Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (11/11/2021). Foto ilustrasi:   BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (11/11/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

DPR Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,44% Modal Penting Hadapi Tekanan Eksternal

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:55 WIB
Yustinus Paat (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Ketua Badan Anggaran DPR MH Said Abdullah mengapresiasi pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2022 di level 5,44 persen (yoy), sehingga selama 1 semester di tahun 2022 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia secara akumulatif mencapai 5,23 persen.

"Pertumbuhan kuartal II 2022 tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi tekanan eksternal," ujar Said kepada wartawan, Sabtu (6/8/2022).

Advertisement

Disebutkan, sektor industri mulai bangkit paska pandemi yang tumbuh 4 persen (yoy). Naiknya berbagai harga komoditas juga mendorong pertumbuhan sektor pertambangan yang tumbuh 4 persen. Selain itu, capaian fantastis terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 21,27 persen. Padahal sektor ini saat pandemi tahun 2020. Sektor perdagangan, hotel, restoran, listrik dan gas semuanya tumbuh fantastis hingga 9 persen.

Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga dan Ekspor Topang Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2022

"Sektor-sektor ini kembali bergerak kembali karena keberhasilan kita mengendalikan pandemi Covid-19 sehingga mobilitas masyarakat pulih seperti sebelum pandemi. Tekanan eksternal yang sejak Perang Ukraina dan Rusia pecah pada akhir Februari  2022 terlihat masih terkelola dan termitigasi dengan baik oleh pemerintah," ungkap Said.

Said menuturkan, meskipun terdapat sedikit kenaikan inflasi, namun masih terkendali, yakni di level 4,4 persen. Menurut dia, posisi Indonesia tidak separah negara negara Eropa, Amerika Serikat, beberapa negara Timur Tengah dan Asia Timur. Dengan inflasi dan pandemi yang terkendali, maka membuat tingkat permintaan yang bertumpu pada konsumsi domestik, yakni pada rumah tangga tumbuh sangat baik di level 5,5 persen.

"Investasi juga menunjukan prestasi yang menggembirakan di tengah kencenderungan investor memilih jalan konservatif, menempatkan investasi mereka pada asset haven. Pertumbuhan konsumsi barang modal mencapai 3,07 persen. Selain itu kenaikan harga komoditas ekspor telah mendorong permintaan keluar lebih baik. Ekspor kita tumbuh 19,74 persen," terang dia.

Konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor yang tumbuh sangat baik, kata Said telah menjadi lokomotif permintaan (demand) ke berbagai lapangan usaha. Menurut dia, pencapaian di Kuartal II 2022 ini menjadi modal sangat baik menghadapi situasi ke depan yang tampaknya masih akan menghadapi tingginya harga komoditas.

Karena itu, Said berharap pemerintah tetap fokus ke depannya pada beberapa hal berikut ini. Pertama, mengupayakan semaksimal mungkin inflasi dan pandemi Covid-19 terkendali. 

"Memang harganya tidak murah, ongkos APBN 2022 sangat besar untuk menjaga daya beli rumah tangga, khususnya pada sektor makanan, dan transportasi sebagai core inflasi. Namun sejak awal APBN kita rancang sebagai shock absorber menghadapi tekanan eksternal, dan ancaman laten pandemi," katanya.

Kedua, tren kenaikan suku bunga acuan atas kebijakan The Fed berimplikasi kenaikan suku bunga surat utang Indonesia sehingga cost of fund akan semakin mahal. Menurut Said, keadaan ini bila terus berlanjut akan terus mengoreksi fiskal Indonesia karena beban pembayaran bunga utang akan terus naik.

"Ini pararel dengan tingginya subsidi dan kompensasi energi. Karena itu, pemerintah agar waspada dan membuat pembaharuan kalkulasi pada APBN 2022 bila gejala kenaikan suku bunga dan harga energi terus berlanjut," jelas dia 

Ketiga, sebagai negara importir minyak bumi, Indonesia memiliki kerentanan atas tren kenaikan harga minyak bumi. Said berharap pemerintah perlu terus mengambil langkah strategis untuk pengadaan impor minyak bumi serta memastikan sumber dan mekanisme pengadaan harus diawasi betul oleh aparat penegak hukum sehingga tidak menjadi alat perburuan rente. 

"Keempat, pemerintah perlu terus memastikan pelaksanaan di lapangan terkait pelaksanaan subsidi BBM, listrik dan LPG. Langkah langkah penyempurnaan kebijakan subsidi energi perlu terus diperbaiki tanpa menunda-nunda waktu di tengah kemendesakan agar subsidi tepat waktu dan sasaran," imbuh dia.

Kelima, tambah Said, meminta para kepala daerah dan seluruh tim pengendali inflasi daerah terus waspada dan aktif melakukan giat operasi pasar di daerahnya masing-masing. Kebijakan ini untuk mengantisipasi berbagai praktik curang berupa penimbunan berbagai barang komoditas yang menjadi hajat hidup orang banyak. 

"Keenam, gejala kenaikan angka Covid-19 tampak di beberapa wilayah, khususnya DKI Jakarta. Karena itu, langkah kewaspadaan tinggi oleh Satgas Covid-19 perlu terus dilakukan. Kita punya tantangan kemungkinan semakin abainya warga atas serangan Covid-19 karena telah merasa mendapatkan suntikan vaksin booster. Kenaikan Covid-19 di saat yang sama kita menghadapi tekanan eksternal akan membuat APBN kita lebih beresiko," pungkas Said.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN