Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Memahami perbedaan Discretionary Fund dan Reksa Dana

Memahami perbedaan Discretionary Fund dan Reksa Dana

Pilih Diskre atau Reksa Dana, Pahami Perbedaannya

Frans S Imung, Jumat, 6 Maret 2020 | 15:18 WIB

JAKARTA, investor.id - Kata Diskre mungkin belum cukup familiar bagi yang baru belajar berinvestasi, namun tidak demikian dengan yang sudah lama berkutat di pasar modal. Kata ini merupakan penyederhanaan dari kata Discretionary Fund, produk investasi yang dikelola Manajer Investasi (MI). Diskre juga kerap disebut KPD, kependekan dari Kontrak Pengelolaan Dana, sebutan versi Indonesia untuk Discretionary Fund.

Baik Diskre maupun Reksa Dana (RD), sama-sama merupakan produk yang dikelola MI, sesuai mandat dari Otoritas Jasa Keuangan. Sederhananya, produk Diskre atau KPD dikelola MI berdasarkan perjanjian bilateral pemilik dana dengan MI. Ada banyak poin yang diikat dalam perjanjian tersebut, seperti hak dan kewajiban masing-masing pihak, tujuan dan batasan investasi, tanggal efektif perjanjian, biaya pengelolaan portofolio, mekanisme pelaporan, metode pemilihan dan penilaian efek, dan poin-poin lain yang disepakati kedua pihak.

Sedangkan produk RD dibentuk melalui kontrak investasi kolektif antara MI dengan bank kustodian, dengan unit investasi yang terikat dengan investor. Produk RD harus mendapatkan persetujuan OJK, sedangkan KPD tidak perlu persetujuan OJK, meski wajib dilaporkan perkembanganny. Secara umum ada beberapaperbedaan mendasar antara  kedua produk. 

Struktur perjanjian

Pada pengelolaan KPD, MI tidak perlu mendapat pernyataan efektif dari OJK. Investor yang mempercayakan dana pada pegelolaan KPD biasanya mencari manajer investasi dan bank kustodian sendiri. Tentu saja MI boleh memberi saran.

Sedangkan produk RD, berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) antara MI dengan bank kustodian. Sebelum ditawarkan pada investor, MI harus mengajukan persetujuan pada OJK untuk mendapatkan pernyataan efektif. MI yang memilih bank kustodian untuk menyimpan harta reksa dana. Investor tidak disibukkan membuat perjanjian tersendiri.

Kebijakan investasi

Portofolio investasi untuk produk KPD diperkenankan dialokasi pada efek yang ada di dalam negeri, instrumen pasar uang, serta instrumen keuangan lain yang disetujui OJK maupun efek yang diterbitkan di luar negeri. Komposisi portofolio KPD berdasarkan perjanjian antara investor dengan MI. Batasan investasi tersebut terbuka untuk dibicarakan kedua pihak, seuai dengan kesepakatan. Dana KPD juga diperkenankan untuk diinvestasikan pada reksa dana yang dikelola MI bersagkutan.

Sedangkan pilihan portofolio reksa dana umumnya instrumen pasar uang dan pasar modal, disesuaikan dengan jenis reksa dana yang diterbitkan MI. Reksa dana campuran misalnya, berisikan instrumen saham dan obligasi, maupun produk pasar uang seperti deposito. Lazimnya ada batasan investasinya, misalnya 0-70% di tempatkan di saham dan sisanya di pasar produk pasar uang.

Biaya pengelolaan

Baik investasi pada reksa dana maupun KPD, investor perlu menanggung biaya pengelolaan potofolio pada Bank Kustodian. Biasanya biaya jasa bank kustotian untuk KPD lebih murah dibandingkan produk reksa dana. Lazimnya, management fee/biaya manajer investasi untuk reksa dana berkisar 1,5%-2,5%. Sedangkan biaya bank kustodian sekitar 0,2% untuk reksadana terbuka 0,15% untuk reksa dana tertutup.

Khusus produk KPD, investor bisa saja membicarakan dan menegosiasikan besaran biaya sesuai dengan layanan yang diberikan manajer invesatasi. Jika jasa bank kustodian hanya untuk penyimpanan harta biasanya biaya yang dikenakan lebih rendah. Namun, jika ada jasa lain seperti jasa administrasi portofolio, biayanya akan disesuaikan.

Kepemilikan

Pada produk reksa dana berbentuk Kotrak Investasi Kolektif (KIK), aset seluruh investor digabungkan untuk dikelola MI. Setiap investor bisa melakukan pembelian dan penjualan sesuai nilai yang diinginkan. Itu sebabnya NAB/UP reksa dana cenderung flktuatif. Sedangkan pada produk KPD, aset masing-masing investor dipisahkan, karena kontrak pengelolaannya berbeda setiap investor. (FS)

 

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN