Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para Panelis Diskusi dengan Tema

Para Panelis Diskusi dengan Tema "Market Outlook dan Prospek Industri Reksa Dana 2020" masing-masing Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito, Deputi Direktur Perizinan Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) I Made B. Tirthayatra, Ketua Umum Asosiasi Bank Agen Penjual Efek Reksa Dana Indonesia (ABAPERDI) Asri Natanegeri, Sekretaris Umum Manajer Investasi Indonesia (AMII) Afifa, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri dan Pemimpin Redaksi Majalah Investor Primus Dorimulu selaku moderator saat acara Investor - Infovesta Best Mutual Fund Awards 2019 di Jakarta, Selasa (26/3/2019). Foto: UTHAN A RACHIM

Reksa Dana, Investasi bagi yang Serba Terbatas

Listyorini, Selasa, 20 Agustus 2019 | 13:08 WIB

Jakarta, investor.id - Produk investasi reksa dana sangat cocok bagi para investor yang memiliki banyak keterbatasan, seperti waktu terbatas, dana terbatas, informasi terbatas, dan pengetahuan investasi yang terbatas. Selain itu, instrumen ini juga mampu mengurangi risiko investasi karena disebarkan pada berbagai produk investasi. Tetapi bukan berarti reksa dana bebas risiko sehingga  investor tetap perlu mempelajari berbagai risiko produk ini.

Reksa dana mulai dikenal di indonesia sejak 1995 dan berkembang pesat mulai 1996. Sebagai sarana investasi, reksa dana diharapkan akan memudahkan masyarakat luas dalam berinvestasi di pasar modal. Perkembangan produk reksa dana di Indonesia relatif pesat. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, total dana kelolaan reksa dana meningkat tajam, dari Rp 272 triliun pada 2016 menjadi Rp 507 triliun per 9 Mei 2019.

Mengutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), reksa dana dibentuk oleh manajer investasi (MI) dan bank kustodian melalui akta kontrak investasi kolektif (kik) yang dibuat notaris. Di sini manajer investasi akan berperan sebagai pengelola dana investasi yang terkumpul dari sekian banyak investor untuk diinvestasikan ke dalam portofolio efek, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi, dan saham.

Sementara itu, bank kustodian akan berperan dalam penyimpanan dana atau portofolio milik investor serta melakukan penyelesaian transaksi dan administrasi reksa dana. Singkat kata, reksa dana merupakan sarana investasi bagi investor untuk dapat berinvestasi ke berbagai instrumen investasi yang tersedia di pasar meski memiliki keterbatasan dana, waktu, dan pengetahuan karena ia tak lagi perlu repot mengelola portofolio investasinya sendiri, sebab sudah dikelola oleh manajer investasi yang profesional.

Mekanisme Transaksi
Pada dasarnya, transaksi di reksa dana sangat mudah. Kita cukup mencari produk reksa dana yang sesuai, pilih manajer investasinya, baca prospektusnya, lalu lakukan pembelian (subscription) dan transfer dananya. Kita juga bisa membeli langsung melalui manajer investasi atau membelinya lewat agen (bank) yang ditunjuk. kita datang ke penjual reksa dana, membuka rekening reksa dana, mengisi formulir, menyiapkan fotokopi identitas, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak diinvestasikan untuk membeli unit reksa dana.

Sebagai bukti kepemilikan unit tersebut, kita akan mendapat sertifikat reksa dana sejumlah unit yang kita beli. Unit penyertaan reksa dana ada dua jenis.

1. Unit penyertaan reksa dana yang bisa dijual kembali kepada manajer investasi yang disebut reksa dana terbuka (open end). Sebagian reksa dana yang ada di Tanah air berbentuk reksa dana terbuka.

2. Reksa dana tertutup (close end), yakni reksa dana yang hanya bisa dijual kepada investor lain melalui pasar sekunder.

Manajer investasi merupakan elemen penting dalam transaksi reksa dana. sebab ketika kita membeli unit penyertaan reksa dana, maka kita mempercayakan pengelolaan dana tersebut kepada mereka. Yang dimaksud dengan pengelolaan dana adalah manajer investasi akan melakukan transaksi jual beli saham di bursa, di mana hasil dari pengelolaan mereka akan tercermin dalam harga unit penyertaan yang biasa dikenal dengan NAV/NAB (Net Asset Value/nilai aktiva Bersih).

     Manajer investasi mengelola dana-dana pada reksa dana yang ditempatkannya pada sebuah surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam NAB reksa dana tersebut.
     NAB merupakan salah satu tolak ukur dalam memantau hasil dari suatu reksa dana. NAB per saham/unit penyertaan adalah harga dari portofolio suatu reksa dana setelah dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan yang telah beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut. Satuan reksa dana dihitung berdasar unit penyertaan (UP) dan NAB.

     Contohnya, hari ini reksa dana X harga NAB-nya Rp1.300. Kita berencana membeli 1.000 UP, maka kita membutuhkan dana Rp1,3 juta (plus komisi/fee). Seandainya akhir tahun nanti harga NAB-nya Rp1.500 dan kita hendak mencairkan reksa dana kita, maka keuntungan kita sebesar Rp200 ribu (minus komisi/fee/pajak). Sebaliknya, andaikata harga NAB-nya turun menjadi Rp1.000, maka kerugian kita menjadi Rp300 ribu (plus komisi/fee).
      Tiap tahun (atau tengah tahun), manajer investasi akan mengirimkan kita laporan investasi reksa dana kita. Laporan inilah yang menjadi bukti/konfirmasi atas kepemilikan reksa dana kita.
     Secara umum ada empat jenis reksa dana yang bisa kita pilih. Masing-masing reksa dana tersebut dapat dibedakan menurut alokasi jenis investasi yang dilakukan. Pertama, Reksa dana pasar uang, di mana 100% invetasinya akan ditempatkan ke dalam surat berhaga efek pasar uang. Efek pasar uang adalah efek utang yang jatuh temponya kurang dari satu tahun, seperti SBI, deposito, obligasi dengan sisa jatuh tempo kurang dari satu tahun.
     Kedua, Reksa dana pendapatan tetap, dana investasi kita minimum 80% ditempatkan pada surat utang, umumnya pada obligasi. Ketiga, Reksa dana saham, di mana sebanyak minimum 80% investasinya akan ditempatkan pada saham. Dan keempat, Reksa dana campuran, yaitu dana investasi akan ditempatkan pada instrumen surat utang, saham, dan produk investasi lain yang tidak dapat dikategorikan pada ketiga jenis reksa dana sebelumnya.

Risiko Investasi Reksa dana

Sebelum kita memulai investasi di reksa dana, tak ada salahnya untuk mengecek suatu reksa dana tersebut legal atau tidak. Baik produk maupun manajer investasi serta agenpenjual raksa dana harus terdaftar dan mendapat izin dari OJK.Setiap investasi selalu disertai unsur-unsur risiko, tak terkecuali reksa dana.

Sejumlah risiko investasi reksa dana antara lain:

1. Keuntungan tidak dijamin.Investor harus menyadari bahwa dengan dengan berinvestasi reksa dana, tidak ada jaminan untuk mendapatkan pembagian keuntungan, dividen, ataupun kenaikan modal investasi.

2. Risiko umum pasar modal. Setiap pembelian efek akan melibatkan beberapa risiko pasar. Oleh sebab itu, reksa dana mungkin rentan terhadap perubahan kondisi pasar yang merupakan hasil dari: global, regional atau perkembangan ekonomi nasional; kebijakan pemerintah atau kondisi politik, pergerakan suku bunga secara umum, sentimen investor yang meluas ataupun guncangan eksternal (misalnya bencana alam, perang dan lain-lain).

3. Risiko efek. Ada banyak risiko efek yang dapat terjadi pada setiap efek, contohnya adalah kemungkinan default perusahaan penerbit pada pembayaran kupon dan/atau pokok obligasi, dan implikasi dari peringkat kredit perusahaan yang di-downgrade.

4. Rrisiko likuiditas. Risiko likuiditas dapat didefinisikan sebagai seberapa mudah sebuah efek dapat dijual pada atau mendekati nilai wajarnya tergantung pada volume yang diperdagangkan di bursa.

5. Risiko inflasi yakni risiko potensi kerugian daya beli investasi anda karena terjadinya kenaikan rata-rata harga konsumsi.

6. Risiko pembiayaan pinjaman. Jika dana pembelian unit reksa dana didapat dari pinjaman, investor perlu memahami bahwa: pinjaman meningkatkan kemungkinan untung maupun rugi; jika nilai investasi turun di bawah tingkat tertentu, investor mungkin diminta lembaga keuangan untuk menambah agunan, atau mengurangi jumlah pinjaman ke level yang disyaratkan. Biaya pinjaman dapat bervariasi dari waktu ke waktu tergantung fluktuasi suku bunga. Risiko menggunakan pinjaman harus dipertimbangkan secara berhati-hati karena mengandung risiko.

7. Risiko ketidakpatuhan. Hal ini mengacu pada risiko terhadap reksa dana dan keuntungan investor yang dapat timbul karena ketidaksesuaian terhadap hukum, aturan, etika dan kebijakan dan prosedur internal dari manajer investasi.

8. Risiko manajer investasi. Kinerja setiap reksa dana sangat tergantung antara lain pada pengalaman, pengetahuan, keahlian dan teknik, proses investasi yang diterapkan oleh manajer investasi, dan setiap kekurangan dari syarat tersebut akan berdampak buruk pada kinerja reksa dana sehingga akan merugikan investor.

Keuntungan Reksa Dana

  1. Pengelolaan secara profesional. Reksa dana dikelola oleh para profesional yang memiliki akses pada informasi dan perdagangan efek, sehingga selalu dapat meneliti berbagai peluang investasi terbaik bagi nasabahnya.

  2. Pembagian risiko. Pola pembagian risiko ini disebut "diversifikasi". Pada diversifikasi, dana investasi anda ditempatkan pada beberapa macam instrumen investasi pasar modal. Dengan demikian, risiko kerugian investasi secara keseluruhan akan lebih kecil.

  3. Kemudahan pencairan. Investasi reksa dana mudah untuk diuangkan kembali karena selain prosesnya mudah, anda diberikan beberapa pilihan investasi, dengan strategi yang sesuai dengan risiko dan keuntungan yang diharapkan.

  4. Keleluasaan investasi. Dalam reksa dana, anda leluasa memilih suatu jenis investasi dan leluasa pula untuk pindah ke jenis lainnya sesuai dengan tujuan investasi anda.

  5. Keringanan biaya. Investasi melalui reksa dana relatif lebih ringan biayanya dibandingkan bila anda melakukannya sendiri. Hal ini disebabkan karena pengelola investasi menghimpun dana dalam skala besar, sehingga dapat mengalokasikannya secara ekonomis.

  6. Keringanan pajak. Hasil keuntungan dan hasil penjualan kembali reksa dana tidak dikenai pajak, sehingga anda mendapatkan keuntungan yang bersih.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA