Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi pemesanan ORI016/IST

Foto ilustrasi pemesanan ORI016/IST

Mengenal Investasi ORI

Listyorini, Selasa, 5 November 2019 | 16:37 WIB

JAKARTA, investor.id - Banyak instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang dipasarkan kepada masyarakat, seperti ST (Sukuk Tabungan), SBR (Savings Bond Ritel), dan ORI (Obligasi Negara Ritel Indonesia).

Belum lama ini, Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menerbitkan Obligasi Negara Ritel seri 016 (ORI-016) dengan volume pemesanan mencapai Rp 8,21 triliun, tertinggi di antara surat berharga negara (SBN) ritel yang ditawarkan secara online. ORI-016 berhasil menarik minat investor milenial yang tercermin dari jumlahnya yang mencapai 33,82% dari total jumlah investor.

Mengutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ORI pertama kali diterbitkan tahun 2006. Mulai saat itu, ORI selalu diterbitkan pemerintah minimal satu kali setiap tahunnya. Tidak seperti surat berharga negara lainnya yang dalam satu tahun bisa terbit beberapa seri, sepuluh tahun belakangan ini ORI hanya diterbitkan tiap satu tahun sekali.

Mengenal ORI

Obligasi Negara Ritel atau ORI adalah salah satu jenis surat berharga negara yang dijual oleh Pemerintah kepada investor ritel dalam bentuk tanpa warkat di pasar perdana domestik dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Sama seperti surat berharga negara lainnya, dana yang terkumpul dari penerbitan ORI sepenuhnya akan digunakan untuk pembiayaan APBN di antaranya untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, Jadi secara tidak langsung investor ORI ikut membantu pembangunan Negara Indonesia. ORI dipastikan aman karena diterbitkan oleh pemerintah.

ORI berbeda dengan surat berharga negara lainnya.  Perbedaan yang pertama adalah adanya potensi capital gain . Tentunya capital gain hanya bisa didapat bila harga jual lebih tinggi daripada harga beli. Sebaliknya, jika harga jual lebih rendah dari harga beli, investor akan mengalami kerugian. Perdagangan ORI di pasar sekunder atau bursa secara umum sama dengan jual beli saham, bedanya pada ORI menggunakan istilah “unit” dan “persen”.

Perbedaan selanjutnya, kupon ORI bersifat fixed rate atau tetap dari awal hingga akhir jatuh tempo (bila tidak dijual). Meskipun kuponnya tetap namun cukup menguntungkan karena tingkat kuponnya di atas bunga deposito bank BUMN pada saat penerbitan.

Dijual Ritel

Sesuai namanya, ORI dijual ritel agar masyarakat berkesempatan untuk membelinya. Minimal pemesanan 1 unit = Rp 1 juta hingga kelipatannya maksimal senilai Rp 3 miliar. Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa kupon ORI bersifat fixed rate, tingkat kupon ORI016 tetap sebesar 6,80% per tahun, kupon pertama akan dibayarkan pada 15 Desember 2019. Kupon atau bunga selanjutnya akan dibayarkan tiap tanggal 15 (hari kerja) setiap bulannya dan sudah dikenakan pajak/ PPh final sebesar 15%.

Meskipun dapat diperjualbelikan, ORI0 punya minimum holding period yaitu masa dimana investor  belum boleh memindahbukukan kepemilikannya. Untuk ORI016, minimum holding period-nya hingga 15 Desember 2019, setelah tanggal itu baru investor boleh memperjualbelikannya. Kalaupun tidak mau diperjualbelikan kembali, ORI masih bisa disimpan hingga jatuh tempo. Untuk ORI016, jatuh temponya 3 tahun yakni sampai 15 Oktober 2022.

Pada era digital saat ini, ORI bisa dibeli kapan saja dan di mana saja bahkan dengan hanya menggunakan smartphone karena semuanya sudah menggunakan sistem online. Pemesanan hanya dapat dilakukan selama masa penawaran. Investor bisa langsung melakukan pemesanan melalui mitra distribusi (MiDis) yang bekerja sama, seperti Bank Umum, Perusahaan Efek, Perusahaan Efek Khusus (APERD Fintech), dan Perusahaan Fintech (Peer-to-Peer Lending).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA