Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa dana ETF dicatatkan di Bursa Efek Indonesia dan dapat diperdagangkan seperti instrumen saham.

Reksa dana ETF dicatatkan di Bursa Efek Indonesia dan dapat diperdagangkan seperti instrumen saham.

Berkenalan dengan Reksa Dana ETF

Frans S. Imung, Sabtu, 8 Februari 2020 | 08:12 WIB

JAKARTA, investor.id - Instrumen reksa dana sudah cukup dikenal luas di kalangan investor pemula. Namun jika menyebut nama reksa dana ETF (Exchange Trade Fund), mungkin baru dikenal di kalangan terbatas. Dibanding reksa dana konvensional yang selama ini cukup dikenal, ETF memang punya karakteristik berbeda. Itu sebabnya, instrumen ini masuk kelompok reksa dana nonkonvensional.

Sesuai namanya ETF merupakan investasi yang berbentuk kontrak investasi kolektif, tetapi unit penyertaannya dicatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, atau Jepang, produk ini cukup diminati sebagai alternatif investasi.

Seperti pada reksa dana konvensional, ETF pun memiliki underlying assets. Reksa dana saham yang diterbitkan satu manajer investasi misalnya, punya underlying berupa beberapa saham yang jadi andalan. Sedangkan underlying ETF berupa indeks tertentu yang sudah resmi menjadi indeks acuan di Bursa Efek Indonesia, seperti IHSG, LQ45, atau Investor 33. Dengan demikian, membeli satu produk ETF seperti membeli satu basket (keranjang) efek isinya saham yang menjadi acuan indeks bersangkutan. Jika indeks acuannya adalah LQ45, maka underlying ETF tersebut adalah 45 saham paling likuid versi BEI.

Seperti halnya reksa dana yang umum dikenal, ETF pun berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) antara manajer investasi (MI) dan Bank Kustodian (BK). Yang membedakan, unit penyertaan ETF dicatatkan dan diperdagangkan di bursa seperti saham. Sedangkan reksa dana terbuka tidak dicatatkan di bursa. Membeli reksa dana terbuka bisa melalui wakil agen penjual seperti bank atau langsung pada MI sebagai penerbit.

Karena dicatatkan di bursa, investor dapat membeli atau menjual produk ETF ini melalui bursa saham. Transaksi jual atau beli dapat dilakukan sepanjang hari bursa berlangsung. Pergerakan harga ETF bisa dipantau saat investor memasukkan order beli atau jual. Sedangkan harga reksa dana konvensional NAB/UP, terutama reksa dana saham, ditentukan pada akhir jam perdagangan bursa.

Karena harga penjualan atau beli ditentukan secara real time, ETF memiliki keunggulan dari sisi timing/momentum saat keputusan diambil. Jika menjelang penutupan sesi pertama perdagangan bursa muncul informasi signifikan yang bisa membuat harga saham terkoreksi, investor bisa menjual unit ETF sebelum harga terkoreksi lebih jauh. Sedangkan investor reksa dana yang ingin melepas unitnya saat harga saham turun, perhitungannya mengacu pada harga penutupan transaksi.

Seperti halnya membeli reksa dana konvensional, investasi pada instrumen ETF juga butuh biaya. Selain biaya manajer investasi dan biaya bank kustodian, investor perlu mengeluarkan biaya transaksi lewat broker (transaction fee). Namun biaya-biaya ini tergolong sangat rendah. Sedangkan pada reksa dana konvensional, berlaku biaya subscription fee maupun redemption fee, umumnya dengan standar yang relatif lebih tinggi dibanding tarif transaction fee pada broker.

Transaksi ETF juga relatif mudah dan cepat dari sisi administratif, karena investor tidak perlu mengisi formulir pembelian atau penjualan. Cukup dengan membuka aplikasi transaksi online yang disediakan perusahaan sekuritas, seorang investor sudah bisa bertransaksi ETF. Dana yang diterima dari hasil penjualan ETF akan ditransfer ke rekening investor yang bersangkutan setelah dua hari bursa atau T+2.

Seperti lazimnya berinvestasi di mana pun, ETF juga melekat dengan risiko. Risiko utama adalah soal likuiditas. Idealnya, setiap ada investor yang ingin menjual ada yang akan membeli. Begitupun sebaliknya, jika investor ingin membeli ETF akan ada pihak lawan yang menjualnya. Namun, terbukan kemungkinan, saat seorang investor ingin membeli atau menjual, tidak langsung bertemu lawan transaksi secara cepat karena pasar yang seang kurang likuid. Seperti halnya membeli saham di bursa maupun reksa dana terbuka, ETF juga melekat dengan risiko perdagangan, sehingga investor bisa menderita kerugian karena turun atau naiknya harga efek.

 

 

 

 

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA