Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tiga Penyebab Realisasi Masih Rendah

Sabtu, 1 April 2017 | 12:18 WIB
Oleh Nasori

Menurut Menkeu Sri Mulyani, ada tiga penyebab yang membuat realisasi masih lebih rendah dari data komitmen repatriasi. Pertama, sebagian harta yang dinyatakan akan direpatriasi sudah berada di Indonesia setelah 31 Desember 2015 atau berdasarkan surat pemberitahuan (SPT) tahunan 2015, tapi sebelum masa periode amnesty pajak yang dimulai 1 Juli 2016.

 

“Sehingga peserta mengklaim harta itu adalah harta repatriasi, tapi sebenarnya harta itu sudah berada di Indonesia sebelum masa pelaksanaan program tax amnesty. Ini kita peroleh dari sejumlah stakeholder yang kami dengarkan masukannya,” papar Sri Mulyani.

 

Kedua, kata Menkeu, karena ada regulasi di negara-negara asal harta yang menganggap harta yang ikut program tax amnesty melanggar undang- undang sehingga para WP mengalami kesulitan melakukan repatriasi.

 

Ketiga, harta yang diikutkan untuk repatriasi bukan terkategori harta yang likuid sehingga membutuhkan waktu untuk merealisasikannya. UU No 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak (UU Tax Amnesty) mengamanatkan periode pengampunan pajak selama Sembilan bulan sejak 1 Juli 2016 hingga 31 Maret 2017 yang terbagi dalam tiga periode. Periode I berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2016 dengan tarif tebusan 2% dari nilai harta bersih untuk repatriasi dan 4% untuk deklarasi.

 

Sedangkan periode II berlaku sejak 1 Oktober sampai 31 Desember 2016 dengan tarif tebusan 3% untuk repatriasi dan 6% untuk deklarasi. Adapun periode III berlaku mulai 1 Januari 2017 hingga 31 Maret 2017 dengan tarif tebusan 5% dan 10% masing-masing untuk repatriasi dan deklarasi.

 

Di luar itu berlaku tarif tebusan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan nilai usaha sampai Rp 4,8 miliar. Pelaku UMKM yang mengungkapkan nilai hartanya sampai Rp 10 miliar sejak 1 Juli 2016 hingga 31 Maret 2017 dikenai tarif tebusan 0,5%.

 

Pelaku UMKM yang mengungkapkan nilai harta lebih dari Rp 10 miliar mulai 1 Juli 2016 sampai 31 Maret 2017 dikenai tarif tebusan 2% dari nilai harta bersih. Tarif tebusan repatriasi adalah tariff uang tebusan atas harta yang berada di dalam negeri atau harta di luar negeri yang dialihkan dan diinvestasikan ke dalam negeri dalam jangka waktu minimal tiga tahun.

 

Sedangkan tarif tebusan deklarasi adalah tarif uang tebusan atas harta di luar negeri dan tidak dialihkan ke dalam negeri. Adapun tarif uang tebusan bagi WP yang peredaran usahanya sampai Rp 4,8 miliar berlaku pada tahun pajak terakhir. Pemerintah menargetkan dana repatriasi dan deklarasi hingga 31 Maret 2017 masing-masing Rp 1.000 triliun dan Rp 4.000 triliun, dengan target dana tebusan hingga akhir 2016 sebesar Rp 165 triliun.

 

Pasal 18 UU Pengampunan Pajak menyatakan, WP yang tidak mengikuti program amnesti pajak namun ditemukan adanya data mengenai harta bersih yang tidak dilaporkan maka atas harta dimaksud diperlakukan sebaga  penghasilan pada saat ditemukan dan dikenai pajak serta sanksi administrasi sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

 

Berdasarkan aturan, atas temuan harta tersebut akan dikenakan sanksi sebesar tarif PPh yang berlaku (5%, 15%, 25%, atau 30% untuk WP pribadi) dan sanksi bunga sebesar 2% per bulan dengan maksimalnya 48%.

 

Adapun bagi WP yang telah mengikuti program amnesti pajak namun ditemukan adanya data harta bersih yang kurang diungkapkan, maka atas harta dimaksud diperlakukan sebagai penghasilan pada saat ditemukan dan dikenai pajak sesuai dengan UU PPh, serta ditambah dengan sanksi administrasi kenaikan sebesar 200% dari PPh yang tidak atau kurang dibayar. (tl)

 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/amnesti-pajak-indonesia-tersukses-di-dunia/158372

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN