Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat perkembangan saham melalui smartphone, di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor melihat perkembangan saham melalui smartphone, di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Saran Buat 'New Comers', Invetasi Saham Lebih Untung Jangka Panjang

Sabtu, 13 Februari 2021 | 09:05 WIB
Frans S. Imung

JAKARTA - Seiring maraknya partisipasi investor milenial di pasar saham Indonesia belakangan, tak jarang ungkapan kekecewaan ditumpahkan di media sosial. Alasannya beragam. Bisa karena keliru memilih saham, terjebak tren yang salah arah, hingga mengikuti rekomendasi pesohor media sosial. Umumnya keluhan itu datang dari mereka yang hadir di pasar saham bukan untuk investasi, melainkan trading.

Prinsip pokok yang harus dipegang seorang investor adalah bahwa investasi di pasar saham merupakan investasi jangka panjang. Tidak ada rumusan baku tentang itu, tetapi fakta membuktikan, ketika membeli saham lalu mempertahankan minimal 3 tahun, dan terutama di atas 5 tahun, terbukti memberi keuntungan lebih pasti. Terutama jika membeli saham perusahaan yang punya fundamental kuat, jelas track recordnya, dan punya prospek yang terukur. Investor juga tidak dibuat sibuk untuk terus mencermati perdagangan harian yang menyita waktu.

Bila melihat data dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun, investor jangka panjang umumnya mendapatkan bonus keuntungan dalam jumlah besar. Mengapa dikatakan demikian? Fakta membuktikan, jika mengacu para pergerakan kinerja IHSG 10 tahun terakhir (2009-2018), return yang diraih seorang investor mencapai 357,02% atau rata-rata per tahun 16,41%.

Jangan lupa bahwa dalam rentang waktu 10 tahun terakhir pasar keuangan global masih terus diliputi ketidakpastian sejak krisis ekonomi AS merebak tahun 2008 dan meluas menjadi krisis ekonomi global. Dalam rentang 10 tahun itu, ada tiga periode IHSK justru mencatat posisi minus, tepatnya tahun 2013 minus 0,98%, tahun 2015 minus 12,3%, dan tahun 2018 minus 2,53%. Pernah pula IHSG hanya mencatat kenaikan tipis 3,2% pada tahun 2011. Namun pernah juga IHSG mencatat kenaikan spektakuler yakni 86,98% pada 2009 dan 46,13% pada 2010.

Pasar saham yang sangat berfluktuatif menunjukkan risiko investasi yang relatif tinggi. Untuk meminimalkan risiko, investor harus memberikan batasan besarnya alokasi aset investasi pada instrumen saham. Porsi dana investasi pada instrumen saham, harus dialokasikan dari dana investasi yang memiliki orientasi jangka panjang. Alokasi dana jangka panjang ini penting, untuk menghindari kondisi investor yang terpaksa menarik dana dan merealisasikan kerugian.

Investor yang terpaksa melakukan cut loss atau menjual saham miliknya pada harga rendah, biasanya terdesak kebutuhan saat kondisi pasar sedang tidak menguntungkan. Sementara dana investasi pada pasar saham memerlukan fleksibilitas untuk menunggu agar bisa merealisasikan keuntungan pada saat yang tepat.

Ada beberapa alasan mengapa investor harus bertahan untuk tidak merealisasikan kerugian ketiga pasar sedang turun. Pertama, gejolak yang terjadi di pasar saham merupakan konsekuensi atau refleksi dari krisis yang sedang terjadi. Ketika krisis berakhir, pasar akan segera bangkit kembali, bahkan lebih awal dari pemulihan krisis.

Kedua, ketika nilai investasi turun hingga 50% masih dalam bentuk potensi kerugian jika investor bertahan untuk tidak melepas kepemilikan. Tetapi, jika investor memutuskan untuk melakukan cut loss atau penjualan ketika nilai investasi turun, maka yang terjadi adalah kerugian nyata (realized loss) sebesar 50%.

Bila investor memutuskan untuk pindah ke jenis investasi lain, misalnya deposito, maka perlu dipikirkan berapa lama nilai investasi yang telah mengalami penurunan nilai sebesar 50% tersebut, untuk bisa kembali ke nilai awal. Artinya, jika investasi awal kita sebesar 100, dan berkurang menjadi 50, maka untuk mengembalikan nilai tersebut ke modal awal sebesar 100, dibutuhkan keuntungan (imbal hasil) investasi sebesar 100%.

 

Instrumen investasi yang paling berpeluang memberikan imbal hasil yang besar justru ada di pasar saham. Dengan demikian, investor perlu mempertimbangkan secara cermat untung rugi melepas saham saat harga turun. Perhitungkan juga potensi keuntungan yang lebih besar ketika berinvestasi jangka panjang, seperti fakta 10 tahun yang sudah diuraikan.

 

Bagaimana pun krisis tidak pernah beratahan dalam jangka panjang. Apalagi, pasar saham selalu lebih dahulu merefleksikan tren pemulihan ekonomi, sehingga portofolio investasi selalu lebih cepat rebound. Bila investor mau bersabar untuk berinvestasi dalam jangka panjang, dan tidak terpengaruh fluktuasi pasar, maka bonus keuntungan yang besar akan menanti.

 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN