Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Majalah Investor menyelenggarakan literasi keuangan untuk mahasiswa Unika Atmadjaja, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi

Majalah Investor menyelenggarakan literasi keuangan untuk mahasiswa Unika Atmadjaja, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi

Menjadi Milenial yang Cerdas Keuangan

Listyorini, Senin, 23 September 2019 | 11:57 WIB

JAKARTA, investor.id – Bonus demografi berupa ledakan usia produktif bisa menjadi peluang untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi bisa juga menjadi bencana apabila tidak ditangani dengan baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, jumlah generasi millennial berusia 20-35 tahun mencapai 24 persen, setara dengan 63,4 juta dari 179,1 juta jiwa yang merupakan usia produktif (14-64 tahun). Tidak salah bila pemuda disebut sebagai penentu masa depan Indonesia.

Generasi Millenial lahir pada kisaran tahun 1980 – 2000-an, generasi pertama yang tumbuh dengan komputer dan internet sehingga lebih mudah untuk mempelajari sektor keuangan dan menerapkannya ke dalam kehidupan. Untuk berinvestasi, millenial cukup mengakses segala hal yang dibutuhkannya melalui internet di gadget mereka.

Sayangnya, mereka kurang peduli terhadap produk-produk keuangan. Gaya hidup yang dinamis ditambah minimnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan membuat mereka sulit untuk mengatur keuangan. Padahal, pengetahuan untuk mengelola keuangan semestinya ditanamkan sejak dini agar masa depannya terjamin.

Mengutip dari laman Otorititas Jasa Keuangan (OJK), keberhasilan dalam mengelola keuangan ditentukan oleh kedisiplinan untuk menjaga konsistensi gaya hidup hemat dan cerdas. Hidup hemat berbeda dengan pelit. Hidup hemat adalah mampu untuk mengutamakan kebutuhan di atas keinginan serta mengatur pemenuhan kebutuhan dengan hal-hal berkualitas secara efisien. Jadi, gaya hidup hemat bukan berarti menekan pengeluaran sehingga tidak memperhatikan kualitas, tetapi mengatur pengeluaran sesuai kebutuhan dan seimbang dengan penghasilan.

Agar berhasil dalam mengelola keuangan, sangat penting untuk menentukan tujuan supaya bisa lebih fokus dalam merencanakan keuangan.
1. Apa tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang.
2. Berapa besar dana yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut.

3. Tentukan deadline sehingga bisa memantau progress pengelolaan keuangan tersebut.

Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Kebanyakan millenial menggunakan prinsip "kamu hidup sekali (you only live once) yang membuat gaya hidup serta biaya pergaulan mereka semakin meningkat. Mereka sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika melihat barang bagus di mall, mereka langsung membeli tanpa memikirkan apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak, dan pada akhirnya menyesal telah membeli barang tersebut. Hindari membeli barang karena dasar keinginan bukan kebutuhan.

Selanjutnya, usahakan supaya tidak memiliki utang. Hindari hal-hal konsumtif seperti ajakan hangout yang terlalu sering, terutama untuk hal-hal yang belum terlalu kalian butuhkan dan bukan termasuk tujuan keuangan kalian. Sebelum membeli sesuatu, periksa dulu kondisi keuangan kalian. Jangan karena keinginan untuk tampil keren membuat kalian berhutang.

Kaum milenial dapat memanfaatkan aplikasi di gadget untuk mengetahui berbagai promo diskon. Bila ingin keuangan terkontrol tiap bulannya, bisa memakai aplikasi pengelola keuangan sehingga bisa lebih mudah mengevaluasi setiap bulannya.

Saat uang jajan atau gaji masuk ke rekening, usahakan agar membuat rencana keuangan sesuai skala prioritas. Triknya kalian bisa menerapkan rumus 40-30-20-10 dalam rencana keuangan. 40% adalah anggaran untuk keperluan sehari-hari, 30% untuk kebutuhan utang, 20% untuk investasi dan tabungan, serta 10% untuk keperluan sosial.

Tabungan, investasi, asuransi kesehatan, dan jaminan pensiun merupakan empat hal wajib yang harus masuk ke dalam rencana keuangan jangka panjang. Harga barang dan kebutuhan yang semakin meningkat membuat empat hal tersebut menjadi penting untuk dimiliki sejak dini. Bukankah menyenangkan jika bisa bergaul dan hangout,  sekaligus merasa aman karena memiliki masa depan yang terjamin?

Yang paling utama, meskipun rencana keuangan sudah sempurna, tetap tidak boleh melupakan dana darurat untuk hal-hal tidak terduga yang mungkin muncul. Jangan biarkan hal-hal tidak terduga tersebut mengganggu rencana keuangan yang sudah susah payah disusun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA