Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bank Dunia-Unicef: Anak-Anak Lebih Rentan Hidup Miskin

Kamis, 6 Oktober 2016 | 10:45 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA - Kajian Bank Dunia dan Lembaga Dana Anak-Anak PBB (Unicef) menyatakan bahwa secara global, anak-anak dua kali lebih rentan daripada orang dewasa untuk hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrim.

"Banyaknya jumlah anak dalam kemiskinan ekstrim menunjukkan kebutuhan nyata untuk menginvestasikan khususnya dalam masa-masa awal kehidupan," kata Direktur Senior Persoalan Kemiskinan dan Ekuitas Grup Bank Dunia Ana Revenga dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Ana Revenga memaparkan, investasi itu antara lain terkait dengan jasa layanan dasar seperti perawatan pra-kelahiran ibu hamil, program pengembangan balita, sekolah berkualitas, air dan sanitasi yang bersih dan baik, serta jaminan kesehatan universal bagi mereka.

Menurut dia, dengan memperbaiki beragam layanan dasar itu dan memastikan bahwa anak-anak saat ini dapat mengakses kesempatan kerja berkualitas saat mereka beranjak dewasa, sebagai satu-satunya cara untuk dapat memperbaiki kehidupan kemiskinan antargenerasi yang sangat tersebar luas di berbagai penjuru dunia.

Berdasarkan kajian Bank Dunia-Unicef bertajuk "Ending Extreme Poverty: A Focus on Children" (Mengakhiri Kemiskinan Ekstrim: Fokus Kepada Anak) menyatakan pada 2013, sebanyak 19,5% anak-anak di negara berkembang hidup di rumah tangga dengan penghasilan setara atau kurang dari US$ 1,9 per orang.

Jumlah tersebut bahkan lebih miris pada anak-anak balita, yaitu lebih dari seperlima di negara-negara berkembang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrim.

Sedangkan pada jumlah orang dewasa di negara berkembang yang hidup di rumah tangga dengan penghasilan tersebut adalah hanya 9,2% orang dewasa.

Secara global, masih berdasarkan kajian tersebut, hampir sebanyak 385 juta anak-anak hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrim.

"Dampak kemiskinan juga lebih membahayakan bagi anak-anak. Mereka mengalami dampak terburuk dari terburuk, dan balita terdampak yang paling buruk, karena kondisi kemiskinan ekstrim mempengaruhi perkembangan fisik dan pikiran mereka," kata Direktur Eksekutif Unicef Anthony Lake.

Untuk itu, Unicef dan Grup Bank Dunia menginginkan pemerintahan-pemerintahan di dunia antara lain untuk mengukur secara rutin kemiskinan ekstrim pada tingkat nasional dan subnasional yang berfokus kepada anak-anak dalam rencana program pengentasan kemiskinan nasional sebagai upaya mengakhiri kemiskinan ekstrim pada tahun 2030 mendatang.

Selain itu, pemerintahan berbagai negara juga diminta untuk memperkuat sistem perlindungan sosial yang sensitif terhadap permasalahan anak-anak, serta mempriorotaskan investasi dalam pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi dan infrastruktur yang bermanfaat bagi anak-anak miskin. (gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN