Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rionald Silaban, Dirjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan sekaligus Ketua Satgas BLBI

Rionald Silaban, Dirjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan sekaligus Ketua Satgas BLBI

Perjanjian Ekstradisi Permudah Indonesia Kejar Obligor BLBI ke Singapura

Rabu, 26 Januari 2022 | 17:40 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Satgas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) mengaku akan memanfaatkan perjanjian ekstradisi Indonesia-Singapura, untuk mengejar buronan dan obligor BLBI yang menetap di negara tersebut.

“Beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan, dengan perjanjian ekstradisi tersebut, kita bisa selesaikan karena beberapa obligor ini ada yang menetap di Singapura,” kata Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Rionald Silaban dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (26/1/2022).

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas BLBI ini menyambut baik atas terjalinnya kesepakatan antara Indonesia dengan Singapura. Pasalnya, tidak bisa dipungkiri, banyak para obligor alias pengemplang dana BLBI yang mendekam di Singapura usai kerusuhan 1998 terjadi.

Tak hanya menetap, bahkan para obligor tersebut juga ada yang sudah mengganti statusnya menjadi warga negara Singapura. Hal ini pun menyebabkan pemerintah kesulitan menjerat para obligor jika tidak ada perjanjian tersebut.

“Jadi kami besar hati sekali dan mudah-mudahan ini jadi salah satu upaya sehingga satgas BLBI bisa menggunakan apa yang telah diupayakan pemerintah yaitu ekstradisi tersebut,” ungkap Rionald.

Sebagai informasi, kesepakatan tersebut diteken saat melakukan pertemuan Leaders’ Retreat di Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (25/1/2022). Pertemuan dihadiri langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi XI Eriko Sotarduga menyampaikan pentingnya pembahasan mengenai tindak lanjut penyelesaian kasus BLBI bersama Anggota Komisi XI.

“Menurut saya ya kita harus membahas ini dengan sungguh-sungguh. Kenapa? karena rakyat menantikan ini. Tidak fair juga Ibu Menteri Keuangan sudah menyampaikan ada 1 debitur yang mengaku utangnya hanya kurang lebih Rp 8 atau Rp 9 triliun, pada kenyataannya jauh lebih besar daripada itu,” tuturnya.

Di sisi lain, Eriko mengapresiasi upaya pemerintah yang telah meneken perjanjian ekstradisi dengan Singapura, karena dapat mempersempit ruang gerak pelaku tindak pidana di Indonesia dalam melarikan diri, termasuk untuk menyelesaikan kasus BLBI. Dia berharap perjanjian esktradisi juga dapat terjalin dengan negara lainnya, seperti Tiongkok.

“Sehingga tidak bisa lagi (pelaku tindak pidana) sembunyi di mana-mana yang namanya pengemplang ataupun yang terkait masalah hukum itu,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia meminta diadakan rapat khusus antara Satgas BLBI dan Komisi XI untuk membahas mengenai perkembangan penyelesaian kasus BLBI dan kendala yang dihadapi oleh Satgas.

“Karena ini tidak main-main, ini kan kasus yang sudah sedemikian lama. Dan ini juga menjadi satu catatan karena sering dikaitkan terhadap hal-hal lain, padahal itu tidak ada. Dan ini juga harus diselesaikan. Pak Rio harus melaporkan kepada kami sejauh apa perkembangan yang sebenarnya dan apa kendalanya,” tegas Eriko.

Lebih lanjut, ia meminta agar permasalahan BLBI diselesaikan secara tuntas, sebab rakyat juga ingin mengetahui perkembangan terkini.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN