Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Papan IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto Ilustrasi: Investor Daily/IST

Papan IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto Ilustrasi: Investor Daily/IST

Strategi Investasi Saham bagi Pemula

Listyorini, Senin, 28 Oktober 2019 | 10:53 WIB

JAKARTA, Investor.id - Menurut polling yang diadakan oleh New Harris melalui sebuah aplikasi bernama Stash, hampir 80% generasi milenial tidak melakukan kegiatan investasi di pasar saham. Hal ini dikarenakan 34% anak muda mengatakan sulitnya memahami cara kerja investasi saham.

Padahal, pembuatan rekening saham dan dana yang harus dikeluarkan untuk dapat berinvestasi cenderung mudah dan murah. Di Indonesia, terdapat 84,75 juta jiwa dari total penduduk merupakan kelompok usia produktif atau generasi Y, yang sekarang ini lebih dikenal dengan istilah generasi milenial.           

Mengutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengetahuan awal mengenai dunia investasi saham bisa dimulai dari pengetahuan dasar, yaitu kapan harus membeli dan kapan harus menjual saham. Strategi membeli dan menjual saham didalamnya harus memperhatikan strategi mitigasi risiko kerugian dalam berinvestasi saham.

Pertama, kapan waktu yang tepat untuk membeli saham? Waktu yang tepat sebenarnya bisa dilihat dari dua hal yaitu berdasarkan analisis fundamental dan teknikal. Analisis fundamental mengacu pada analisa melalui pendekatan kondisi ekonomi, politik, atau bahkan melihat tren perkembangan usaha yang ada. Analisis ini salah satunya bisa dilihat dari laporan keuangan emiten.

Sementara analisa teknikal, merupakan analisa saham melalui pendekatan pergerakan saham itu sendiri pada suatu rentang waktu, termasuk didalamnya adalah harga dan fluktuasinya, serta informasi mengenai titik tertinggi dan terendah dari suatu saham. Perlu diingat, harga disini bukan semata-mata harga yang murah, tapi harga saham dari perusahaan yang pantas untuk dibeli.

Selanjutnya, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli saham antara lain adalah profil dan tingkat likuiditas perusahaan, fluktuasi di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tren market, Return of Equity (ROE) atau laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut, sales atau penjualan, dan Earning per Share (EPS) Growth.

Waktu Membeli

Selain memperhatikan poin-poin penting di atas, strategi yang juga perlu diperhatiakn dalam membeli saham.

1.       Buy On Weakness yaitu membeli ketika harga saham sudah turun ke level tertentu yang aman untuk dibeli.

2.       Buy If/On Breakout yaitu membeli ketika harga saham berhasil menembus level tertentu atau naik menembus resistance (level tertingginya).

3.       Buy on Retracement yaitu membeli saham setelah terjadi breakout atau harga bawah. Saham yang berhasil breakout pada umumnya akan langsung mengalami kenaikan yang kencang.

Waktu Menjual

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk menjual saham? Waktu yang tepat dalam menentukan saat untuk menjual saham adalah tentunya ketika harga sedang naik atau disebut juga profit taking. Bagaimana kalau harga turun? Waktu yang tepat untuk menjual saham yaitu salah satunya adalah dengan menetapkan cut loss.

Cut Loss adalah istilah yang digunakan ketika kita menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga belinya, sehingga kita mengalami kerugian (loss). Keberadaan cut loss ini bukan untuk merealisasikan kerugian, tapi justru untuk mencegah kerugian yang lebih besar lagi ketika harga saham terus menurun.

 Misalnya, ketika kamu telah menentukan batasan cut loss di angka 5% atau 7%, maka ketika kerugian sudah mencapai kisaran angka tersebut, kita dapat langsung menjual saham. Cut loss dianjurkan untuk dilaksanakan oleh para investor dan trader guna menjaga modal yang dimiliki. Waktu untuk melaksanakan cut loss pun berbeda-beda, tergantung  dari posisi kita, apakah sebagai trader atau investor.

Buat trader aktif, jika saham yang dipegang turun terus, maka lebih baik segera melakukan cut loss . Kuncinya adalah dengan berupaya mengetahui arah pergerakan saham tersebut, apakah akan naik, turun, atau sideways dalam kurun waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari beberapa bulan tergantung dari jangka waktu trading kamu.

Buat Investor, cut loss bisa dilakukan ketika terjadi perubahan yang fundamental yang bisa dilihat dari kinerja fundamental perusahaan. Beberapa hal bisa dijadikan alasan mengapa harus dilakukan cut loss, antara lain ketika adanya berita buruk terkait perusahaan yang bersangkutan dan atau jika terjadi penurunan IHSG.

 Ada dua cara yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan titik cut loss sebuah saham, yaitu berdasarkan harga beli dan berdasarkan titik support. Titik support sendiri merupakan tingkat atau area harga yang diyakini sebagai titik terendah. Apabila berdasarkan harga beli kamu sudah menetapkan batas cut loss sejak awal sebesar 5% atau 7% seperti yang dicontohkan tadi, cara ini dianggap kurang fleksibel karena tidak mempertimbangkan prospek pergerakan harga saham ke depannya.

Lain halnya dengan patokan berdasarkan titik support, batasan cut loss bisa ditetapkan dengan melihat rekomendasi saham harian yang biasanya dikirimkan oleh sekuritas. Biasanya dituliskan dengan judul “Cut Loss If”. Cara ini dinilai lebih fleksibel karena mengikuti pergerakan naik dan turunnya harga saham tanpa menetapkan terlebih dahulu.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA