Menu
Sign in
@ Contact
Search

Return Investasi RI Masih Menarik

Jumat, 13 Maret 2015 | 13:48 WIB
Oleh Antonia Timmerman dan Devie Kania (redaksi@investor.id)

JAKARTA – Di tengah isu capital outflow di saham dan surat utang, tingkat pengembalian investasi (return) di Indonesia masih menarik. Di pasar saham, potensi keuntungan atau capital gain tahun ini diperkirakan sebesar 20%. Sementara itu, imbal hasil (yield) surat utang diprediksi mencapai 12 – 14%.


Analis Millenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan, IHSG secara year to date mencatat kenaikan 4,1%. Di regional, kenaikan indeks saham itu menempati peringkat kelima setelah Jepang 8,83%, Filipina 8,43%, Australia 7,93%, dan India sebesar 5,14%.


Sedangkan imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) bertenor 10 tahun mencapai 7,5%, jauh lebih tinggi dibanding sejumlah negara. Obligasi negara bertenor 10 tahun Malaysia sebesar 3,96%, Tiongkok 3,52%, Thailand 2,8%, Singapura 2,53%, Amerika Serikat 2,12%, dan Jepang 0,47%.


Dengan imbal hasil yang tinggi, tidak mengherankan bila kepemilikan asing di portofolio di Indonesia masih dominan. Asing masih menguasai Rp 498 triliun atau 38,5% dari total SBN. Di pasar saham, asing memegang 60% aset. Sejak awal tahun, net buy asing di pasar saham mencapai Rp 9,8 triliun dan net inflow di SBN tercatat sebesar Rp 36,4 triliun.


“Mengingat kenaikan IHSG yang sudah cukup tinggi, fenomena capital outflow yang terjadi beberapa hari terakhir masih tergolong wajar. Penarikan dana ini hanya bersifat sementara, karena potensi return kita masih cukup tinggi. Asing akan kembali,” kata Desmon kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (12/3).


Asing menarik dana karena khawatir terhadap pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 13.200 per dolar AS. Kemarin, rupiah ditutup menguat tipis pada level Rp 13.192 per dolar AS, terdepresiasi 6,4% YTD. Meski demikian, analis KDB Securities Taye Shim mengatakan, pelemahan rupiah saat ini tergolong kecil dibandingkan mata uang Mexico, euro, dan mata uang Brasil.


“Kami masih mempertahankan outlook positif terhadap saham di Indonesia dan menyarankan investor untuk memperhatikan saham-saham yang masih murah atau undervalued,” kata Taye dalam laporan yang diterima Investor Daily.


Sementara itu, Analis Mega Capital Investama Arifin Hasudungan mengungkapkan, capital outflow dan pelemahan terjadi akibat sejumlah indikator ekonomi yang saat ini kurang baik. Neraca transaksi berjalan masih defisit serta pertumbuhanekonomi melambat. Selain itu, kisruh politik yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir membuat investor berspekulasi. Arifin mengimbau investor lokal tidak panik dan jangan ikut keluar dari pasar. Justru investor harus melihat potensi perbaikan inflasi dan suku bunga. Inflasi yang rendah tahun ini akan memicu penurunan BI rate.


Arifin menargetkan IHSG tumbuh ke 5.800 pada akhir 2015. Dia juga merekomendasikan investor melirik saham-saham BBNI, SMRA, BSDE, dan ASII.


Sementara itu, Kepala Riset Universal Broker Securities Satrio Utomo mengatakan, aksi jual asing bukan semata-mata akibat pelemahan rupiah, tapi juga dipicu turunnya bursa saham regional dan spekulasi kenaikan tingkat suku bunga oleh The Fed.

Dia memperkirakan IHSG dapat mencapai 6.100 – 6.350 pada akhir 2015. Dia juga menyarankan investor melirik saham-saham sektor perbankan, konstruksi, komoditas, dan barang konsumsi.


Potensi Rp 40 T

Hingga akhir 2015, Desmon dan Satrio optimistis, dana investor asing masih akan mengalir deras ke pasar modal Indonesia. Nilai net buy saham diperkirakan mencapai Rp 30-40 triliun atau di atas rata-rata net buy dalam enam tahun terakhir sekitar Rp 20 triliun. Adapun net buy asing tahun lalu mencapai Rp 44 triliun.


Derasnya capital inflow akan dipicu oleh realisasi program infrastruktur, dukungan modal pemerintah kepada BUMN, bertambahnya jumlah saham beredar, serta margin yang tinggi. Sementara itu, kenaikan suku bunga The Fed bisa menjadi hambatan masuknya dana asing.


Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan mengatakan, potensi net buy hingga Rp 40 triliun dapat tercapai, jika ada peningkatan kinerja program-program pemerintah. Iklim investasi dan bisnis harus kondusif, sehingga meningkatkan kepercayaan investor. Dia mengungkapkan, para fund manager asing masih bersikap wait and see, sebelum menginvestasikan dana di negara-negara tertentu. Jika kecemasan terhadap pemerintah terus berlanjut, potensi net buy hanya menjadi Rp 20-30 triliun.


Meski begitu, pasar saham Indonesia secara umum masih sangat menarik. Haryajid memprediksi, ada empat sektor yang akan menjadi incaran tahun ini, yakni barang konsumsi, infrastruktur, perbankan, dan properti. Saham-saham sektor barang konsumsi diperkirakan dapat naik di atas 20% pada 2015, saham sektor infrastruktur sekitar 25%, perbankan 20%, sedangkan properti 15%.


Sementara itu, analis Pefindo Guntur Hariyanto pernah mengatakan, net buy investor asing berpotensi berada pada kisaran Rp 25 – 30 triliun hingga akhir tahun ini. “Kenaikan pada 2014 sangat istimewa karena ada sentimen politik. Indonesia juga diuntungkan karena daya kompetisi negara-negara lain sedang melemah sepanjang tahun lalu,” ucap Guntur.


Tahun ini, kata Guntur, Indonesia harus lebih berkompetisi menghadapi negara-negara lain, khususnya Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Eropa. Bank-bank sentral Jepang dan Eropa mulai memberikan stimulus bagi perekonomian negara masing-masing, sehingga berpotensi mengalihkan dana dari Indonesia. Indonesia juga harus menghadapi tantangan kenaikan suku bunga The Fed. (nti/gtr/hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com