Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM) Yuslam Fauzi (kanan), Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto, Komisaris Utama BSM Achmad Marzuki menekan tombol tanda peluncuran secara resmi Tabungan Saham Syariah di Jakarta, 2013. BSM mengembangkan Tabungan Saham Syariah bekerja sama dengan Mandiri Sekuritas sebagai bagian Layanan Rekening Dana Nasabah (RDN) Syariah. Foto: Investor Daily/ist

Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM) Yuslam Fauzi (kanan), Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto, Komisaris Utama BSM Achmad Marzuki menekan tombol tanda peluncuran secara resmi Tabungan Saham Syariah di Jakarta, 2013. BSM mengembangkan Tabungan Saham Syariah bekerja sama dengan Mandiri Sekuritas sebagai bagian Layanan Rekening Dana Nasabah (RDN) Syariah. Foto: Investor Daily/ist

Tips Berinvestasi dalam Saham Syariah

Listyorini, Selasa, 27 Agustus 2019 | 11:15 WIB

Jakarta, investor.id - Indonesia digadang-gadang menjadi salah satu kekuatan ekonomi syariah terbesar dunia. Mengutip data Bappenas, ekonomi syariah memiliki potensi yang besar di tingkat global, yakni US$ 3 triliun atau kurang lebih Rp 45.000 triliun pada 2023.

Beragam produk investasi berbasis syariah mulai diperkenalkan, salah satunya adalah saham. Jika masih ada yang ragu apakah investasi dalam bentuk saham diperbolehkan dalam Islam, berikut penjelasannya.

Mengutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebenarnya konsep pembelian saham adalah jenis investasi yang diperbolehkan dalam Islam karena ada unsur bagi hasil. Pemegang saham tidak hanya memiliki kemungkinan untuk mendapatkan sebagian keuntungan dari perusahaan, tetapi juga mempunyai risiko yang sama besar jika perusahaan tersebut mengalami kerugian.

Contohnya, apabila kita menanamkan sejumlah dana untuk saham di perusahaan makanan, ketika perusahaan tersebut mendapat keuntungan dalam jumlah tertentu, kita akan mendapat imbasnya atau memperoleh dividen dari keuntungan tersebut. Sebaliknya, jika perusahaan itu mengalami kerugian kita akan ikut menanggung kerugiannya. Setiap ada keuntungan akan dibagi bersama, demikian juga sebaliknya jika rugi akan ditanggung bersama.

Meskipun demikian, sebagian umat Islam masih ragu akan kehalalan transaksi saham konvesional. Mereka khawatir ada bagian yang melanggar hukum Islam. Oleh karena itu, hadirlah saham syariah yang memberikan keyakinan dan keamanan bagi umat Islam yang ingin membeli saham.

 Pada dasarnya saham syariah sama dengan saham konvesional, perbedaannya adalah saham syariah mengharuskan perusahaan penerbit saham tempat kita akan menanam modal merupakan perusahaan-perusahaan yang memiliki prinsip syariah dan kegiatan operasionalnya tidak melanggar prinsip syariah. Misalnya, perusahaan yang tidak melakukan riba, perusahaan yang produknya dijamin kehalalannya, perusahaan yang tidak melakukan praktek perjudian atau perdagangan yang dilarang.

Berikut beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan dan dilakukan saat ingin berinvestasi saham syariah, khususnya di Indonesia.

1. Kenali saham yang diinginkan

Pada saat berinvestasi dengan membeli saham, berarti ada tingkat risiko dari dana yang ditanamkan. Oleh karena itu, perlu diketahui terlebih dahulu seluk-beluk tentang saham yang diinginkan sebelum membelinya ke perusahaan sekuritas maupun agen saham lainnya.

Pada saham syariah, kita wajib mengenali daftar perusahaan apa saja yang sahamnya akan dibeli. Untuk mengetahui hal ini, kita dapat mengeceknya di Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Pada daftar tersebut ditampilkan perusahaan saham yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Ada dua jenis Daftar Efek Syariah yang diterbitkan, yaitu yang bersifat periodik dan diterbitkan secara berkala pada akhir Mei atau November dalam tiap tahun serta yang bersifat tidak berkala.

2. Memastikan saham bebas dari praktik yang tidak sesuai ajaran Islam

Setelah mengetahui daftar perusahaan yang sahamnya bisa dibeli untuk berinvestasi  syariah, langkah berikutnya adalah memeriksa ketepatan perusahaan tersebut. Pastikan bahwa saham yang terdaftar, bebas dari praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Syarat-syarat tersebut seperti berikut ini:

a.       Jenis usaha, produk barang atau jasa, serta akad dan pengelolaan perusahaan tidak boleh berseberangan dengan prinsip syariah.

b.      Perusahaan wajib menandatangani dan memenuhi ketentuan akad sesuai dengan prinsip syariah.

c.       Perusahaan wajib memiliki Syariah Compliance Officer (SCO) untuk menjelaskan prinsip syariah yang dianutnya. SCO adalah pejabat atau petugas di lembaga atau perusahaan yang telah disertifikasi Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia sebagai tanda bahwa ia memahami konsep syariah di pasar modal.

3. Datangi perusahaan sekuritas

Jika memang berniat berinvestasi dengan saham syariah, segera datangi perusahaan sekuritas terpercaya yang menjual saham syariah yang diinginkan. Pastikan perusahaan sekuritas tersebut diakui Otoritas Jasa Keuangan. Mintalah penjelasan secara rinci dari petugas perusahaan sekuritas tersebut untuk menjadi pembanding dan pelengkap informasi . Setelah itu, isi formulir yang diperlukan. Jika ragu untuk berinvestasi dalam saham syariah, bisa dipertimbangkan investasi reksadana syariah yang memiliki risiko lebih kecil.

Berinvestasi dengan cerdas akan memberikan keuntungan yang menarik. Sikapi uangmu dengan bijak, dan cerdas dalam mengelolanya untuk mempersiapkan masa depan sejahtera.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA