Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto

Pilih Investasi Pasar Modal atau Investasi Tradisional?

Jumat, 14 Agustus 2020 | 10:00 WIB
Windarto

Jakarta-Ada pertanyaan yang kerap diutarakan masyarakat, apakah berinvestasi di pasar modal itu lebih menguntungkan atau tidak sih dibandingkan dengan investasi tradisional seperti membeli emas (logam mulia) misalnya? Jika pasar modal lebih menguntungkan, buktinya saat ini harga saham berjatuhan, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun begitu dalam. Sementara harga emas malah cenderung naik terus.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Direktur PT Panin Asset Mangement Rudiyanto menukil beberapa data yang dihimpun per 7 Agustus lalu. Harga emas naik 33%, obligasi naik 4,3%, suku bunga LPS berada di angka 5,25%, tapi harga saham yang tercermin dari IHSG malah turun 18,34%. Apakah dengan fakta-fakta tersebut sebaiknya kita memilih investasi emas?

“Harga emas bisa naik bisa juga turun, itu data per 7 Agustus, hari ini saya cek yang tadinya naik 33% sekarang tinggal 27% karena harga emas dunia yang tadinya hampir US$2.100 (per troy ounce) sekarang jatuh lagi ke US$1.900, begitupun harga saham, bisa turun tapi dalam jangka panjang bisa naik” tuturnya dalam Webinar Literasi Keuangan Goes to Campuss bertema Cara Cerdas Berinvestasi yang Aman (13/8).

Presenter Chakry Miller memandu Webinar Literasi Keuangan Goes to Campuss (13/8)
Presenter Chakry Miller memandu Webinar Literasi Keuangan Goes to Campuss (13/8)

Dalam menilai sebuah investasi tidak bisa hanya dalam satu periode, misalnya cuma setahun. Harus pula dilihat dalam jangka panjangnya seperti apa. Rudiyanto membandingkan beberapa jenis investasi seperti saham, obligasi, emas, deposito, dan tabungan berdasarkan data Bursa Efek Indonesia. Dalam periode sepuluh tahun (2009-2019) diperoleh data-data sebagai berikut, jika kita menaruh uang Rp 100 ribu di saham akan menjadi Rp 255,03 (rata-rata tumbuh 9,81%), jika dibelikan obligasi negara menjadi Rp 206,4 (7,50%), disimpan di deposito menjadi Rp 186,83 (6,45%), dibelikan emas menjadi setara Rp 138,78 (3,33%), dan bila ditabung menjadi Rp 120,67 (1,74%).

“Jadi kenaikan harga emas dalam kurun waktu tersebut tidak seperti yang kita bayangkan seperti di tahun 2020, karena ada kejadian yang luar biasa seperti Covid-19 maka naiknya luar biasa,” kata Rudiyanto. Kalau misalkan kita anggap emas mengalami kenaikan 30% dan untuk saham mengalami penurunan sampai 17-18% dalam jangka panjang ternyata pasar modal juga memiliki tingkat keuntungan yang secara historis bisa lebih baik dibandingkan dengan investasi yang bersifat tradisional seperti emas.

Apakah pasar modal akan kembali seperti di awal tahun? Dalam pandangan Rudiyanto, peluang IHSG kembali seperti di awal tahun tetap terbuka. Penurunan tajam sebenarnya cuma terjadi di bulan Februari sampai Maret, setelah April sampai Agustus IHSG mulai cenderung naik lagi. Di beberapa negara yang indeks sahamnya turun pun sudah mulai kembali naik, seperti di China yang naik 8-10% AS naik 3-4%, begitupun di Malaysia.

News Director Berita SAtu Media Holding Primus Dorimulu dan presenter Chakry Miller memandu acara Literasi Keuangan goes to Campuss (13/8)
News Director Berita SAtu Media Holding Primus Dorimulu dan presenter Chakry Miller memandu acara Literasi Keuangan goes to Campuss (13/8)

Ada beberapa faktor yang menurut Rudiyanto bisa mengangkat kembali IHSG antara lain stimulus-stimulus yang digelontorkan pemerintah. Stimulus tersebut memang tidak diberikan kepada pasar modal namun memberi efek terhadap pasar modal. Perusahaan-perusahaan yang tadinya omzetnya anjlok karena pandemi bisa kembali naik. Menggeliatnya sektor riil akan berdampak positif terhadap kenaikan harga aset.

Faktor lain yang bisa mendorong kenaikan IHSG adalah suku bunga yang rendah, sehingga harga obligasi akan naik. “Dalam kondisi seperti sekarang ini, suku bunga rendah diperkirakan akan bertahan dalam 2-3 tahun ke depan. Jika bicara investasi obligasi, investasi di reksa dana pendapatan tetap atau reksadana campuran yang banyak obligasinya itu juga bisa menjadi dorongan yang positif,” tuturnya. Faktor positif lain yang juga ditunggu adalah vaksin Covid-19 yang direncanakan mulai diproduksi massal awal tahun depan.

Acara Literasi Keuangan Goes to Campuss terselenggara berkat kerja sama Majalah Investor dengan Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Prudential Indonesia, Bank Mandiri, BRI Insurance, Panin Asset Management, dan Bursa Efek Indonesia.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN