Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Investor melihat layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Penyebab Naik dan Turunnya Harga Saham

Listyorini, Senin, 29 Juli 2019 | 12:09 WIB

Jakarta, investor,id - Banyak orang sukses dalam berinvestasi pada portofolio saham, tapi tidak sedikit juga yang menderita rugi karena sewaktu melakukan jual beli saham tidak memperhatikan sejumlah faktor penyebab naik turunnya harga saham.

Pada hakekatnya, harga saham sifatnya fluktuatif, bisa naik dan bisa juga turun, sama halnya dengan harga barang atau komoditas di pasar. Bagi sebagian orang, pergerakan harga saham yang fluktuatif justru merupakan seni dalam berdagang karena di sanalah terdapat potensi capital gain (keuntungan dari jual beli saham). Sebaliknya, apabila pasar statis tidak menarik minat investor, khususnya investor jangka pendek (trader).

Investor akan senang jika melihat pergerakan harga saham yang dibelinya menunjukkan tren naik, yang ditunjukkan dengan warna hijau. Demikian juga sebaliknya, apabila sahamnya berwarna merah berarti harganya turun. Dalam teori ekonomi, naik turunnya harga saham merupakan sesuatu yang lumrah karena hal itu digerakkan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Jika permintaan tinggi maka harga akan naik, sebaliknya jika penawaran tinggi harga akan turun.

Mengutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), beberapa faktor yang mempengaruhi naik turunnya harga saham suatu perusahaan dapat diklasifikasikan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam perusahaan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar perusahaan.

Faktor Eksternal:

1. Kondisi Fundamental Ekonomi Makro.

Faktor ini memiliki dampak langsung terhadap naik turunnya harga saham, seperti:

a. Naik atau turunnya suku bunga yang diakibatkan oleh kebijakan Bank Sentral Amerika (Federal Reserve).

b. Naik turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan nilai ekspor impor yang berakibat langsung pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

c. Tingkat inflasi juga termasuk dalam salah satu faktor kondisi ekonomi makro.

d. Pengangguran tinggi yang diakibatkan faktor keamanan dan goncangan politik juga berpengaruh secara langsung terhadap naik turunnya harga saham. Selain itu, hubungan antara tingkat suku bunga perbankan dan pergerakan harga saham sangat jelas. Ketika suku bunga perbankan melejit, harga saham cenderung turun.

Hal ini dapat terjadi karena beberapa kemungkinan:

- Pertama, ketika suku bunga perbankan naik, investor cenderung mengalihkan investasinya ke instrumen perbankan, seperti deposito, karena dianggap lebih menguntungkan.

- Kedua, bagi perusahaan, mereka cenderung meminimalisasi kerugian akibat peningkatan beban biaya. Hal itu disebabkan sebagian besar perusahaan memiliki utang kepada perbankan.

2. Fluktuasi Kurs Rupiah terhadap Mata Uang Asing

Fluktuasi kurs mata uang bisa berdampak positif atau negatif bagi perusahaan yang memiliki beban utang mata uang asing. Importir atau perusahaan yang memiliki beban utang mata uang asing akan dirugikan akibat melemahnya rupiah, sebab beban biaya operasional otomatis naik. Hal ini berpengaruh terhadap penurunan harga saham. Contoh: melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS seringkali melemahkan harga saham dan pada akhirnya mendorong penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

3. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi harga saham meskipun kebijakan itu masih dalam tahap wacana dan belum terealisasi. Banyak contoh dari kebijakan pemerintah yang menimbulkan volatilitas harga saham, seperti kebijakan ekspor-impor, kebijakan perseroan, kebijakan utang, kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA).

4. Faktor Panik

Berita-berita tertentu dapat memicu kepanikan yang seringkali mendorong investor untuk melepas (menjual) sahamnya. Hal itu menyebabkan tekanan jual sehingga harga saham akan turun. Dalam fenomena panic selling, para investor ingin melepas sahamnya tanpa peduli harganya, karena harganya makin jatug. Tindakan ini lebih dipicu oleh emosi dan ketakutan, bukan berdasarkan analisis yang rasional. Hindari menjual saham karena terbawa kepanikan. Analisis terlebih dahulu saham yang ingin dujual, apakah secara fundamental saham tersebut masih layak dipegang.

5. Faktor Manipulasi Pasar

Penyebab naik turunnya harga saham bisa juga disebabkan karena manipulasi pasar. Manipulasi pasar biasanya dilakukan investor-investor berpengalaman dan bermodal besar dengan memanfaatkan media massa untuk memanipulasi kondisi tertentu dengan menurunkan atau meningkatkan harga saham. Hal ini sering disebut dengan istilah rumor. Namun, penyebab oleh faktor ini biasanya tidak akan bertahan lama. Fundamental perusahaan yang tercermin pada laporan keuangan yang akan mengambil kendali terhadap tren harga sahamnya.

Faktor Internal

1. Faktor Fundamental Perusahaan

Saham dari perusahaan yang memiliki fundamental baik akan menyebabkan tren harga sahamnya naik. Sebaliknya, saham dari perusahaan yang berfundamental buruk akan menyebabkan tren harga sahamnya turun.

2. Aksi Korporasi Perusahaan

Aksi korporasi seperti kebijakan perusahaan yang diambil jajaran manajemen akan berdampak dan dapat mengubah hal-hal yang sifatnya fundamental dalam perusahaan. Contoh, aksi akuisisi, merger, right issue, atau divestasi.

3. Proyeksi Kinerja Perusahaan pada Masa Mendatang

Performa atau kinerja perusahaan dijadikan acuan bagi investor maupun analis fundamental dalam mengkaji saham perusahaan. Beberapa faktor yang menjadi sorotan adalah tingkat dividen tunai, tingkat rasio utang, rasio nilai buku/price to book value (PBV), earnings per share (EPS), dan tingkat laba suatu perusahaan.

Perusahaan yang menawarkan dividend payout ratio (DPR) yang lebih besar cenderung disukai investor karena bisa memberikan imbal hasil yang bagus. Dalam praktiknya, DPR berdampak pada harga saham.

Selain itu, EPS juga turut andil terhadap perubahan harga saham. EPS yang tinggi mendorong para investor untuk membeli saham tersebut yang menyebabkan harga saham semakin tinggi.

Tingkat PBV juga memberikan efek signifikan terhadap harga saham. Perusahaan yang memiliki tingkat rasio utang yang tinggi biasanya adalah perusahaan yang sedang bertumbuh. Perusahaan tersebut biasanya akan gencar mencari pendanaan. Meskipun demikian, perusahaan seperti ini biasanya diminati banyak investor. Sebab, jika hasil analisisnya bagus, saham tersebut akan memberikan imbal hasil tinggi (high return) karena ke depannya kapitalisasi pasarnya bisa meningkat.

Masyarakat tetap harus berhati-hati dalam memilih investasi, pastikan investasi Anda legal dan berada di bawah pengawasan OJK. Ketika berinvestasi di pasar modal, lakukan analisis yang mendalam, jangan mengambil keputusan karena terbawa emosi dan terpengaruh opini orang lain.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN