Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Listing PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) di BEI, Rabu (29/1/2020). Sumber: BSTV

Listing PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) di BEI, Rabu (29/1/2020). Sumber: BSTV

Fenomena Auto Rejection

Rabu, 29 Januari 2020 | 15:55 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

JAKARTA, Investor.id - Fenomena saham baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami auto rejection (pembatasan maksimum dari kenaikan harga saham) rupanya tidak mengenal musim. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masuk dalam level terendah karena panic selling akibat berbagai kasus yang terjadi di Tanah Air, buntut kasus Jiwasraya yang menyeret sejumlah manajer investasi (MI), tidak mempengaruhi fenomena auto rejection.

Terbaru adalah saham PT Putra Rajawali Kencana Tbk atau Pura Trans (PURA) yang melantai di BEI hari ini, Rabu (29/1). Emiten ke-8 yang IPO tahun 2020 itu pada perdagangan perdana mengalami auto rejection, atau harganya naik 70% dibanding saat IPO (initial public offering) sebesar Rp 105. Jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 1,8 miliar saham atau setara 33,95% .

Sejumlah analis mengatakan, auto reject ke atas pada saham-saham baru belum bisa dikatakan bahwa sahamnya diminati publik karena kenaikan harga seringkali terjadi dalam volume perdagangan yang kecil. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa saham yang baru listing itu sifatnya spekulatif. Bagi investor yang menyukai saham spekulatif memang meminati saham tersebut. Pasalnya, tidak sedikit investor yang memang gemar dengan saham-saham IPO maupun transaksi saham yang bersifat spekulatif.

Meskipun demikian, banyak juga saham-saham baru yang memang mempunyai fundamental yang baik. Selain itu, ada juga saham-saham IPO memang ditawarkan dengan harga yang lebih murah sehingga mempunyai potensi untuk naik. Hanya saja, jika volume transaksinya kecil tetapi saham tersebut harganya melejit, investor perlu mewaspadai.

Apa sebenarnya auto rejection? Auto rejection ialah mekanisme perdagangan yang diterapkan BEI berupa pembatasan maksimum dan minimum dari suatu kenaikan dan penurunan harga saham sehingga perdagangan saham tetap dalam keadaan wajar.

Mekanisme auto rejection yang terbaru diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Januari 2016. Dalam surat keputusan Direksi BEI nomor 00113/BEI.12-2016, BEI memberlakukan batas baru auto rejection atau penolakan otomatis oleh Jakarta Automated Trading System (JATS).

Melalui regulasi tersebut, BEI menentukan batas tertentu bagi kenaikan dan penurunan harga saham dalam sehari perdagangan. Jika melampaui batas tersebut, secara otomotis aktivitas saham akan tertolak oleh sistem.

Batas Auto Rejection

1. Untuk perdagangan perdana saham yang baru dicatatkan (IPO) berlaku batasan kenaikan harga 70% untuk harga saham Rp 50-Rp 200, sedangkan batasan 50% untuk saham dengan rentang harga Rp 200-Rp 5.000, dan 40% untuk saham di atas Rp 5.000.

2. Di pasar sekunder batasan auto rejection adalah 35% bagi saham yang memiliki rentang harga Rp 50-Rp 200, sebesar 25% bagi saham antara Rp 200-Rp 5.000, dan 20% bagi saham di atas Rp 5.000.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN