Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gaya hidup frugal bisa diterapkan dalam menghadapi situasi pandemi

Gaya hidup frugal bisa diterapkan dalam menghadapi situasi pandemi

Gaya Hidup Frugal, Cocok untuk Hadapi Situasi Pandemi

Sabtu, 13 Maret 2021 | 14:36 WIB
Windarto

, Investor.id - Pandemi telah mengubah banyak hal, termasuk gaya hidup masyarakat. Selain masyarakat lebih peduli pada masalah kesehatan, ekonomi yang juga menjadi sulit menuntut perubahan dalam mengelola keuangan agar bisa melewati hari-hari tanpa kesulitan memenuhi kebutuhan. Belakangan dikenal istilah frugal living seiring kondisi pandemi. Apa itu gaya hidup frugal? Frugal secara sederhana diartikan sebagai gaya hidup hemat, minimalis, dan cermat dalam mengambil keputusan agar tidak ada pengeluaran yang berlebih atau sia-sia.

Menjalani gaya hidup frugal berarti kita memprioritaskan pada pengeluaran yang penting dibandingkan dengan pengeluaran tidak penting. Mungkin pilihan gaya hidup ini terlihat kurang menyenangkan bagi kalangan milenial yang cenderung konsumtif. Tidak jarang mereka yang menerapkan gaya hidup frugal dijuluki 'pelit'. Apakah gaya hidup frugal identik dengan pelit? Ternyata tidak.

Branding and Communication Strategist MiPower by Sequis Ivan Christian Winatha, mengatakan, gaya hidup frugal berarti mengutamakan nilai suatu barang, yaitu bukan dari harganya melainkan kualitasnya. Contohnya, jika membeli sepatu baru karena sepatu yang ada sudah rusak maka akan memilih sepatu dari bahan yang tahan lama untuk jangka panjang meskipun harga sedikit lebih mahal, bukan sepatu murah yang hanya bertahan beberapa bulan. Jadi, gaya hidup ini bukan pelit, justru menghindari segala sesuatu yang bersifat boros.

Branding and Communication Strategist MiPower by Sequis Ivan Christian Winatha. Gaya hidup Frugal bisa diterapkan untuk menghadapi situasi pandemi
Branding and Communication Strategist MiPower by Sequis Ivan Christian Winatha. Gaya hidup Frugal bisa diterapkan untuk menghadapi situasi pandemi

“Dengan disiplin menerapkan gaya hidup frugal sejak dini kita akan terbiasa melakukan prioritas saat akan berbelanja termasuk pada hal-hal yang kita anggap penting pun tetap melakukan pertimbangan. Dampak panjangnya, lebih mudah meraih kebebasan finansial karena tidak terlilit utang dan bisa menikmati hidup seandainya kelak memilih untuk pensiun dini” sebut Ivan.

Bagaimana cara memulai gaya hidup ini? Hal pertama yang disarankan Ivan adalah mengevaluasi kembali cash flow. Anggaran yang hanya memberi kesenangan sesaat dan tidak terlalu mendesak sebaiknya dicoret. Dengan menghilangkan atau mengurutkan pengeluaran dari yang paling perlu ke pengeluaran yang bisa ditunda maka pengeluaran yang tidak diperlukan dapat dikurangi sehingga dapat meningkatkan jumlah uang yang bisa ditabung.

Selanjutnya, catat pengeluaran harian agar mudah untuk melakukan evaluasi pada bulan berikutnya bilamana pendapatan atau gaji berikutnya diterima. Hal kedua, yaitu memanfaatkan promo dan diskon dan terapkan hanya untuk barang yang memang benar-benar dibutuhkan. Dengan memanfaatkan promo berarti bisa menghemat pengeluaran dan ada sisa uang yang bisa disimpan.

Kemudian, hilangkan keinginan untuk mendapat pengakuan status sosial dari lingkungan atau lebih tren dengan istilah ‘pansos’ karena `pansos` bukanlah kebutuhan tapi keinginan atau gengsi yang dapat menyebabkan keinginan mendadak yang besar untuk membeli barang-barang yang dianggap penting walau sebenarnya tidak penting, seperti mengganti gadget berbasis Android menjadi iOS demi ikut aplikasi kekinian clubhouse. Padahal, informasi bisa didapatkan dari sumber lainnya, seperti discord group, portal berita, webinar, YouTube, dan podcast.

“Ketika kita menganggap ekspektasi orang lain atas diri kita terlalu penting sampai membeli barang yang sangat mahal tentunya akan berbahaya bagi kesehatan finansial, kesehatan fisik, dan jiwa. Milenial perlu bijaksana untuk mengetahui perbedaan kebutuhan dan keinginan dan memilah mana yang harus dipenuhi segera dan yang masih bisa ditunda atau dihilangkan. Penuhi saja apa yang kita butuhkan, bukan apa yang orang lain nilai bahwa kita membutuhkannya,“ sebut Ivan.

Terkait pengaruhnya pada kesehatan, Ivan menyarankan agar milenial memiliki asuransi kesehatan dan menjadikannya sebagai prioritas sesegera mungkin karena asuransi adalah upaya melindungi aset dengan cara murah dan terjangkau jika dimiliki sedini mungkin karena usia milenial masih memungkinkan untuk mendapatkan premi terjangkau dan manfaat yang lengkap. “Saat terkena risiko sakit tanpa ditanggung oleh asuransi kesehatan pastinya akan menjadi beban tambahan finansial kita dan keluarga serta mengurangi kesempatan yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal-hal yang sifatnya produktif. Melalui asuransi, salah satunya Sequis Q Infinite MedCare dengan limit pertanggungan hingga Rp90M per tahun jika harus dirawat inap maka semua biaya perawatan ditanggung sesuai tagihan dan plan yang diambil sehingga sangat sesuai dengan gaya hidup frugal, yaitu gaya hidup yang memilih untuk hemat, minimalis, dan cermat dalam mengambil keputusan,” tutup Ivan.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN