Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa. Foto: Humas Kementerian PPN/Bappenas

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa. Foto: Humas Kementerian PPN/Bappenas

Pengembangan Ekonomi Hijau Jadi Game Changer Transformasi Perekonomian Domestik

Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:37 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional(PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meyakini ekonomi hijau (green economy) akan menjadi game changer dalam transformasi pertumbuhan ekonomi yang diperlukan untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap).

“Bappenas menetapkan strategi transformasi ekonomi untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke trajectory sebelum pandemi dan menempatkan ekonomi hijau sebagai salah satu game changer dalam transformasi ekonomi tersebut,” ucap Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam acara peluncuran Laporan Low Carbon Development Initiative, Rabu (13/10).

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dibutuhkan Indonesia untuk mencapai target pada 2045 sekaligus keluar dari middle income trap. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan pembangunan rendah karbon sebagai salah satu prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Menurutnya, berdasarkan kajian dari berbagai studi di tingkat global menunjukkan dukungan investasi terhadap pembangunan rendah karbon pasca pandemi memiliki dua manfaat. “Pertama, dalam jangka pendek yaitu mendorong peningkatan lapangan pekerjaan hijau atau green jobs. Kedua, dalam jangka panjang dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Suharso mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 ikut menghalangi upaya pemerintah untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan krisis multidimensi termasuk mengganggu stabilitas, ekonomi, dan sosial di Tanah Air. Hal ini terlihat dari kontraksi pertumbuhan ekonomi 2,07% pada 2020 serta meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran.“Saat ini pemerintah berhadapan dengan berbagai persoalan terkait dampak perubahan iklim khususnya bencana hidrometeorologi yang kian intensif,” ucapnya.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama 2020 telah terjadi 4.650 kejadian bencana di Indonesia. Dari jumlah tersebut 4.624 atau 99,5% merupakan bencana hidrometeorologi yakni banjir besar, tanah longsor, hingga puting beliung.

Suharso memperkirakan, bencana alam ini kian intens di masa mendatang akibat perubahan iklim. “Kita akan dihadapkan pada konsekuensi pada potensi kerugian yang sangat besar akibat perubahan iklim ini, baik dari sisi ekonomi maupun sosial, dengan tidak dilakukan intervensi kebijakan untuk mengantisipasi hal tersebut,” kata Suharso.

Sedangkan dari sisi ekonomi, perlu strategi besar mengembalikan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke trajectory sebelum terjadinya krisis atau pandemi Covid-19. “Sementara dari aspek berkelanjutan pembangunan secara business as usual dinilai tidak lagi mampu menjawab tantangan yang ada terutama untuk jangka panjang,” kata dia.

Suharso mengatakan, pemerintah meluncurkan laporan Low Carbon Development Initiative yang berisi analisis ilmiah dari berbagai skenario menuju ekonomi hijau melalui pembangunan rendah karbon, termasuk upaya net zero emission Indonesia pada 2060. Diharapkan laporan tersebut dapat menjadi referensi bagi para pembuat kebijakan dan mendorong perumusan kebijakan di semua tingkatan demi terwujudnya ekonomi hijau yang kuat, tangguh, dan berkelanjutan di masa depan.

Selain itu, juga diperlukan kerja cerdas dan kolaborasi antarpemangku kepentingan guna memastikan proses transisi yang adil menuju net zero emission dan ekonomi hijau di masa mendatang.“Target Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060 merupakan capaian signifikan dalam upaya penanggulangan perubahan iklim, tetapi lebih jauh dari itu penting memastikan Indonesia tidak terlambat untuk memulai transisi menuju ekonomi hijau,” kata Suharso.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN