Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI)  periode 2015-2018

Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018

Tips untuk Investor Saham: Jangan Tangkap Pisau Jatuh, Jangan Kejar Layang-layang Putus!

Jumat, 5 Februari 2021 | 09:45 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Jangan coba-coba menangkap pisau jatuh. Jangan pula mengejar layang-layang putus!  Itulah dua tips bagi para investor saham agar tidak terkena aksi pompom.

Aksi pompom alias menghasut orang lain untuk membeli atau menjual saham belakangan ini memang kian  marak saja. Jika tak pandai-pandai membawa diri, investor bisa termakan aksi pompomer. Koceknya bakal terkuras. Bisa jatuh bangkrut.

Tips 'pisau jatuh' dan 'layang-layang putus' disampaikan mantan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hamdi Hassyarbaini pada diskusi Zooming With Primus (ZwP) bertajuk 'Fenomena Milenial Investasi Saham' yang ditayangkan secara live di BeritaSatu TV, Kamis (4/2).

Diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings (BSMH), Primus Dorimulu itu juga menghadirkan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hasan Fawzi dan Founder Emtrade, Ellen May.

Apa maksudnya 'jangan menangkap pisau jatuh'? Dalam kelaziman di pasar saham, penurunan harga saham secara masif dan tajam sungguh sulit dibendung.

Alih-alih memetik cuan, siapa pun yang mencoba menghentikannya justru bakal menderita kerugian. Maka tindakan paling bijak adalah membiarkannya sampai harga saham tersebut benar-benar menyentuh titik terendah (bottom).

Intinya, jangan coba-coba melawan pasar saat harga saham terus-menerus turun atau sedang dalam tren bearish, apalagi jika pasar sedang dilanda crash.

"Misalnya jika saham itu berkali-kali terkena auto rejection bawah (ARB), jangan dibeli dulu. Itu ibarat menangkap pisau jatuh, tangan pasti terluka. Tunggu dulu sampai harganya memantul (rebound)," ujar Hamdi.

Bagaimana dengan 'mengejar layang-layang putus'? Nah, mengejar layang-layang putus adalah kebalikan dari menangkap pisau jatuh. Di pasar saham kerap terjadi harga saham naik secara tidak wajar dan berlangsung terus-menerus.

Investor yang keukeuh ingin membeli saham tersebut tak ubanya sedang mengejar layang-layang putus yang terbang tinggi, tak tentu arah, tanpa kendali. Setelah berhasil dibeli pada harga tinggi, saham itu malah terjun bebas.

"Jika membeli saham yang harganya sedang naik terus, jangan-jangan Anda masuk perangkap bandar. Begitu dapat, 'layang-layang' itu pun jatuh," tegas Hamdi.

Tips Penting Lain

Selain dua tips tersebut, Hamdi Hassyarbaini punya enam tips lainnya. Pertama adalah membangun pola pikir (mindset). "Tekankan bahwa kita berinvestasi saham, bukan main saham. Jika 'main' berarti tidak perlu persiapan matang. Maka sebelum berinvestasi saham, belajarlah terlebih dahulu," tandas mentor Investa tersebut.

Tips kedua, menurut Hamdi, peganglah prinsip bahwa investasi saham adalah investasi jangka panjang. Ketiga, lakukan perencanaan keuangan terlebih dahulu. Dana yang diinvestasikan di saham harus benar-benar dana 'dingin' atau dana menganggur (idle), bukan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi dana pinjaman.

Keempat, kenali emitennya, dari mulai bisnis, produk, hingga manajemennya. "Jika tidak kenal emitennya, jangan beli sahamnya, karena sama saja dengan 'membeli kucing dalam karung'," tutur Hamdi.

Tips kelima, pastikan saham yang dibeli adalah saham emiten berfundamental kuat. Lebih baik salah waktu atau salah harga daripada salah saham.

"Tak masalah membeli saham yang harganya agak tinggi, yang penting fundamentalnya bagus. Sebab dalam jangka panjang, harga saham tersebut akan naik sepanjang fundamentalnya kuat," papar dia.

Terakhir, fokus saja pada target, jangan terpengaruh pompom. Rekomendasi dari analis saham pun hanya sebagai referensi saja. "Jadi, yakinkan diri," kata Hamdi.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN