Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Didik J Rachbini

Didik J Rachbini

Didik Rachbini : Masa Depan Ekonomi Indonesia Diliputi Optimisme

Kamis, 25 November 2021 | 19:13 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengatakan, masa depan perekonomian Indonesia diliputi optimisme tinggi seiring mulai terkendalinya pandemi Covid-19 dan tingkat vaksinasi yang terus bertambah.

“Kita semua optimistis terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Setelah hampir 2 tahun dilanda ketidakpastian dari Covid-19, saat ini adalah kasus terendah dari pengendalian Covid-19. Ini memunculkan optimisme bahwa ekonomi akan berjalan dalam bentuk yang normal,” kata Didik saat memberikan Closing Remark dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2022, Kamis (25/11).

Didik melihat, pada awal pandemi Covid-19 banyak terjadi kebingungan, dan Indonesia mengalami puncak kasus positif pada bulan Juni-Juli 2021. Tetapi kemudian pada bulan September dan seterusnya menunjukkan tren penurunan kasus, hingga sekarang muncul optimisme bahwa ekonomi akan terus membaik.

“Selain itu, lebih dari 100 juta warga Indonesia yang telah divaksin, yang menjadi modal penting untuk membangun ekonomi yang optimistis ke depan,” ungkap dia.

Menurut Didik, krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis 1998. Pada krisis 1998, ditandai oleh ketidakstabilan ekonomi. Tetapi sekarang ekonomi relatif terkendali, yang terlihat dari stabilitas nilai tukar, inflasi, dan ekspor.

Hal ini, kata Didik, merupakan pertanda baik, yang membuat menko perekonomian menyatakan secara tegas optimismenya akan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski, semua pihak tetap harus waspada karena gelombang ketiga dan ketidakpastian Covid-19 masih cukup tinggi.

“Tapi kita sudah punya pengalaman dan sudah bisa mengendalikannya. Dan optimisme itu semakin besar dengan tingkat konsumsi masyarakat saat ini,” ujar dia.

Di sisi lain, sambung Didik, pertumbuhan industri sebagai subsektor terbesar, masih di bawah 4%. Hal ini harus didorong kuat agar dalam 5-10 tahun ke depan Indonesia bisa lepas dari jebakan middle income trap.

“Sekarang memang pemulihan ditarik oleh konsumsi, dengan suplai uang yang cukup banyak dari pemerintah,” ujar dia.

Didik menggarisbawahi bahwa Indonesia masih memiliki tantangan dari eksternal, salah satunya adalah tapering. “Riset-riset menunjukkan bahwa pengaruh ketidakpastian kebijakan di luar negeri cukup dominan bagi Indonesia. Dan ini perlu dicermati,” ungkap dia.

Terkait green economy, kata Didik, Indonesia telah berkomitmen untuk menerapkan konsep ekonomi berkelanjutan sejak pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga saat ini di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

“Pada tahun 1970-1980-an Indonesia agresif menebang hutan dan mengekspor kayu, sekarang tidak lagi. Dengan hutan dipelihara, bukan berarti tidak bisa mendapatkan uang. Karena potensi karbon trading di Indonesia sangat besar, bahkan hampir dua kali dari ekspor,” ujar dia.

Optimisme ekonomi Indonesia juga muncul dari mulai pulihnya sektor Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). Terlebih, UMKM menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.

Didik mengatakan bahwa kredit UMKM yang sangat rendah selama pandemi Covid-19, saat ini telah berangsur pulih. “Pemulihan (recovery) untuk kredit UMKM sudah mulai terlihat. Dan ini sangat penting,” ujar dia.

Dari sisi investasi, lanjut Didik, data BKPM menunjukkan bahwa investasi tidak lagi didominasi oleh Jawa, yang menandakan bahwa telah terjadi pemerataan investasi.

“Luar Jawa mendapatkan separuh dari investasi yang masuk ke Indonesia, dan investasi ini relatif tidak bermasalah,” tutur dia.

Didik melanjutkan, kabar menggembirakan juga datang dari pasar modal. Saat ini, pasar modal Indonesia mampu tumbuh hingga double digit, yang menandakan bahwa sumber dana dari pasar modal begitu besar.

“Pasar modal ini ibarat bendungan yang sedikit macet menyalurkan airnya ke sawah-sawah. Tetapi sekarang sudah mulai banyak perusahaan yang memasuki pasar modal untuk mendapat dana segar,” ungkap dia.

Di bidang ekonomi digital yang menjadi masa depan Indonesia, kata Didik, transformasi sudah banyak yang dilakukan. “Dan Indonesia memiliki banyak perusahaan berskala global, seperti bukalapak, gojek, dan lainnya, yang menjadi cikal bakal ekonomi digital Indonesia ke depan,” ujar dia.

Sementara dari sisi pemerintah, Didik menilai, respon kacau dan sinyal komunikasi yang kurang jelas dari pemerintah di awal pandemi Covid-19, sudah mulai teratasi.

“Sekarang sudah ada manajemen komunikasi, dan hasilnya cukup baik, serta mampu menjadi pondasi bagi pertumbuhan ekonomi ke depan,” pungkas dia.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN