Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mentor Investa, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta.

Hasan Zein Mahmud, mentor Investa, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta.

Tips Mengelola Portfolio Saham di Era New Normal

Listyorini, (Listyorini)  Minggu, 28 Juni 2020 | 08:41 WIB

JAKARTA, Investor.id – Tingginya faktor ketidakpastian membuat harga saham bergerak seperti roll coaster, dengan volatilitas sangat tinggi. Tarik menarik antara sentimen positif terkait ekspektasi pemulihan ekonomi cepat yang didorong stimulus, mendapat perlawanan dari sentimen negatif yakni ancaman gelombang kedua Covid-19.

Dominasi sentimen negatif saat ini lebih kuat karena tidak menutup kemungkinan banyak bisnis secara sukarela akan kembali menutup gerainya, seperti yang dilakukan Apple. Federal Reserve pun memberi sinyal bahwa pemulihan ekonomi akan menempuh "jalan panjang" karena lonjakan infeksi baru virus.

Mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, memberikan tujuh tips dalam mengelola portfolio (saham) di era new normal dalam diskusi tentang "Capital Market in the New Normal Era". Talkshow virtual itu diselenggarakan oleh Ikatan Dosen Pasar Modal Indonesia (IDPMI) dan Investa, akhir pekan.

Berikut tips pragmatis mengelola portfolio saham ala Hasan Zein Mahmud.

1. Saat ini ada divergensi yang lebar antara sektor riil dan sektor keuangan. Ekonomi dunia diperkirakan akan mengalami kontraksi 4,9% tahun ini. Beberapa negara maju Eropa dan Amerika Latin diperkirakan akan kontraksi double digit. Sementara indeks harga saham mengalami kenaikan. Begitu ekonomi mendekati normal divergensi itu akan menyempit.

2. Dalam keadaan seperti ini, postulat Markowits 70 tahun lalu bahwa diversification reduces variability - diversifikasi menurunkan risiko - menurut saya tidak bekerja. Karena praktis mayoritas saham bergerak ke arah yang sama dengan fluktuasi yang tinggi

3. Akibatnya, jumlah saham tidak perlu, bahkan tidak boleh banyak. Saya perkirakan optimal portfolio tidak lebih dari 8 saham. Saya menantang para akademisi untuk melakukan kajian empiris untuk menguji pendapat saya. Bagi reksadana saham, kebenaran perkiraan ini akan menabrak aturan OJK yang melarang NAB (nilai aktiva bersih) ditanam pada satu saham lebih dari 10%.

4. Dalam kondisi saat ini, seleksi jauh lebih krusial ketimbang alokasi portfolio. Ibarat mencari kayu, bila hutannya rimbun memilih kayu tak begitu sulit. Beda halnya memilih kayu di hutan yang hampir gundul.

5. Jangan habiskan peluru. Di pasar yang bearish dan fluktuatif, cash is the king. Saya sarankan untuk memegang kas sekitar 30%, agar lebih leluasa menangkap peluang. Untuk reksadana saham, strategi ini kembali akan menabrak batasan yang diatur OJK.

6. Hindari marjin. Di pasar yang bearish, debt is killing. Leverage adalah pedang bermata dua. Pengungkit saat bullish, tapi pembunuh saat bearish. Hal ini berlaku baik pada tingkat individu, tingkat perusahaan, maupun negara

7. Dalam kondisi seperti saat ini, strategi trading jangka pendek menjanjikan keuntungan yang lebih besar ketimbang investasi dengan horison jangka menengah (dua kuartal sampai setahun).

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN