baik daripada terlanjur merugi akibat harga saham anjlok.

Setelah mengenal window dressing, sekarang menyiapkan dana agar bisa lekas memulai investasi. Nah sebaiknya dana yang digunakan bukan dari alokasi kebutuhan kehari-hati atau dana darurat. Mari memilih saham secara bijak tanpa tergoda euforia sesaat saat berinvestasi agar keuangan kamu sehat dan berkelanjutan.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : -

BAGIKAN