Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mempersiapkan dana pensiun yang mencukupi agar tidak terbebani saat melewati masa tua, juga  dapat memutus rantai generasi sandwich

Mempersiapkan dana pensiun yang mencukupi agar tidak terbebani saat melewati masa tua, juga dapat memutus rantai generasi sandwich

Memutus Rantai Generasi “Sandwich”

Sabtu, 29 Mei 2021 | 18:00 WIB
Windarto

Jakarta, Investor.id – Generasi 'Sandwich' saat ini menjadi istilah yang cukup populer untuk menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki tanggung jawab atas generasi di atas dan di bawah mereka. Di Indonesia, banyak masyarakat yang termasuk dalam kelompok ini. Di masa produktif dia harus menanggung beban hidup orang tua, sekaligus juga menanggung beban anak, atau saudara bahkan kerabat sehingga membuat perencanaan keuangan tidak optimal, akibatnya hingga pensiun beban tersebut tidak kunjung berkurang. Hal ini 'diwariskan' kepada anak-anaknya hingga melahirkan generasi 'Sandwich' berikutnya.

Perencana Keuangan Profesional dan Founder Finansialku.com Melvin Mumpuni mengatakan, Generasi sandwich terjadi karena ada orang tua yang tidak siap secara keuangan untuk membiayai pengeluaran bulanan di saat pensiun, sehingga membutuhkan bantuan anak untuk membiayai pengeluarannya. Di masyarakat, ada anggapan generasi Sandwich merupakan hal yang lumrah. Padahal kondisi itu dapat mempengaruhi kualitas hidup serta menjadi mata rantai yang sulit terputus.

Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengungkapkan bahwa generasi sandwich lebih rentan untuk mengalami stres karena memiliki tanggung jawab yang cukup besar. “Peran multi yang dijalani oleh generasi sandwich membuat mereka rentan stres karena banyaknya tekanan, antara lain masalah keuangan, kesehatan, pendidikan, dan tuntutan rumah tangga lainnya. Selain itu juga karena terbatasnya waktu dan banyaknya tugas yang harus mereka penuhi. Generasi ini kemudian cenderung mengabaikan masalah self-care bagi diri mereka sendiri,” jelas Vera.

Kentalnya kultur kekeluargaan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi salah satu faktor terbentuknya generasi sandwich. Anak dituntut untuk merawat dan membiayai orangtuanya saat sudah memasuki hari tua sebagai bentuk tanda bakti. Survei Ekonomi Nasional 2017 mengungkap sebanyak 62,64% kaum lanjut usia di Indonesia tinggal bersama anak dan cucunya.

Perencanaan finansial yang kurang matang pun dapat berujung pada terbentuknya generasi sandwich. Hal ini juga bisa terjadi karena masih sedikit masyarakat Indonesia yang menyadari bahwa perencanaan keuangan yang matang untuk masa kini dan masa depan adalah suatu hal penting untuk menjamin kehidupan di hari tua.

“Satu-satunya cara memutus rantai generasi sandwich adalah dengan mulai merencanakan dana pensiun dan mulai berinvestasi. Penting untuk menanamkan kesadaran dan kedisiplinan menabung sebagai persiapan masa pensiun sejak dini. Anda juga harus memikirkan kapan Anda akan pensiun, berapa pengeluaran bulanan saat pensiun serta berapa perkiraan hasil keuntungan di saat Anda pensiun,” tambah Melvin Mumpuni.

Dana pensiun dapat menjadi salah satu opsi terbaik bagi kita untuk tidak lagi bergantung kepada generasi berikutnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan setidaknya terdapat tiga manfaat dana pensiun. Pertama, menghindari jebakan generasi sandwich karena dengan mempersiapkan dana kebutuhan sejak dini, di masa tua tidak akan merepotkan anak maupun anggota keluarga lain.

Kedua, dana pensiun dapat menjadi bekal untuk menjalani masa pensiun karena pada usia tua pengeluaran akan lebih banyak dibandingkan dengan penghasilan. Lalu yang terakhir, dana pensiun dapat digunakan sebagai modal usaha karena setelah tidak bekerja dan memasuki masa pensiun, banyak orang mencoba mendapatkan penghasilan dari berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Head of Group Pension & Credit Life Operation Allianz Life Indonesia Yoppy Indradi Setiabudi mengatakan, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan dana hari tua. Beberapa di antaranya yang paling umum adalah menabung di bank, disalurkan untuk investasi maupun program DPLK. Dibandingkan dengan menabung di bank dan berinvestasi, DPLK merupakan “kendaraan” yang paling pas digunakan pekerja atau pengusaha untuk mempersiapkan ketersediaan dana di masa pensiun. Di samping bisa menjadi solusi keuangan bagi pensiunan atau ahli warisnya. Ketersediaan dana yang memadai saat pensiun secara berkesinambungan selama masa pensiun, tentu bermanfaat untuk membiayai hidup di hari tua saat sudah tidak memiliki penghasilan dan mampu mempertahankan gaya hidup seperti saat masih bekerja. “Tidak hanya itu, Iuran DPLK yang disetor menjadi pengurang pajak penghasilan (PPh21) dan hasil investasi di DPLK pun bebas pajak serta dikelola secara professional dan transparan,” ungkapnya.

Terdapat dua jenis dana pensiun, yakni Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Masyarakat umum, baik karyawan maupun pekerja mandiri, dapat mendaftarkan diri ke DPLK dan membayar iuran setiap bulannya untuk kemudian mencairkan uang pensiun sesuai iuran beserta pengembangannya. Dilansir dari data yang dirilis oleh OJK, dari 75 juta tenaga kerja di Indonesia, hanya 5,93% atau 4,4 juta orang yang terdaftar sebagai peserta Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Kebutuhan dana pensiun setiap orang tentunya berbeda. Oleh karena itu, penting untuk menghitung dan memperkirakan kebutuhan saat pensiun nanti. Yoppy mengatakan, untuk menghitung dana pensiun, mulailah dengan menghitung pengeluaran rutin Anda setiap bulan dan kemudian tetapkan jangka waktu. Usia pensiun rata-rata yang berlaku di Indonesia ialah 55 tahun dengan angka harapan hidup orang Indonesia yang mencapai 70-75 tahun. Artinya, Anda perlu memenuhi kebutuhan hidup selama masa pensiun 15-20 tahun sebelum tutup usia. Secara sederhana, jika pengeluaran rutin per bulan Anda sebesar Rp10 juta, artinya dalam setahun butuh dana Rp120 juta, dan dalam jangka waktu 20 tahun butuh dana Rp2,4 miliar untuk membiayai hidup Anda.

Mempersiapkan dana pensiun memang lebih baik dilakukan sejak mulai bekerja, sehingga diharapkan saat memasuki masa tua tidak lagi terbebani biaya-biaya, sehingga bisa mencapai apa yang dinamakan kemerdekaan finansial. Semua orang mengharapkan dapat mencapai kemerdekaan finansial saat memasuki masa pensiun, dan lebih penting lagi, dapat memutus mata rantai generasi sandwich.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN