Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahiyangan Johannes Gunawan

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahiyangan Johannes Gunawan

Pahami Isi Kontrak Sebelum Tanda Tangani Produk Investasi (1)

Minggu, 16 Agustus 2020 | 08:00 WIB
Windarto

Jakarta-Salah satu prinsip yang harus diketahui dalam berinvestasi atau berasuransi adalah mengenal hak dan kewajiban. Namun seringkali masyarakat kurang begitu memperhatikan masalah ini. Padahal ini masalah dasar dan memiliki implikasi hukum. Ketika seseorang ingin membeli produk keuangan dari lembaga jasa keuangan atau investasi lainnya, pasti akan dibuat dan ditandatangani sebuah kontrak atau perjanjian antara investor (nasabah) dengan lembaga jasa keuangan. Di dalam kontrak itu sebetulnya memuat masalah hak dan kewajiban yang harus diketahui dan disepakati oleh kedua pihak.

Menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahiyangan Bandung Johannes Gunawan, sekarang ini yang menjadi persoalan besar, 99% dari kontrak yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari itu berupa kontrak standar atau kontrak baku yang dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha, sehingga penerima kontrak (calon investor atau nasabah) tidak bisa punya bargaining, tidak punya tawar-menawar makanya itu 99% kontrak disebut take it or leave it contract.

Presenter Chakry Miller memandu Webinar Literasi Keuangan Goes to Campuss (13/8)
Presenter Chakry Miller memandu Webinar Literasi Keuangan Goes to Campuss (13/8)

Johannes memberikan contoh dari hal yang paling sederhana seperti bon pembelian, di situ tertulis barang yang sudah dibeli tidak bisa ditukar atau dikembalikan. “Itu kontrak dan ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha,” katanya. Kontrak yang rumit, misalnya polis asuransi kadang-kadang selain isinya tebal, hurufnya kecil, dan memuat istilah yang tidak dikenal.

Kontrak menjadi lebih rumit karena sekarang sudah menggunaan sarana elektronik atau berbentuk digital. Disampaikan Johannes, ketika seseorang ke bank kemudian menandatangani kontrak atau perjanjian. Jika kita tidak teliti membaca perjanjian itu, seringkali ada ketentuan bahwa perjanjian itu kalau kita nggak baca teliti seringkali ada ketentuan bahwa nasabah tunduk pada peraturan peraturan yang dikeluarkan bank sekarang dan akan datang. “Apakah betul-betul fair ketentuan seperti itu? Inilah yang harus dicermati sebelum kita melakukan investasi,” imbuh Johannes dalam Webinar Literasi Keuangan Goes to Campuss bertema Cara Cerdas Berinvestasi yang Aman (13/8).

Lebih lanjut, Johannes menjelaskan, kalau kontrak elektronik itu adalah kontrak baku maka banyak sekali yang namanya klausul eksonerasi atau eksemsi, yakni klausul yang memindahkan kewajiban dari pelaku usaha atau lembaga jasa keuangan tempat kita berinvestasi ke kita sebagai investor. Kemudian ada juga mengurangi hak investor yang itu supaya kewajiban dari lembaga Jasa Keuangan itu di ringankan.

Tapi hati-hati, ada konsekuensi juga bagi para pelaku jasa keuangan tersebut. (selanjutnya ke bagian 2)

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN