Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperhatikan layar pergerakan saham di galeri sekuritas, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Karyawan memperhatikan layar pergerakan saham di galeri sekuritas, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Kiat Investasi Saham

Listyorini, Jumat, 16 Agustus 2019 | 10:39 WIB

Jakarta, investor.id – Masih banyak kaum mienial yang belum paham tentang investasi saham. Berdasarkan polling yang diadakan oleh New Harris melalui sebuah aplikasi bernama Stash, hampir 80% generasi milenial tidak berinvestasi di pasar modal, 34% di antaranya mengatakan sulitnya memahami cara kerja investasi saham.

Untuk memulai investasi dalam bentuk portofolio saham, pengetahuan dasar yang harus dipahami adalah harus tahu kapan saat yang tepat untuk membeli dan kapan harus menjual. Selain itu, harus mengerti strategi penting mitigasi risiko kerugian dalam investasi saham.

Waktu untuk Membeli

Mengutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), waktu yang tepat untuk membeli saham dapat dilihat dari dua hal, yaitu berdasarkan analisis fundamental dan teknikal.

1. Analisis fundamental mengacu pada analisa melalui pendekatan kondisi ekonomi, politik, atau bahkan melihat tren perkembangan usaha yang ada. Analisis ini salah satunya bisa dilihat dari laporan keuangan.

2. Analisis teknikal, merupakan analisa saham melalui pendekatan pergerakan saham pada suatu rentang waktu, termasuk didalamnya adalah harga dan fluktuasinya, serta informasi mengenai titik tertinggi dan terendah dari suatu saham. Perlu diingat, harga disini bukan semata-mata harga yang murah, tapi harga saham dari perusahaan yang pantas untuk dibeli.

Selain itu, hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli saham antara lain adalah profil dan tingkat likuiditas perusahaan, fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tren pasar, return on equity (ROE) atau laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut, sales atau penjualan, dan earning per share (EPS) growth.

Selain memperhatikan poin-poin di atas, terdapat tiga strategi dalam membeli saham yaitu:

1. Buy On Weakness yaitu membeli ketika harga saham sudah turun ke level tertentu yang aman untuk dibeli.

2.   Buy If/On Breakout yaitu membeli ketika harga saham berhasil menembus level tertentu atau naik menembus resistance (level tertingginya).

3.   Buy on Retracement yaitu membeli saham setelah terjadi breakout atau harga bawah. Saham yang berhasil breakout pada umumnya akan langsung mengalami kenaikan yang kencang.

Waktu untuk Menjual

      Waktu yang tepat untuk menjual saham adalah ketika harga sedang naik atau disebut juga profit taking, Tapi, bagaimana kalau harga turun? Waktu yang tepat untuk menjual saham salah satunya dengan menetapkan cut loss.

     Cut Loss adalah istilah yang dipakai ketika kita menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga belinya, sehingga kita mengalami kerugian (loss). Keberadaan cut loss ini bukan untuk merealisasikan kerugian, tetapi untuk mencegah kerugian yang lebih besar lagi karena harga saham yang kita pegang terus turun. Contoh, ketika menentukan batasan cut loss di angka 5% atau 7%, maka ketika kerugian sudah mencapai kisaran angka tersebut, saham bisa dijual.

     Cut loss dianjurkan untuk dilaksanakan oleh para investor dan trader guna menjaga modal yang dimiliki. Waktu untuk melaksanakan cut lossberbeda-beda, tergantung  dari posisi kita, apakah sebagai trader atau investor.

      Bagi trader aktif, jika saham yang dipegang akan turun terus, lebih baik segera melakukan cut loss. Kuncinya adalah dengan berupaya mengetahui arah pergerakan saham tersebut, apakah akan naik, turun, atau sideways dalam kurun waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari beberapa bulan tergantung dari jangka waktu trading kita.

     Bagi investor, cut loss bisa dilakukan ketika terjadi perubahan fundamental yang bisa dilihat dari kinerja perusahaan. Beberapa hal bisa dijadikan alasan mengapa harus melakukan cut loss, antara lain ketika adanya berita buruk terkait perusahaan yang bersangkutan dan atau jika terjadi penurunan IHSG.

     Ada dua cara yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan titik cut loss sebuah saham, yaitu berdasarkan harga beli dan berdasarkan titik support. Titik support sendiri merupakan tingkat atau area harga yang diyakini sebagai titik terendah.

      Apabila berdasarkan harga beli kamu sudah menetapkan batas cut loss sejak awal sebesar 5% atau 7%, cara ini dianggap kurang fleksibel karena tidak mempertimbangkan prospek pergerakan harga saham ke depannya. Lain halnya dengan patokan berdasarkan titik support, batasan cut loss bisa ditetapkan dengan melihat rekomendasi saham harian yang biasanya dikirimkan oleh sekuritas. Biasanya dituliskan dengan judul “Cut Loss If”. Cara ini dinilai lebih fleksibel karena mengikuti pergerakan naik dan turunnya harga saham tanpa menetapkan terlebih dahulu.

Perlu diingat, semua jenis investasi, pasti memiliki risiko. Namun, seperti perkataan Warren Buffet, Risk comes from not knowing what you are doing.” atau risiko datang ketika kamu tidak mengetahui apa yang kamu lakukan. Pahami jenis investasinya dan cara kerjanya sehingga kita mengetahui apa yang bisa kita lakukan dan bisa mengurangi atau bahkan menghindari kerugian.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA