Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad

INDEF: Indonesia “Beruntung” Capai Pertumbuhan Ekonomi 5,4% Kuartal II 2022

Jumat, 5 Agustus 2022 | 17:44 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai Indonesia beruntung bisa mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% di kuartal II tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi bisa mencapai di angka tersebut terjadi karena kenaikan konsumsi dan harga komoditas. Tetapi belanja pemerintah malah mengalami kontraksi.

“Kenapa beruntung? Karena pertumbuhan ekonomi bukan berasal dari belanja pemerintah. Kegiatan belanja pemerintah justru negatif . Situasi yang seolah-olah pemerintah beruntung karena konsumsi masyarakat meningkat saat lebaran, dan terjadi kenaikan harga komoditas,” ucap Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad saat dihubungi Investor Daily pada Jumat (5/8).

Advertisement

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) konsumsi rumah tangga tumbuh 5,51% dan memberikan andil 2,92% pada pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022. Kenaikan harga komoditas di global berdampak pada pertumbuhan ekspor yang mencapai 19,74% dan memberikan andil 2,14% pada pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022. Administrasi pemerintah mengalami kontraksi 1,73%. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kontraksi pada realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa .

“Menurut saya ini menjadi otokritik kenapa pertumbuhan ekonomi tumbuh tinggi sedangkan belanja pemerintah tumbuh negatif. Berarti ada masalah dari sisi belanja, pemerintah belum melakukan apa-apa tetapi ekonomi masyarakat sudah bergerak,” kata Tauhid.

Dia mengatakan saat ini sedang terjadi permasalahan geopolitik yang berpengaruh kepada harga komoditas. Menurut Tauhid untuk ke depannya akan terjadi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) karena dampak dari kenaikan harga komoditas. Hal tersebut bisa berdampak pada daya beli masyarakat. “Harga komoditas akan membuat masyarakat tertahan apalagi tidak ada momentum sama sekali pada kuartal III nanti,” ucap Tauhid.

Tauhid menuturkan harga beberapa komoditas bahan baku industri seperti besi baja dan plastik ini masih relatif tinggi. Hal ini bisa berdampak pada kenaikan inflasi. Kenaikan bahan baku juga berdampak pada industri pengolahan.

Dia menyarankan pemerintah untuk melakukan ekspansi fiskal, dalam hal ini pemerintah bisa melakukan realokasi belanja terhadap sektor-sektor produktif. Sebelumnya ekspansi fiskal dilakukan ke belanja subsidi, sehingga daya dorong ke perekonomian tidak terlalu besar. Pemerintah bisa melakukan realokasi belanja untuk sektor produktif misalnya ke pembangunan infrastruktur.

“Mau tidak mau ekspansi fiskal harus ditambah, realokasi beberapa anggaran yang memang penting untuk menciptakan pendapatan masyarakat misalnya melalui pembangunan infrastruktur yang bisa menyerap tenaga kerja jauh lebih besar,” ucap Tauhid.

Secara terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada kuartal II 2022 ini ekspor dan konsumsi berjalan baik. Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 5,4% dalam posisi inflasi yang relatif stabil. Walaupun dari sisi belanja pemerintah terjadi kontraksi.

“Belanja pemerintah mengalami kontraksi pada dua kuartal berturut-turut. Hal itu juga karena banyak hal, bukan karena porsi defisit yang mengecil tapi karena ability to spend yang masih sangat terbatas,” ucap Sri Mulyani dalam acara Soft Launching Buku PEN “Keeping Indonesia Safe From Covid-19” pada Jumat (5/8).

Dia mengatakan untuk melakukan penambahan belanja secara ekspansif harus dilakukan secara hati-hati. Dia menilai perekonomian Indonesia dalam posisi relatif baik sebab kondisi sisi permintaan dan penawaran tetap terjaga. “Inflasi memang tertahan karena kita juga memberi i banyak subsidi. Di negara lain barangkali inflasinya sudah sangat tinggi sementara recovery dari supply side juga enggak terlalu besar,” kata Sri Mulyani. (ark)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN