Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: Black Swan

Foto ilustrasi: Black Swan

Istilah "Blalck Swan" di Pasar Finansial

Listyorini, Selasa, 11 Februari 2020 | 16:39 WIB

JAKARTA, Investor.id – Belakangan ini istilah "Black Swan" sering dipakai untuk menggambarkan pasar finansial saat ini. Kasus PT Asuransi Jiwasraya ternyata seperti kotak pandora yang membuka borok-borok permainan di pasar saham yang menyeret beberapa perusahaan asuransi, dan sejumlah manajer investasi (MI). Dampaknya, pasar saham Indonesia terguncang.

Banyak analis mengatakan bahwa kasus Jiwasraya, dan wabah virus korona adalah fenomena "Black Swan" yang mengguncang pasar saham di Indonesia. Apa itu Black Swan? Black Swan adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dugaan dan menimbulkan kegemparan di pasar finansial.

Istilah "Black Swan" (Angsa Hitam) populer pada abad ke-17, yang bermula dari asumsi masyarakat Eropa bahwa semua angsa berwarna putih. Padahal, ada angsa hitam yang hidup di alam liar. Dalam konteks ini, angsa hitam (Black Swan) sering dilihat sebagai simbol untuk sesuatu yang tidak terprediksi dan berdampak besar, sesuatu yang luar biasa di luar kendali, atau sesuatu yang semestinya eksis dalam anggapan umum.

Di era modern, istilah ini dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb, mantan trader Wall Street yang kemudian menjadi penulis dan profesor kenamaan di bidang keuangan. Buku karangannya yang berjudul "The Black Swan" (2007) menjadi best seller.

Menurut Taleb, fenomena Black Swan terjadi dengan tidak diramalkan sebelumnya, seperti revolusi di bidang teknologi informasi dengan munculnya internet, peristiwa 11 September 2001, krisis subprime mortgage tahun 2008 yang membangkrutkan Lehman Brothers , dan sebagainya.

The Black Swan berisi pandangan Taleb tentang probabilitas, lemahnya prediksi, hingga upaya pencarian pola. Ulasan terkait buku itu terungkap dari kalimat, "cukup dengan munculnya seekor angsa hitam, maka anggapan umum selama ini bahwa tak ada angsa hitam bakal rontok, tak berlaku lagi."  Ungkapan ini untuk menggambarkan peristiwa yang membawa ketidakpastian. Rasionalisasi manusia terhadap suatu fenomena itu sebenarnya penuh kelemahan.

Berikut sejumlah peristiwa yang menggemparkan dunia finansial yang dianggap sebagai fenomena Black Swan.

1. Krisis Finansial Asia (1997) Pemicu Krisis Finansial Asia adalah keputusan Thailand untuk melepas pegging (patokan) nilai tukar Bhat terhadap Dolar AS. Keputusan itu berdampak domino hingga terjadi devaluasi mata uang di seluruh Asia Tenggara dan Asia Timur. George Soros dituduh memicu krisis ini. Di Indonesia, krisis ini menjadi pemicu tumbangnya Orde Baru.

2. Pecahnya Dot Com Bubble (2000). Seiring dengan meluasnya penggunaan internet di seluruh dunia, bisnis-bisnis daring yang disebut juga "perusahaan Dot Com" mengalami peningkatan pesat. Harga sahamnya meroket, mendadak sejumlah perusahaan mayor seperti Dell dan Cisco melakukan aksi jual atas saham-sahamnya, sehingga memicu panic selling. Akibatnya, dalam waktu kurang dari sebulan, nyaris satu triliun dolar AS hangus dari pasar. Indeks komposit NASDAQ yang sempat naik 682% pada Maret 2000, terjun bebas hingga 78%. Meski sejumlah perusahaan Dot Com dari masa itu masih sukses hingga kini, seperti Amazon, eBay, dan Netflix, tetapi tak sedikit perusahaan teknologi AS yang terlindas oleh insiden Black Swan ini.

3. Bangkrutnya Lehman Brothers (2008). Lehman Brothers termasuk salah satu perusahaan jasa keuangan kawakan dunia dan menempati posisi bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat. Namun, pada 15 September 2008, Lehman Brothers mendadak mendeklarasikan kebangkrutan. Kebangkrutan Lehman Brothers sekaligus mengungkap kebobrokan praktek sertifikasi utang sektor properti dalam sistem finansial AS yang kemudian dikenal dengan istilah Krisis Subprime Mortgage. Dampak domino yang lebih besar dari peristiwa Black Swan ini berhasil terhindarkan, setelah pemerintah Amerika Serikat menyalurkan dana untuk mem-bail out perusahaan-perusahaan keuangan bermasalah yang berpusat di sana.

4. Keputusan Inggris Keluar dari Uni Eropa pada referendum Brexit (2016). Sebelum hasil referendum Brexit diumumkan, konsensus analis menilai Inggris tidak siap untuk keluar dari Uni Eropa. Akan tetapi, realita berkata berbeda. Kubu Pro Brexit unggul dengan selisih tipis versus Kubu Pro Uni Eropa, sehingga seketika mengubur Pounds di level terendah dalam 31 tahun (sejak 1985) versus Dolar AS. Secara global, kepanikan pasca pengumuman hasil referendum tersebut menghapus sekitar $ 2 triliun dari pasar finansial dunia.

*** Dari berbagai sumber.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA