Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Super Investor Saham Indonesia Lo Kheng Hong (kanan) membuka perdagangan saham di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/11). Lo Kheng Hong menyarankan, agar investor tidak salah dalam memilih saham,
serta harus paham kondisi fundamental emiten, seperti melihat manajemen, bidang usaha, laba perusahaan,
dan valuasi harganya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Super Investor Saham Indonesia Lo Kheng Hong (kanan) membuka perdagangan saham di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/11). Lo Kheng Hong menyarankan, agar investor tidak salah dalam memilih saham, serta harus paham kondisi fundamental emiten, seperti melihat manajemen, bidang usaha, laba perusahaan, dan valuasi harganya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Lo Kheng Hong Nilai Investasi Kripto Sangat Berisiko

Sabtu, 24 April 2021 | 21:11 WIB
Lona Olivia

JAKARTA - Investor saham kawakan Lo Kheng Hong menilai pasar modal Indonesia masih menjanjikan potensi keuntungan atau gain yang luar biasa besar. Ia mengatakan, rugi jika masih ada orang yang tidak mengenal pasar modal. Hal ini berbeda dengan investasi pada aset kripto (cryptocurrency), yang tidak memiliki obyek yang menjadi dasar transaksi atau underlying asset seperti umumnya pada saham.

”Harta karun kekayaan terbesar yang ada di dunia adanya di pasar modal. Membeli saham sama seperti membeli kepemilikan di dalam perusahaan, kelihatan produksinya dan ada aset yang menyertainya. Kalau beli kripto itu asetnya apa, tidak ada, jadi sangat beresiko. Saya tidak berani sentuh kripto karena tidak ada aset berwujud yang menyertainya. MUI (Majelis Ulama Indonesia) juga sudah menyatakan (kripto) itu haram” ujarnya dalam CEO Forum yang diselenggarakan FGBMFI dengan topik Menjadi Kaya di Bursa Saham, Sabtu (24/4).

Investor yang dijuluki Warren Buffet Indonesia itu menilai, penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) akhir-akhir ini bukan karena  perpindahan portofolio besar-besaran yang dilakukan oleh para investor saham ke aset kripto. Sebab, menurut dia, hanya investor dengan dana kecil dan investor milenial yang notabene tidak memiliki dana besar sajalah yang pindah ke aset yang kekinian tersebut. “Jadi, tidak mempengaruhi (penurunan IHSG) sebetulnya,” pungkasnya.

Baru-baru ini, dalam sebuah survei yang dilakukan Populix, disebutkan bahwa 7 dari 10 orang sudah pernah mendengar tentang cryptocurrency. Populix melakukan survei terhadap 722 orang responden dengan 70 persen di antaranya berdomisili di Jabodetabek. Hasil survei tersebut menyebut mereka yang sudah pernah mendengar tentang cryptocurrency mayoritas kalangan milenial umur 25-30 tahun dan merupakan masyarakat kelas menengah dan atas.

Selain itu, Lo Kheng Hong yang kini berusia 62 tahun itu juga mengaku, tak menempatkan portofolionya pada dolar AS, emas, obligasi, dan deposito alias hanya berinvestasi saham. ”Saham is the best choice, namun masih banyak yang belum percaya. Masih banyak yang taruh di bank atau beli properti,” katanya.

Apalagi, BEI menawarkan imbal hasil tertinggi di antara bursa dunia investor jangka panjang. Sebiah studi oleh Price Water House Coopers yang dilakukan tahun 2016 pernah menunjukkan  bahwa kinerja saham-saham yang tercatat di BEI memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi di antara bursa-bursa saham utama dunia selama 10 tahun terakhir.  

Terlepas dari itu, Lo Kheng Hong meyakini tahun ini prospek ekonomi Indonesia membaik karena didukung dengan kebijakan pemerintah. "Kalau semua berjalan dengan baik, apalagi didukung suku bunga yang rendah, bertambah banyaknya investor baru, dan vaksinasi di tahun 2021, akan membuat ekonomi bertumbuh kembali," ungkap dia.

Untuk itu, dia berpesan bagi investor yang ingin masuk ke pasar modal maupun investor untuk terus menggali pemahaman dengan melakukan analisa (fundamental atau teknikal) yang memadai untuk saham yang dibelinya. Dalam arti, membaca laporan tahunan atau annual report dan laporan keuangan (lapkeu) emiten, dan hindari membeli karena rumor karena itu sangat berisiko.

Tips lainnya, pesan dia yaitu jangan pernah membeli saham perusahaan yang tidak jujur dan berintegritas. "Ini bicara tata kelola, kejujuran, dan manajemen. Jangan membeli perusahaan yang dikelola dengan tidak jujur dan berintegritas, jangan pernah sentuh," katanya.

Lo Kheng Hong pun berpesan agar para investor membeli perusahaan yang bidang usahanya bagus dan ketiga, belilah saham perusahaan yang labanya besar. ”Tuhan maha pengampun, tetapi bursa saham tidak kenal belas kasihan, tidak pernah memberi ampun kepada orang yang tidak memahami saham apa yang dibelinya. Istilahnya jangan beli kucing dalam karung," imbuh dia.

Di sisi lain, menurutnya saat ini ada beberapa saham berharga murah (undervalue) yang dapat memberikan keuntungan di masa depan. “Investasi saham tidak dikaitkan dengan IHSG, Omnibus Law, Covid, faktor ekonomi sosial dan politik. Saya hanya melihat perusahaan itu secara individual, tidak dikaitkan dengan faktor apapun. Kalau saya dapat perusahaan yang bagus dan murah yah saya beli saja, tidak usah rumit-rumit. Ibaratnya dapat mobil Mercy dengan harga Avanza yah langsung beli,” jelasnya. 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN