Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Ekonomi Solid, BI Diminta Tak Buru-buru Naikkan Suku Bunga

Jumat, 5 Agustus 2022 | 15:43 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebaiknya tetap dipertahankan dalam level yang rendah yakni 3,5%. Lantaran kondisi perekonomian dalam negeri masih terpantau membaik dan menguat sehingga belum ada urgensi untuk bank sentral terburu-buru menaikkan suku bunganya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa  laju pemulihan ekonomi dalam negeri terus menguat dengan beberapa indikator diantaranya indeks keyakinan konsumen tercatat indeks keyakinan konsumen 128,2, kemudian indeks penjualan ritel 15,42 serta laju inflasi Juli tercatat 4,94% (yoy) dengan inflasi inti 2,86% (yoy) yang masih terjaga rendah.

Indikator lainnya dari sisi kredit perbankan tercatat tumbuh 10,66% (yoy) pada Juni 2022, dengan tingkat NPL terjaga pada level 2,86%. Kemudian pertumbuhan dana pihak ketiga jauh lebih tinggi sebesar 9,13% (yoy).

"Tingkat suku bunga acuan kita melihat dari inflasi yang mencapai 4,94% (yoy) dan inflasi inti sebesar 2,86% (yoy) sehingga angkanya masih rendah dan ekonominya masih recovery. Jadi, kami berharap tidak perlu terburu-buru (BI naikkan suku bunga acuan) apalagi dana pihak ketiga (DPK) terpantau masih
solid," ujarnya dalam Konferensi Pers terkait Kinerja Ekonomi Kuartal II, Jumat (5/8/2022).

Secara umum sejauh ini, Airlangga mengatakan ditengah ketidakpastian global, indikator sektor eksternal Indonesia relatif baik dan terkendali yang tercermin dari neraca perdagnagan sepanjang semester I mencapai US$ 24,89 miliar atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu tercatat US$ 11,84 miliar. Kemudian transaksi berjalan hingga kuartal I 0,07% terhadap PDB.

Baca juga: Airlangga: Ekonomi Indonesia Lebih Baik dari Negara Lain

"Kondisi nilai tukar rupiah pun dalam kondisi stabil dibawah Rp 15.000 per dolar AS dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diantara 6.500 hingga 7.000 dan cadangan devisa Juli pun terpantau masih tinggi sebesar US$ 132 miliar dan rasio utang turun dilevel 32% terhadap PDB," ucapnya.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia akan lebih mempertimbangkan kondisi dalam negeri seperti pertumbuhan inflasi inti dan ekonomi dan kenaikan Fed Fund Rate (FFR).

Meski suku bunga FFR saat ini yang sudah mencapai 2,25%-2,5% pada akhir Juli, maka tidak serta merta mendorong Bank Indonesia untuk ikut mengerek suku bunga acuannya.

"Tetapi dasar utama kebijakan suku bunga adalah didasarkan bagaimana perkiraan inflasi inti ke depan dan juga keseimbangan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian tidak secara otomatis kalau suku bunga negara lain (naik) maka suku bunga Bank Indonesia juga ikut naik, karena BI mempertimbangkan kondisi dalam negeri," ujarnya dalam Konferensi Pers KSSK Hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2022, Senin (1/8/2022).

Advertisement

Baca juga: Ekonomi RI Cetak Rekor, Rupiah Mantap Bertahan di Zona Hijau

Kedua, realisasi inflasi inti pada bulan Juli sebesar 2,86% (yoy) dinilainya masih rendah atau di bawah perkiraan BI sebesar 2,99% (yoy). Dengan mempertimbangkan inflasi inti yang masih rendah dan pertumbuhan ekonomi yang kian meningkat meskipun belum pulih sepenuhnya. Alhasil BI masih perlu dijaga dengan tidak menaikkan suku bunga acuan.

Ketiga, kebijakan moneter bukan hanya kebijakan suku bunga melainkan ada melalui stabilitas nilai tukar, dan mengelola likuiditas. Untuk saat ini kondisi pasar keuangan global yang meningkat telah menyebabkan terjadinya pelemahan rupiah, namun pelemahan mata uang terhadap dollar AS tidak hanya terjadi pada Indonesia melainkan juga terjadi di berbagai negara.

Bahkan dalam catatannya dolar indeks AS (DXY) pada tempo hari sempat menyentuh level 108 hingga 109 atau menjadi level terkuat sejak tahun  sekarang mulai menurun 106,5 yang merupakan dolar terkuat sejak 20 tahun terakhir atau 2022.  Tak hanya itu, depresiasi nilai tukar rupiah, dipastikannya lebih baik dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, India dan Filipina maupun Malaysia.

Baca juga: BPS: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2022 Masih Terpusat di Jawa

"Seluruh dunia mengalami tekanan nilai tukar, oleh karena itu, BI  tidak segan-segan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah melindungi ekonomi kita, inflasi kita dari tekanan global dengan melakukan intervensi dan karenanya kenapa nilai tukar (hari ini) relatif depresiasinya lebih rendah dari negara-negara yang lain," tegasnya.

Dengan demikian, BI berkomitmen untuk terus menjaga stabilisasi nilai tukar, melindungi ekonomi, dan inflasi dari tekanan dolar AS dan gejolak ekonomi global.

"Kami intervensi dan karenanya nilai tukar depresiasinya lebih rendah dari negara lain. Kami stabilitas ini sebagai bagian pengendalian inflasi," ungkapnya.

Selain itu Perry mengungkapkan, alasan BI mulai mengurangi likuiditas khususnya jangka pendek dengan alasan agar menjaga stabilitas tanpa mengganggu kemampuan perbankan membiayai kredit yang terus tumbuh.  

"Dalam operasi moneter, meskipun suku bunga BI Rate untuk 1 minggu tetap 3,5% suku bunga 2 minggu, 3 minggu, 1 bulan dan kemudian 6 bulan dan 12 bulan mulai agak naik," ujar dia.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN