Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dana Mudik 2016 Picu Ekonomi Daerah Tertinggal

Selasa, 5 Juli 2016 | 07:48 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

MAKASSAR—Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan dana yang mengalir ke desa tahun ini mencapai Rp 200 triliun. Dana ini akan berdampak positif bagi geliat ekonomi di daerah tertinggal dan perdesaan.

“Dana desa dan dana mudik ini akan memicu ekonomi daerah tertinggal, termasuk di Kawasan Timur Indonesia (KTI),” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Kawasan Timur Indonesia H Andi Karumpa, di Makassar, Senin (4/7).   

Andi memperkirakan, lebih dari Rp 120 triliun dana yang mudik ke daerah dan desa-desa. Dana tersebut datang dari kota-kota besar dan remitansi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Diperkirakan sebanyak lebih dari 26 juta pemudik tahun ini.

“Kalau rata-rata membawa pulang sekitar Rp 3-4 juta kalikan saja dengan 26 juta ditambah dengan dana remitansi TKI kita bisa mencapai lebih dari Rp 120 triliun yang mengalir ke desa,” ujar Andi. 

Ia mengatakan, ekonomi daerah tertinggal akan semakin menggeliat. Sebab selain dana tersebut, tahun ini pemerintah juga mengalokasikan dana sebesar Rp 60 triliun untuk dana desa di seluruh Indonesia.  Dengan demikian, dana yang mengalir ke daerah dan desa-desa tahun ini bisa mencapai Rp 200 triliun.

Geliat ekonomi ini, ujar Andi, akan memicu permintaan di daerah-daerah dan menciptakan peluang bisnis.”Geliat bisnisnnya akan terasa sampai ke desa-desa,” paparnya.

Meski demikian, pemerintah perlu mewaspadai ancaman inflasi akibat tingginya permintaan itu. Sebab itu, ancaman inflasi itu perlu dijawab dengan perbaikan infrastruktur desa. “Jadi pasokan likuiditas ke daerah dibiarkan saja mengalir, tapi infrastruktur ke desa-desa yang diperbaiki, agar akses ke produsen lancar. Sehingga harga-harga terkendali,” jelas Andi.

 

Melihat besarnya dana yang mengalir ke desa tiap tahun, Andi mengharapkan pemerintah membuat strategi khusus membangun perekonomian perdesaan. Misalnya, menjadikan desa sebagai pusat produksi penunjang kawasan industri dan ekonomi perkotaan.

“Desa-desa bisa dijadikan penyangga kawasan industri dan ekonomi perkotaan. Jadi, ketegantungan kepada desa makin besar, makin bagus. Bukan sebaliknya desa sangat tergantung kepada kawasan industri dan perkotaan,” pungkas Andi. (gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN