Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto:  Investor Daily/Primus Dorimulu

Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Gubernur BI: Banyak Alasan Kita untuk Optimistis

Rabu, 26 Januari 2022 | 11:27 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) optimistis kinerja ekonomi Indonesia di tahun ini akan semakin kuat dengan proyeksi pertumbuhan 4,7% hingga 5,4% dibandingkan 2021. Perbaikan kinerja ekonomi tersebut didukung oleh banyak faktor, seperti pemulihan ekonomi yang semakin terakselerasi dan menggeliatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, semakin kuatnya kinerja ekonomi di tahun ini tidak terlepas dari sinergi kebijakan yang erat dan capaian kinerja perekonomian di tahun lalu. Semua itu menjadi modal untuk bangkit dan semakin optimistis akan pemulihan ekonomi tahun ini.

 

“Dalam laporan perekonomian Indonesia, kami sampaikan secara rinci, optimisme kami di 2022. Pertumbuhan ekonomi insya Allah akan lebih baik di kisaran 4,7% hingga 5,4%,” tutur Perry dalam dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI), Laporan Tahunan Bank Indonesia (LTBI), serta Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (LEKSI) 2021, Rabu (26/1).

Namun, Perry tak menampik bahwa pemulihan ekonomi yang semakin kuat dan mobilitas masyarakat yang meningkat akan mendorong sisi permintaan meningkat. Alhasil, hal itu akan memberikan dampak pada peningkatan sisi inflasi. Namun dipastikan, inflasi akan tetap terkendali sesuai target sasaran BI. “Inflasi memang akan naik, insya Allah dapat dikendalikan sesuai sasaran 3% plus minus 1%,” tandas dia.

Disisi lain, Perry menilai, kinerja nilai tukar rupiah juga akan mengalami tekanan tahun ini. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan normalisasi bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Meski demikian, ia memastikan, Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya.

“Nilai tukar rupiah memang akan mengalami tekanan di tahun ini, tapi komitmen kami untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan koordinasi bersama Kemenkeu,” ucap dia.

Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksi kredit perbankan nasional akan tumbuh 7-9% di tahun ini. Peningkatan ini didukung oleh ketahanan sistem keuangan yang diperkirakan tetap terjaga dan intermediasi perbankan yang mulai melanjutkan perbaikan secara bertahap.

Untuk itu, Perry mengajak perbankan nasional untuk meningkatkan pembiayaan dan penyaluran kredit. "Prediksi kami bisa kredit bisa mencapai 7-9%. Bahkan Pak Jahja Setiaatmadja (Presiden Direktur BCA) menyampaikan ke saya bahwa bisa lebh tinggi. Alhamdulilah, terima kasih. Tentu saja Bapak Kartika Wirjoatmodjo (Wamen BUMN) akan sangat mendukung untuk itu. Mari kita tingkatkan kredit dan pembiayaan untuk pemulihan ekonomi nasional," tegas dia.

Selain sinergi dan koordinasi kebijakan ekonomi nasional yang erat, lanjut Perry, untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional juga akan ditentukan oleh prasyarat kecepatan vaksinasi yang terus dikebut oleh pemerintah untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity. "Terima Kasih ke pemerintah yang sangat cepat. Insya Allah sebentar lagi booster,” ucap dia.

Pembukaan sektor ekonomi, stimulus fiskal dan moneter, pembiayaan yang meningkat, serta reformasi sektor riil dan sektor keuangan yang terus dilakukan, menjadi faktor lain yang memperkuat optimisme bahwa pemulihan ekonomi akan terjadi tahun ini.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN