Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller menunjukkan uang rupiah di Bank BRI. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Teller menunjukkan uang rupiah di Bank BRI. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Rights Issue Jumbo BBRI, Ancaman atau Peluang?

Minggu, 18 Juli 2021 | 12:03 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Aksi borong asing terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dalam dua hari terakhir menjadi perhatian investor untuk mencermati aksi korporasi right issue emiten tersebut yang akan digelar tanggal 22 Juli 2021.

Berdasarkan data RTI, dalam seminggu ini tercatat netbuy asing pada BBRI sebesar Rp 170,9 miliar di semua pasar dan harga sahamnya menguat 1,05% ke level Rp 3.840 pada penutupan perdagangan Jumat (16/7/2021).

Pelaku pasar mengkaitkan aksi borong saham oleh asing ini dengan rencana RUPS Luar Biasa BBRI. Sejumlah analis menilai, tujuan right issue untuk ekspansi dengan mengakuisisi Pegadaian dan PNM berdampak positif bagi perusahaan.

Namun, investor masih menunggu berapa harga right issue dan bagaimana komposisinya terhadap pemegang saham. Apakah aksi ini menjadi ancaman atau justru merupakan peluang bagi investor.

Dalam aksi korporasi ini, BRI akan menerbitkan maksimal 28.677.086.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp 50, atau 23,25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Di sisi lain, pemerintah hanya akan menyetorkan bagiannya dalam bentuk non tunai, yakni seluruh saham Seri B milik pemerintah di Pegadaian dan PNM akan ditukar dengan saham baru BBRI (inbreng).

Konsep Teoritis

Riht issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) adalah salah satu aksi korporasi dimana emiten memberikan hak untuk membeli saham baru yang akan diterbitkan, khususnya kepada pemegang saham lama.

Investor bisa memperhatikan periode Cum date yang merupakan tanggal pencatatan investor yang berhak untuk mendapatkan right BBRI. Ex date: invetor sudah tidak mendapat hak right. Meski sahamnya dijual, investor yang membeli saham saat cum date tetap berhak mendapatkan right.

Untuk memutuskan bakal menebus atau tidak, biasanya investor menggunakan harga teoritis, harga keseimbangan pada pembukaan pasar masa trading start atau mulai dibagikannya hak ke pemegang saham lama.

Rumus harga Teoritis: ((rasio saham lama * harga closing cum date) + (rasio saham HMETD * harga exercise)) / (rasio saham lama + rasio saham baru)

Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir, prospek saham BBRI, dan kinerja keuangan BRI
Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir, prospek saham BBRI, dan kinerja keuangan BRI

Dampak terhadap Harga Saham

Analis Rivan Kurniawan dalam youtube-nya mengatakan, masih sulit untuk menebak harga right issue BBRI. Tetapi jika dipakai harga rerata 90 hari terakhir perdagangan, kemungkinan berkisar Rp 3.500 – Rp 3.900 per lembar. Dengan harga ini, kemungkinan BBRI akan mendapat dana sekitar Rp 100 triliun.

Menurut dia, right issue BBRI bisa menjadi peluang jika dihitung dari nilai buku terhadap saham.

Sebelum right issue, book value per share (BVPS) berkisar Rp 1500. Angka ini didapat dari equity BBRI saat ini Rp 191,6 triliun dibagi jumlah saham saat ini sekitar 123,3 miliar. Dengan harga saham dalam 90 hari ini rerata Rp 4000, didapat angka PBV sekitar 2,6x

Setelah RI maka BVPS menjadi sekitar Rp 1900. Angka ini didapat dari equity Rp 291,6 triliun dengan asumsi ada tambahan Rp 100 T dari right issue, dibagi 151 miliar saham (setelah penerbitan saham baru). Dan jika dibanding dengan harga saham saat ini rerata 4000 maka PBV jadi 2,1x.

Secara historical PBV dari BBRI sekitar 2,6-2,9x. Jadi dengan PBV 2,1 tergolong lebih rendah dari tahun sebelumnya. "Ini bisa menjadi kesempatan bagi pemegang BBRI".

Sementara itu, Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee, mengatakan aksi korporasi BBRI itu semakin memperkuat optimisme dari investor. Dia memproyeksikan pada tahun ini posisi saham BBRI akan terkerek ke nilai Rp 4.350. Harga BBRI akhir-akhir ini bergerak di kisaran Rp 3.800 dengan PBV di 2,37 kali.

CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto mengatakan, dalam 12 bulan ke depan, BBRI mempunyai potensi penguatan (upset) hingga Rp 5.300. Dengan posisi saat ini, masih ada ruang penguatan hingga 40%.

 


 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN