Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad. Foto: IST

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad. Foto: IST

Kamrussamad : Daya Beli Masyarakat Tidak Boleh Menurun Jika Ingin Tetap Tumbuh 5%

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 08:23 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad memberikan saran agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 5% pada kuartal III dan IV Tahun 2022. Pertama, pemerintah harus memastikan daya beli masyarakat tidak menurun. Kunci menjaga pertumbuhan agar di atas 5% ada di stabilitas harga energi, BBM dan listrik. Kedua, perkuat kinerja ekspor.

“Kuartal III dan IV kita jangan mengharapkan windfall dari harga komoditas. Kita perlu masuk ke market ekspor baru dan membuka tujuan-tujuan baru,” kata Kamrussamad kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (5/8).

Dia memperkirakan target pertumbuhan ekonomi 5,2% pada 2022 akan tercapai. “Setidaknya pada angka 5%. Akan ada penurunan di kuartal III dan IV dikarenakan resesi AS dan konflik Ukraina-Rusia yang belum selesai. Namun masih di atas 5%,” jelasnya.

Anggota DPR-RI Komisi XI Kamrussamad
Anggota DPR-RI Komisi XI Kamrussamad

Terkait pertumbuhan Kuartal II/2022 yang bisa mencapai 5,44%, Kamrussamad mengatakan, berdasarkan catatannya pencapaian ini di atas prediksi Kementerian Keuangan yang menargetkan pertumbuhan5% pada kuartal II/2022.

“Sekarang yang kita capai 5,44% pada kuartal II-2022. Namun Perlu dilihat secara fundamental, apakah kualitas Pertumbuhan digerakkan oleh investasi sehingga Pembukaan Lapangan kerja baru dirasakan manfaatnya, jadi kemiskinan ekstrim menurun…? Ataukah Karena konsumsi Bulan ramadhan, dan lebaran idul Fitri serta Liburan anak sekolahan Pada pertengahan tahun ini..?,” ujarnya.

Faktor-faktor pendorong utama pertumbuhan 5,44% adalah seluruh faktor mendukung, kecuali belanja pemerintah yang masih minus.

“Yang terbesar terutama ekspor, tumbuh 19%, yang memperoleh windfall kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia di pasar global,” imbuhnya.

Dia mengingatkan masih ada dua kuartal lagi di tahun ini. Di dua kuartal pertama, lanjut dia, pertumbuhan bisa berhasil positif. Meski demikian, bukan berarti aman untuk dua kuartal ke-depan. “Tahun 2020, pernah kita di kuartal III tumbuh 5% namun di kuartal IV, negatif 0,4. Artinya tidak ada jaminan akan sebaik ini. Resesi AS, China, dan konflik Ukraina-Rusia masih berlangsung. Kita tidak tahu ada kondisi ekstrem apa kedepan,” ujarnya.

Ilustrasi ekspor dan impor. (Foto: Antara)
Ilustrasi ekspor dan impor. (Foto: Antara)

Lebih lanjut dia mengatakan, nilai tukar petani tumbuh 3,20%. Pinjaman konsumsi tumbuh 6,42%. Indeks penjualan eceran riil tumbuh 8,67%. Jumlah penduduk miskian juga relatif berkurang.

Persentase penduduk miskin pada Maret 2022, misalnya, sebesar 9,54%, menurun 0,17% poin terhadap September 2021 dan menurun 0,60% poin terhadap Maret 2021. “Kalau dilihat dari inidikator ini bisa dikatakan pertumbuhan ekonomi kita cukup inklusif,” imbuhnya.

Untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, lanjut dia, maka pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat agar terkendali. Sebab, kita memiliki pasar domestik yang besar dan ini penting untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.

“Terutama di tengah lonjakan harga komoditas dan krisis pangan serta energi. APBN harus menjadi penyangga dari tekanan resesi. Pemerintah juga harus memastikan program sosial berjalan tepat sasaran. Ini penting untuk menghindari lonjakan angka penduduk miskin,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,44% pada triwulan II-2022 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Dengan demikian kinerja ekonomi triwulan II-2022 sudah lebih tinggi daripada sebelum pandemi. Hal ini menandakan pemulihan ekonomi yang berlangsung sejak triwulan II-2021 terus berlanjut dan semakin menguat.

"Pertumbuhan ekonomi tahun ini meningkat secara persisten. Polanya mulai dari triwulan II-2021, triwulan III-2021, triwulan IV-2021, triwulan I-2022, dan triwulan II-2022 sekarang ini terus mengalami pertumbuhan," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat(5/8/2022).

Ia pun menjelaskan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% berasal dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).

Pada triwulan II-2022, PDB ADHB tercatat Rp4.919,9 triliun atau meningkat dari kuartal II-2021 yang sebesar Rp4.176,4 triliun. Begitu pula PDB ADHK yang membaik dari Rp2.772,9 triliun di kuartal II-2021 menjadi Rp2.923,7 triliun pada triwulan II-2022.

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quartal-to-quartal/qtq), Margo menyebutkan perekonomian domestik berhasil tumbuh sebesar 3,72%.

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN