Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: Tren bearish (beruang) vs bullish (banteng)

Foto ilustrasi: Tren bearish (beruang) vs bullish (banteng)

Tips Investa Menghindari Kebangkrutan dalam Saham

Listyorini, (Listyorini)  Minggu, 14 Juni 2020 | 11:11 WIB

JAKARTA, Investor.id – Di tengah pandemi virus corona (Covid-19), minat masyarakat untuk investasi saham meningkat cukup signikan karena dengan tinggal di rumah mereka dapat melakukan trading sendiri.

Karakter investasi saham adalah high return high risk (menjanjikan keuntungan cukup besar tetapi juga mempunyak risiko yang cukup besar pula). Di tengah pergerakan saham dengan volatilitas sangat tinggi, tak sedikit para investor yang menderita kerugian karena harganya anjlok cukup dalam dari posisi tertinggi awal tahun.

Di sisi lain, banyak investor pemula yang tertarik untuk berinvestasi karena trading saham relatif mudah dan bisa dilakukan di rumah saja. Terlebih lagi, harga saham saat ini relatif sangat murah setelah anjlok pada Maret akibat pandemi virus corona.

Komunitas Investa, kelompok investor di Bursa Efek Indonesia, memberikan pelatihan kepada investor pemula agar mereka tidak terjebak kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan bisnis barunya, yakni trading saham.

Ketua Umum LP3I Investa, Hari Prabowo, mengatakan banyak investor yang sudah lima tahun lebih investasi saham tetapi belum mempunyai pengetahuan yang memadai sehingga tidak jarang yang menderita kerugian.

Hari Prabowo memberikan tips yang perlu menjadi bekal bagi para pemula jika mereka tertarik untuk investasi di pasar modal, yang saat ini pergerakannya sangat volatile akibat ketidakpastian ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19.

1. Pengetahuan.

Pengetahuan tentang pasar modal sangat diperlukan, seperti pemahaman tentang fundamental analis, teknikal analisis, dan bandarmologi. Dengan pemahaman tersebut, minimal investor tidak salah dalam mengambil keputusan untuk buy or sale terhadap sahamnya.

Pengetahuan akan mendorong investor untuk membuat strategi terhadap keputusan investasinya apakah mau investasi jangka pendek (trading), atau investasi jangan panjang (investor).

Dalam kondisi pasar yang volatile karena ketidakpastian ekonomi, ada baiknya untuk mencoba strategi trading jangka pendek, dengan dibekali pengetahuan tentang informasi yang cukup. Informasi itu, antara lain pergerakan saham di bursa AS, regional, dan juga perkembangan harga minyak, mengingat banyak emiten di bursa terkait dengan bisnis perminyakan.

Cermat dalam mengikuti berita tentang aksi korporasi, karena sangat menentukan pergerekan saham. Contohnya, aksi akusisi, pembagian dividen, dan lainnya sangat signifikan mendorong pergerekan harga saham,.

2. Psikologi.

Calon investor harus menyiapkan psikologi, dan harus bersiap untuk gagal atau untung berlipat kali. "Motto investasi di pasar saham adalah sifat ketidakpastian. Justru itu seninya, dalam volatilitas harga kita bisa mengambil keuntungan," katanya.

Kesiapan psikologi ini sangat diperlukan, agar modal yang kita tanam di saham membuat kita bisa tidur nyenyak. Bukan sebaliknya karena kegagalan dalam investasi malah membuat kita stres dan akhirnya jatuh sakit.

Untuk itu, ia menekankan perlunya kedisiplinan dalam membuat strategi dalam investasi. Jangan "terlalu takut, dan juga jangan tamak." Dalam situasi tidak menentu seperti saat ini, keuntungan 5% per hari sudah bisa take profit untuk saham-saham yang memang ditujukan investasi harian.

Menurut Hari, masing-masing orang mempunyai psikologi yang berbeda-beda. Demikian juga saham, masing-masing mempunyak karakter dalam membuat kurva. Jadi sesuaikan karakter tersebut agar kita nyaman dalam berinvestasi.

Perlu dipahami bahwa pasar sangat kuat yang tercermin pada nilai kapitalisasi, yang pada perdagangan Jumat (12/6/2020) mencapai Rp5.644,056 triliun. "Investasi kita hanya seperti butiran debu dibanding kapitalisasi pasar, jadi jangan melawan pasar," katanya.

Artinya, ketika pasar sedang jatuh, jangan kita menganggap saatnya untuk beli, tetapi harus dilihat trennya karena bisa jadi besok masih akan terperosok lagi. Itulah pentingnya menganalisa secara teknikal, fundamental, dan bandarmologi.

3. Manajemen Keuangan

Melakukan investasi di saham haruslah menggunakan dana yang benar-benar dikhususkan untuk investasi mengingat risikonya tinggi. Dengan demikian, jika terjadi kegagalan dalam mengambil keputusan beli (buy), investor masih bisa menunggu sampai saham yang dibeli menghasilkan keuntungan. Tidak perlu menjualnya secara paksa.

Hindari berhutang atau menggunakan margin call bagi investor retail. "Umumnya yang bangkrut karena menggunakan dana dari uang pinjaman," ujarnya.

4. Dana/Modal

Sesuaikan penggunaan dana untuk membeli saham. Jangan semuanya dana yang ada di escrow account dibelikan saham, tetapi harus disisakan untuk membeli kembali jika harganya jatuh.

Untuk pemula, Hari menyarankan jangan terlalu banyak membeli saham, tetapi maksimal 5 saham terlebih dahulu sambil memahami karakter saham tersebut. Ia menyarakan saham yang dibeli adalah saham-saham LQ45, yang relatif kecil risikonya dibanding saham lainnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN